google-site-verification: google50d34473960e8a7f.html Cakrawala Budaya: Media indonesia Online

Wedding

Wedding in Watamu
A dream come true location for your wedding celebration

Kamis, 08 April 2010

Media indonesia Online

Kebudayaan Non-Melayu dan Non-Jawa
Profil seorang gadis Sunda. Meski beragama Islam - salah satu ciri kebudayaan Melayu-masyarakat Sunda memiliki corak budaya yang berbeda dengan Melayu atau Jawa

Ada sementara pendapat mengatakan,bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan non-Melayu dan non-Jawa adalah kebudayaan yang dimiliki oleh ras lain, seperti China (ras Mongol), Eropa (ras Kaukasia), Afrika (ras Negro), dan sebagainya. Meskipun demikian di antara bangsa Indonesia sendiri ada beberapa sukubangsa yang tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan Melayu dan wilayah kebudayaan Jawa, karena tidak memiliki ciri-ciri kedua tipe kebudayaan tersebut seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Orang Sunda dapat dijadikan salah satu contoh sukubangsa yang tidak dapat digolongkan dalam kebudayaan Melayu atau kebudayaan Jawa. Walaupun orang Sunda beragama Islam, yang merupakan salah satu ciri kebudayaan Melayu, namun mereka memiliki corak kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan Melayu atau Jawa.

Demikian pula halnya dengan orang Lampung, mereka juga beragam Islam namun memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri. Beberapa pihak membedakan sukubangsa Lampung menjadi dua sub-sukubangsa, yakni orang Lampung yang beradat pepadun (Lampung Pepadun) dan orang Lampung yang beradat Saibatin atau Peminggir (Lampung Peminggir). Orang Lampung memiliki bahasa sendiri yang disebut behasou Lampung atau umung Lampung atau cewo Lampung. Bahasa ini masih dapat dibagi menjadi dua logat atau dialek, yaitu dialek Lampung Belalau dan dialek Lampung Abung; yang masing-masing dibedakan atas dasar pengucapan “a” dan “o”, sehingga biasanya juga disebut dialek “a” dan dialek “o”. Orang Lampung juga mempunyai aksara sendiri, yang biasa disebut surat Lampung.

Upacara naik Pepadun, Lampung. Acara adat pemberian gelar ini membedakan masyarakat Lampung menjadi dua sub suku bangsa yakni Lampung Pepadun dan Lampung Peminggir atau Lampung Saibitin, yang menjalankan adat Saibitin. Seperti halnya orang Sunda, masyarakat Lampung, meski beragama Islam, juga memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri

Selain itu di Indonesia terdapat kelompok sosial lain yang tidak secara langsung mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu, akan tetapi menggunakan salah satu dialek dari bahasa Melayu. Sebagai contoh, di tanah Minahasa ada sejumlah sub-sukubangsa Minahasa yang masing-masing menggunakan dialek tersendiri.
Sedangkan sebagai sarana komunikasi antar anggota sub-sukubangsa itu digunakan bahasa lain, yaitu bahasa Melayu Manado.

Ketiga bentuk kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan Melayu, Jawa, serta non-Melayu dan non-Jawa, sesungguhnya telah saling berinteraksi sejak dahulu kala, yaitu sejak adanya kontak antara kebudayaan-kebudayaan tersebut. Kepentingan-kepentingan hidup sosial, ekonomi, dan politik, telah menjadikan interaksi itu bervariasi, mulai dari sifatnya yang positif berupa kerjasama atau tolong-menolong sampai yang negatif berupa perselisihan dan peperangan.


"Barongsay", salah satu contoh kesenian berasal dari Kebudayaan Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan kesenian lokal. Salah satu contoh gedung di Indonesia yang arsitekturnya dipengaruhi gaya arsitektur Eropa

Masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut beriteraksi untuk kepentingan hidup yang paling azasi, bergaul untuk memenuhi hasrat sosial dan kebutuhan hidup mereka. Pergaulan antara individu-individu yang berlainan jenis biasanya berakhir dengan perkawinan. Dari perkawinan itu diperoleh keturunan yang disebut peranakan, misalnya peranakan China, peranakan India, peranakan Belanda (Indo), dan sebagainya.

Tidak semua interaksi antara anggota-anggota ketiga kebudayaan tersebut menghasilkan pembauran. Akan tetapi adanya pembauran memang berawal dari adanya interaksi. Interaksi yang relatif banyak menghasilkan pembauran ialah dengan bangsa India dan Arab yang beragama Islam. Interaksi sosial yang berawal dari aktivitas perdagangan dan penyebaran agama, banyak menyebabkan perkawinan antara masyarakat setempat dengan para pendatang. Dari perkawinan itu menghasilkan keturunan yang menyatu dengan masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut.


Ukiran kayu Banjarmasin bermotif kaligrafi. Pengaruh kebudayaan Arab yang islami sangat menonjol di Indonesia. Hal ini terjadi karena efektifnya penyesuaian budaya islam kedalam budaya lokal Indonesia Patung Budha di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Contoh bangunan monumental yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha yang berawal dari kebudayaan India.

Interaksi sudah barang tentu membawa pengaruh kepada kebudayaan setempat yang telah ada sebelumnya, dalam hal ini kebudayaan Melayu dan kebudayaan Jawa. Perubahan kebudayaan asing yang dibawa ke Indonesia oleh bangsa asing, telah dapat diterima dan diserap oleh kebudayaan setempat (pribumi). Sejak dahulu kala sampai saat ini banyak bangsa asing yang datang ke Indonesia, dengan demikian telah terjadi kontak kebudayaan sejak berabad-abad lamanya.
Orang-orang keturunan Arab di Indonesia misalnya, lebih mudah bergaul dengan penduduk pribumi Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya persamaan latar belakang keagamaan, yaitu agama Islam, yang dibawa para pedagang bangsa Gujarat dari India pada sekitar abad ke-15. Ajaran agama Islam menjadi efektif di Indonesia setelah melalui proses penyesuaian dengan budaya lokal.
Pengaruh kebudayaan Arab yang sangat menonjol di Indonesia dapat dilihat dari bentuk bangunan mesjid, penggunaan kata-kata dari bahasa Arab, serta dalam berbagai tradisi atau upacara adat yang bernafaskan agama Islam.
Kontak kebudayaan dengan bangsa India yang secara luas dapat dirasakan ialah berkembangnya kebudayaan Hindu dan Buddka di Indonesia. Bukti adanya kontak dengan kebudayaan India adalah adanya peninggalan sejarah purbakala, antara lain candi Prambanan dan Borobudur yang terkenal itu.

Dalam keanekaragaman suku, agama, adat-istiadat, rasa persatuan dan kesatuan tetap dijunjung tinggi. Bhinneka Tunggal Ika

Sastra suci Ramayana dan Mahabharata yang didasarkan pada agama Hindu mengilhami seniman-seniman Indonesia menciptakan kreasi wayang purwa yang tumbuh dan berkembang tidak hanya di Jawa, tapi dikenal hampir di seluruh Nusantara. Demikian pula dalam kehidupan kemasyarakatan, sistem kasta di India diterapkan dalam kebudayaan Bali, terutama untuk mengatur pembagian kerja, serta sistem pewarisan kedudukan dan peranan sosial secara geneologis.
Keberadaan bangsa-bangsa asing di Indonesia menambah keanekaragaman kebudayaan yang ada. Pada umumnya mereka berupaya untuk membaur dengan orang Indonesia melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengadakan perkawinan campur. Hasil perkawinan campur inilah menurunkan bangsa atau suku-bangsa campuran, seperti orang Mestizo di propinsi Timor Timur, orang China peranakan, atau orang “Indo”. Meskipun demikian mereka tetap merasa sebagai bangsa Indonesia, yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di bawah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Tidak ada komentar: