KEANEKA RAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DI INDONESIA 5.1 SITI S
Dari Crayonpedia
(Dialihkan dari Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia 5.1 Siti S)
Langsung ke: navigasi, cari
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
* 2 A. Persebaran Suku Bangsa di Indonesia
* 3 B. Keragaman Suku Bangsa Di Indonesia
* 4 C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia
* 5 D. Sikap Menghormati Budaya Bangsa Indonesia
Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
Image:Indonesia quw.jpg
Perbedaan adalah sesuatu yang alami dan wajar. Pernahkah kalian mengamati tentang sekeliling kalian? Adakah perbedaan atau persamaan di antara kalian dan teman yang lain? Dalam satu kelas, mungkin ada anak yang berambut keriting, berkulit putih, cokelat atau hitam. Perbedaan warna kulit atau bentuk fisik jangan dijadikan sumber perpecahan. Indonesia adalah negara yang kaya akan ragam budaya dan suku bangsa. Ada suku Bali, Jawa, Banjar, Madura, Toraja, dan sebagainya. Setiap suku bangsa memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Semua itu merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Kita akan mempelajari bagaimana keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. Kita dapat mengetahui suku bangsa apa saja yang hidup di Indonesia. Kekayaan suku bangsa dan budaya di Indonesia sangat beragam. Marilah kita mengenal satu persatu kekayaan budaya bangsa, agar kita dapat lebih mencintai bangsa Indonesia.
A. Persebaran Suku Bangsa di Indonesia
Tahukah kalian dari mana asal nenek moyang kita? Mari kita simak berikut ini. Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, yang salah satunya adalah bangsa Melayu. Berdasarkan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bangsa Melayu dibedakan menjadi dua, yaitu Melayu Tua dan Melayu Muda. Melayu Tua di antaranya, suku Batak (sekitar Danau Toba), suku Dayak (di pedalaman Kalimantan), dan suku Toraja (Sulawesi Tengah). Melayu Muda di antaranya, Minangkabau (Sumatra Barat), Jawa, Sunda, Bali, Makassar, Buton (Sulawesi Selatan), dan suku Bugis. Selain suku-suku tersebut, ada juga suku bangsa keturunan, seperti Arab, Tionghoa, India, dan Eropa. Di Indonesia, terdapat beraneka ragam suku bangsa yang tersebar ke seluruh penjuru tanah air.
Di antara suku-suku tersebut, ada yang masih hidup secara bersahaja dan ada yang sudah mengalami kemajuan dengan peradaban yang maju. Tetapi ada juga yang masih primitif dan hidup secara berkelompok di pedalaman. Mereka cenderung tertutup dan masih sulit menerima budaya dari luar. Hal tersebut terjadi karena tempat tinggal mereka jauh di perkampungan yang terpencil sehingga sulit terjangkau kemajuan teknologi. Berbeda dengan suku-suku bangsa yang kehidupannya sudah maju, mereka cenderung lebih terbuka dengan kemajuan teknologi, dan lebih mudah menerima budaya dari luar suku mereka.
B. Keragaman Suku Bangsa Di Indonesia
Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Tentunya banyak sekali perbedaan yang ada. Ada yang berbeda warna kulit, bentuk fisik, dan budayanya. Perbedaan jangan dipermasalahkan. Justru dengan adanya perbedaan tersebut, kita jadikan suatu kekayaan sehingga tercipta suasana yang aman, tenteram, dan harmonis. Sikap menghormati adalah sikap menghargai dan mengakui keberadaan harkat dan martabat manusia meski berbeda-beda suku bangsa. “Bhinneka Tunggal Ika” yang terdapat pada pita Burung Garuda Pancasila lambang Negara Indonesia mengandung arti “Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.” Ada juga semboyan yang menyatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Makna dari semboyan tersebut adalah supaya kita bersatu padu menghalau semua ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita. Dalam sejarah, bangsa kita telah berhasil mengusir penjajah dari bumi Nusantara karena adanya persatuan dan kesatuan para pemuda dari seluruh Nusantara.
Image:pakaian adat indonesia.jpg
Contoh sikap menghormati, di antaranya tidak merendahkan suku bangsa lain, menghargai suku bangsa lain, dan mengakui keberadaan suku bangsa lain, serta tidak mengusik perbedaan antarsuku bangsa. Manfaat sikap menghormati antarsuku bangsa adalah sebagai berikut. 1. Tercipta kehidupan yang rukun dan damai. 2. Merasa aman tinggal di negara Indonesia. 3. Rasa persatuan dan kesatuan meningkat. 4. Tidak mudah terpecah belah oleh pihak lain. Akibat tidak menghormati antarsuku bangsa adalah sebagai berikut. 1. Tidak ada keamanan dan kedamaian. 2. Timbul perpecahan dan permusuhan. 3. Tidak ada persatuan dan kesatuan. 4. Mudah terpecah belah. Dengan kita saling menghormati suku bangsa lain, maka kita dapat hidup damai, tenteram secara berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan dari mana kita berasal.
C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia
Kalian sudah mengetahui ada bermacam-macam suku bangsa yang ada di negara kita, bukan? Keanekaragaman suku bangsa tentu juga menjadikan beranekaragamnya budaya yang ada. Setiap suku bangsa memiliki budaya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Keragaman suku bangsa yang kita miliki merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya dan dapat memperkokoh persatuan bangsa. Hal ini merupakan kekuatan untuk membangun bangsa menjadi bangsa yang besar. Kita tidak boleh membeda-bedakan suku bangsa yang dapat mengakibatkan perselisihan dan kekacauan bangsa kita.
Image:keanekaragaman budaya indonesia.jpg
Bentuk keragaman budaya di Indonesia, di antaranya sebagai berikut. 1. Bahasa Daerah Setiap suku bangsa, memiliki bahasa sendiri. Contoh: bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa Sunda, bahasa Minangkabau, bahasa Bali, dan bahasa Banjar. 2. Adat Istiadat Adat istiadat meliputi tata cara dalam upacara perkawinan, upacara keagamaan, kematian, kebiasaan, dan pakaian adat. 3. Kesenian Daerah Kesenian daerah, meliputi seni tari, rumah adat, lagu daerah, seni musik dan alat musik daerah, cerita rakyat, serta seni pertunjukan daerah.
Image:tari serindi.jpg
4. Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan meliputi sebagai berikut. a. Sistem keturunan menurut garis ayah (patrilineal), di antaranya Batak, Bali, dan Papua. b. Sistem keturunan menurut garis ibu (matrilineal), di antaranya suku Minangkabau. c. Sistem keturunan menurut garis ayah dan ibu (bilateral). Berikut ini adalah tabel kekayaan budaya bangsa kita di beberapa provinsi yang ada di Indonesia.
Image:tabel kekayaan indonesia.jpg
D. Sikap Menghormati Budaya Bangsa Indonesia
Keanekaragaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Sebagai contoh, salah satu suku di Indonesia, yaitu suku Jawa mempunyai nilai budaya, seperti adat istiadat, bahasa Jawa, tarian daerah, nyanyian daerah, rumah adat, dan pakaian adat. Demikian pula dengan daerah lain dan suku-suku bangsa yang lainnya. Keanekaragaman kebudayaan daerah yang satu dengan yang lain menjadikan Indonesia penuh warna dan keindahan yang dapat dinikmati. Dengan keindahan tersebut, banyak wisatawan dari mancanegara yang datang untuk menikmatinya. Keanekaragaman budaya daerah akan memperkaya kebudayaan nasional. Hal inilah yang harus dibanggakan. Untuk menunjukkan rasa bangga tersebut kita harus melestarikannya.
Image:tari daerah.jpg
Sikap menghormati budaya bangsa dapat dilakukan dengan cara-cara berikut. 1. Bangga dengan kebudayaan daerah ataupun kebudayaan nasional. 2. Melestarikan nilai-nilai budaya yang telah ada. 3. Menghormati kebudayaan daerah bangsa Indonesia. 4. Tidak menjelek-jelekkan kebudayaan suku bangsa lain. 5. Lebih senang dengan kebudayaan nasional daripada budaya luar negeri.
Beri Penilaian
* Currently 3.33/5
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
Rating : 3.3/5 (6 votes cast)
Diperoleh dari "http://www.crayonpedia.org/mw/KEANEKA_RAGAMAN_SUKU_BANGSA_DAN_BUDAYA_DI_INDONESIA_5.1_SITI_S"
Kategori: IPS 5.1
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
* Print sebagai PDF
* chat
Peralatan pribadi
* Masuk log / buat akun
Navigasi
* Halaman Utama
* Portal komunitas
* Peristiwa terkini
* Perubahan terbaru
* Halaman sembarang
* Bantuan
* Org. Pendukung
* Donasi
Pencarian
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Pemuatan
* Halaman istimewa
* Versi cetak
* Pranala permanen
* Print sebagai PDF
Share This!
* Add to BlogMarksBlogMarks
* Add to del.icio.usdel.icio.us
* Add to diggdigg
* Add to FacebookFacebook
* Add to smarkingsmarking
* Add to SpurlSpurl
* Add to TwitterTwitter
* Add to WistsWists
Powered by MediaWiki
* Halaman ini terakhir diubah pada 14:39, 26 Agustus 2009.
* Halaman ini telah diakses sebanyak 369 kali.
* Kebijakan privasi
* Perihal Crayonpedia
* Penyangkalan
Wedding
Minggu, 25 April 2010
Minggu, 18 April 2010
komunitas Online Ponorogo
Choose Language
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Choose Language
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Copyrights © 2010 by ponorogo-tourism.com
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Choose Language
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Copyrights © 2010 by ponorogo-tourism.com
Kamis, 08 April 2010
Pawai Budaya
Pawai Budaya: Keanekaragaman Budaya, Pilar Kekuatan Bangsa
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Selasa, 18 Agustus 2009 | 21:13 WIB
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
Salah satu peserta pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI, Selasa (18/8).
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
PAWAI Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke -64, Selasa (18/8) di Jakarta, memukau ribuan penonton yang memadati pinggir jalan, mulai dari depan Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jalan Merdeka Barat, hingga ke Taman Silang Monas. Peserta pawai dari Provinsi Bali, Sulawesi Barat, dan Jawa Timur dinyatakan sebagai tim terbaik, pemenang tanpa peringkat.
"Dengan menyaksikan Pawai Budaya Nusantara itu, saya menjadi tahu kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yang sebagian besar belum pernah saya kunjungi daerahnya. Hal ini membuat saya makin cinta budaya Indonesia," kata Sintya, wisatawan dari Medan, Sumatera Utara.
Tidak hanya warga DKI Jakarta dan wisatawan nusantara yang tertarik dan terpukau dengan penampilan ragam budaya dari berbagai daerah, tetapi juga turis mancanegara. "Dengan saksikan pawai budaya, saya menjadi tahu keunikan budaya Indonesia, yang tidak ditemui di negara lain di dunia," kata Stevan Edward, wisatawan dari Amerika Serikat.
Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Tjetjep Suparman mengatakan, segala potensi, kekayaan, dan keanekaragaman budaya Indonesia merupakan salah satu pilar kekuatan bangsa. "Dengan potensi budaya yang sangat beraneka ragam itulah peluang Indonesia untuk mengembangkan kekuatan ekonomi baru melalui industri kreatif yang berbasis pada budaya akan berjalan dengan baik," katanya.
Menurut Tjetjep Suparman yang juga Ketua III Bidang Seni dan Budaya Panitia Nasional Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-64, Pawai Budaya Nusantara melibatkan seluruh provinsi, dengan tiga tema, yakni kebebasan, kreativitas, dan kemandirian. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebinekaan menjadi kekuatan yang harmonis serta memberikan rasa damai, tentram, dan nyaman bagi seluruh masyarakat, sekaligus sebagai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Bangsa ini memerlukan banyak kekuatan untuk mempertahankan keberadaan dan masa depan yang penuh tantangan dan hambatan yang memerlukan kearifan untuk menanggulanginya. Potensi dan ragam budaya yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia memerlukan kekayaan sekaligus kekuatan yang tidak ternilai. Melalui pemahaman dan penanaman nilai-nilai budaya, sesama warga masyarakat saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain, yang berujung pada terpeliharanya integritas nasional.
"Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan bidang seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan dan ragam potensi budaya yang tersebar luas di seluruh Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling mengenal, memahami, dan menghargai nilai-nilai budaya serta kearifan lokalnya masing-masing sehingga keberadaan dan peran kebudayaan semakin penting dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," paparnya.
Pawai mengambil tema "Indonesia Kreatif Menunju Bangsa Mandiri". Tema tersebut menggambarkan bahwa kemerdekaan yang telah diraih memberi peluang kreativitas menuju bangsa mandiri, mampu bertahan dan merespons perkembangan peradaban, serta unggul dalam pergaulan antarbangsa. Prosesi pawai yang ditampilkan bersumber dari puncak-puncak kreativitas daerah yang merefleksikan orisinalitas, kemandirian, dan kearifan lokal.
Pada pawai yang diikuti sebanyak 3.315 wakil dari 33 provinsi itu, panitia menetapkan tiga peserta terbaik, yaitu Bali, menampilkan Parade Barong Witning Puja Menuju Indonesia Jaya. Sementara itu, Sulawesi Barat menampilkan Sibaliparrig, dan Jawa Timur menampilkan Pesona Banyuwangi.
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
Dibaca : 2403
Sent from Indosat BlackBerry powered by
Font: A A A
*
*
*
*
*
*
*
*
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
*
bagus
Selasa, 18 Agustus 2009 | 22:44 WIB
Walau saya sudah wna, tapi etap bangga jadi orang indonesia dan tetap mencintai budayanya dan kami bersama teman punya grup tari. Ayo kita galakkan lagi kesenian Indonesia, jangan sampe i curi oleh negara tetangga.
Balas tanggapan
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Kirim Batal
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Rubrik: Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Kesehatan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi
Situs: KOMPAS.comBolaEntertainmentGamesTeknoOtomotifFemalePropertiForumKompasianaImagesMobileKompas CetakePaperKompasKarierPasangIklanGramediaShop
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8
© 2008 - 2009 KOMPAS.com — All rights reserved
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Selasa, 18 Agustus 2009 | 21:13 WIB
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
Salah satu peserta pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI, Selasa (18/8).
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
PAWAI Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke -64, Selasa (18/8) di Jakarta, memukau ribuan penonton yang memadati pinggir jalan, mulai dari depan Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jalan Merdeka Barat, hingga ke Taman Silang Monas. Peserta pawai dari Provinsi Bali, Sulawesi Barat, dan Jawa Timur dinyatakan sebagai tim terbaik, pemenang tanpa peringkat.
"Dengan menyaksikan Pawai Budaya Nusantara itu, saya menjadi tahu kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yang sebagian besar belum pernah saya kunjungi daerahnya. Hal ini membuat saya makin cinta budaya Indonesia," kata Sintya, wisatawan dari Medan, Sumatera Utara.
Tidak hanya warga DKI Jakarta dan wisatawan nusantara yang tertarik dan terpukau dengan penampilan ragam budaya dari berbagai daerah, tetapi juga turis mancanegara. "Dengan saksikan pawai budaya, saya menjadi tahu keunikan budaya Indonesia, yang tidak ditemui di negara lain di dunia," kata Stevan Edward, wisatawan dari Amerika Serikat.
Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Tjetjep Suparman mengatakan, segala potensi, kekayaan, dan keanekaragaman budaya Indonesia merupakan salah satu pilar kekuatan bangsa. "Dengan potensi budaya yang sangat beraneka ragam itulah peluang Indonesia untuk mengembangkan kekuatan ekonomi baru melalui industri kreatif yang berbasis pada budaya akan berjalan dengan baik," katanya.
Menurut Tjetjep Suparman yang juga Ketua III Bidang Seni dan Budaya Panitia Nasional Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-64, Pawai Budaya Nusantara melibatkan seluruh provinsi, dengan tiga tema, yakni kebebasan, kreativitas, dan kemandirian. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebinekaan menjadi kekuatan yang harmonis serta memberikan rasa damai, tentram, dan nyaman bagi seluruh masyarakat, sekaligus sebagai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Bangsa ini memerlukan banyak kekuatan untuk mempertahankan keberadaan dan masa depan yang penuh tantangan dan hambatan yang memerlukan kearifan untuk menanggulanginya. Potensi dan ragam budaya yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia memerlukan kekayaan sekaligus kekuatan yang tidak ternilai. Melalui pemahaman dan penanaman nilai-nilai budaya, sesama warga masyarakat saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain, yang berujung pada terpeliharanya integritas nasional.
"Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan bidang seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan dan ragam potensi budaya yang tersebar luas di seluruh Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling mengenal, memahami, dan menghargai nilai-nilai budaya serta kearifan lokalnya masing-masing sehingga keberadaan dan peran kebudayaan semakin penting dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," paparnya.
Pawai mengambil tema "Indonesia Kreatif Menunju Bangsa Mandiri". Tema tersebut menggambarkan bahwa kemerdekaan yang telah diraih memberi peluang kreativitas menuju bangsa mandiri, mampu bertahan dan merespons perkembangan peradaban, serta unggul dalam pergaulan antarbangsa. Prosesi pawai yang ditampilkan bersumber dari puncak-puncak kreativitas daerah yang merefleksikan orisinalitas, kemandirian, dan kearifan lokal.
Pada pawai yang diikuti sebanyak 3.315 wakil dari 33 provinsi itu, panitia menetapkan tiga peserta terbaik, yaitu Bali, menampilkan Parade Barong Witning Puja Menuju Indonesia Jaya. Sementara itu, Sulawesi Barat menampilkan Sibaliparrig, dan Jawa Timur menampilkan Pesona Banyuwangi.
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
Dibaca : 2403
Sent from Indosat BlackBerry powered by
Font: A A A
*
*
*
*
*
*
*
*
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
*
bagus
Selasa, 18 Agustus 2009 | 22:44 WIB
Walau saya sudah wna, tapi etap bangga jadi orang indonesia dan tetap mencintai budayanya dan kami bersama teman punya grup tari. Ayo kita galakkan lagi kesenian Indonesia, jangan sampe i curi oleh negara tetangga.
Balas tanggapan
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Kirim Batal
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Rubrik: Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Kesehatan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi
Situs: KOMPAS.comBolaEntertainmentGamesTeknoOtomotifFemalePropertiForumKompasianaImagesMobileKompas CetakePaperKompasKarierPasangIklanGramediaShop
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8
© 2008 - 2009 KOMPAS.com — All rights reserved
indonsia
Indonesia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Perlindungan dari pemindahan
Untuk kegunaan lain dari Indonesia, lihat Indonesia (disambiguasi).
"RI" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari RI, lihat RI (disambiguasi).
Republik Indonesia
Bendera Lambang
Motto: Bhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: "Berbeda-beda tetapi tetap Satu")
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaan: Indonesia Raya
Ibu kota
(dan kota terbesar) Jakarta
6°10.5′S 106°49.7′E / 6.175°LS 106.8283°BT / -6.175; 106.8283
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik presidensial
- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
- Wakil Presiden Boediono
- Ketua MPR Taufik Kiemas
- Ketua DPR Marzuki Alie
- Ketua DPD Irman Gusman
Kemerdekaan dari Belanda
- Diproklamasikan 17 Agustus 1945
- Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
- Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
- Total 1,904,569 km2 (15)
- Air (%) 4,85%
Penduduk
- Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833[1] (4)
- Sensus 2000 206.264.595
- Kepadatan 134/km2 (84)
PDB (KKB) Perkiraan 2009
- Total Rp. 8,576 triliun
(AS$ 909 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 37,538 juta
(AS$ 3,979)[2]
PDB (nominal) Perkiraan 2009
- Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 511 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 21.113 juta
(AS$ 2,238)[2]
IPM (2006) Green Arrow Up Darker.svg 0.734[3] (menengah) (111)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Domain internet .id
Kode telepon +62
lihat • bicara • sunting
Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[4] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Etimologi
Lihat pula: Sejarah nama Indonesia
Kata "Indonesia" berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau".[5] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.[6] Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu".[7] Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India.[8] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).[9]
Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.[9] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau di tahun 1913.[6]
Sejarah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Indonesia
Lihat pula: Sejarah Nusantara
Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki "Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.[10] Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan.[11] Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM,[12] menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad.[13] Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.[14]
Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.
Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan.[15] Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.[16]
Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[17] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[18] Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.
Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel
Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[19] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.
Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.
Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.
Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai 'aksi kepolisian' (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.[20] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia ("Konfrontasi"),[21] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.
Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia
Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.
Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil "Mafia Berkeley".[22] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.
Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[23] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.
Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.
Politik dan pemerintahan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Indonesia
Gedung MPR-DPR.
Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.
Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen.[24] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufik Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.
Pembagian administratif
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Provinsi Indonesia
Indonesia provinces blank map.svg
Aceh
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Kep.
Riau
Kep. Bangka
Belitung
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Banten
DKI Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur
Bali
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan
Barat
Kalimantan
Tengah
Kalimantan
Timur
Kalimantan
Selatan
Sulawesi
Utara
Maluku
Utara
Sulawesi
Tengah
Gorontalo
Sulawesi
Barat
Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Tenggara
Maluku
Papua
Barat
Papua
Indonesia saat ini terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi kabupaten dan kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan walikota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.
Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[25] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[26] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[27] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[28]
Provinsi di Indonesia dan ibukotanya
Sumatera
* Aceh - Banda Aceh
* Sumatera Utara - Medan
* Sumatera Barat - Padang
* Riau - Pekanbaru
* Kepulauan Riau - Tanjung Pinang
* Jambi - Jambi
* Sumatera Selatan - Palembang
* Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang
* Bengkulu - Bengkulu
* Lampung - Bandar Lampung
Jawa
* Daerah Khusus Ibukota Jakarta - Jakarta
* Banten - Serang
* Jawa Barat - Bandung
* Jawa Tengah - Semarang
* Daerah Istimewa Yogyakarta - Yogyakarta
* Jawa Timur - Surabaya
Kepulauan Sunda Kecil
* Bali - Denpasar
* Nusa Tenggara Barat - Mataram
* Nusa Tenggara Timur - Kupang
Kalimantan
* Kalimantan Barat - Pontianak
* Kalimantan Tengah - Palangkaraya
* Kalimantan Selatan - Banjarmasin
* Kalimantan Timur - Samarinda
Sulawesi
* Sulawesi Utara - Manado
* Gorontalo - Gorontalo
* Sulawesi Tengah - Palu
* Sulawesi Barat - Mamuju
* Sulawesi Selatan - Makassar
* Sulawesi Tenggara - Kendari
Maluku
* Maluku - Ambon
* Maluku Utara - Ternate
Papua
* Papua Barat - Manokwari
* Papua - Jayapura
Geografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Indonesia
Lihat pula: Peta Asia dan Jumlah pulau di Indonesia
Sebuah air terjun, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur
Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara[29] yang memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[30], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut,[31] searah penjuru mata angin, yaitu:
Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km[30], Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km[30], Timor Leste, dan Samudra Pasifik
Sumber daya alam
Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km[32]
Ekonomi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Indonesia
Uang rupiah
Protes melawan IMF, organisasi yang terlibat dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, di Jakarta.
Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.[33]
Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.[33] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.[33] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,[33] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997[34] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[35] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.
Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut.[36] Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam mempengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.[37][38] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.[39]
Gedung pusat Bank Indonesia.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.[40] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%.[41] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.[42]
Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.
Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.[43]
Peringkat internasional
Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157[44]
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111[45]
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168[46]
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179[47]
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177[48]
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122[49]
Demografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Indonesia
Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta,[50] dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta.[4] 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada.[51] Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.
Masjid Islamic Center Samarinda di Samarinda, Kalimantan Timur.
Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa.[52] Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.
Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.[40] Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.[53]
Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
l • b • s
Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 8.839.247 Indonesia
Indonesia 7 Semarang Jawa Tengah 1.352.869
2 Surabaya Jawa Timur 2.611.506 8 Depok Jawa Barat 1.339.263
3 Bandung Jawa Barat 2.288.570 9 Palembang Sumatra Selatan 1.323.169
4 Medan Sumatra Utara 2.029.797 10 Tangerang Selatan Banten 1.241.441
5 Bekasi Jawa Barat 1.940.308 11 Makassar Sulawesi Selatan 1.168.258
6 Tangerang Banten 1.451.595 12 Bogor Jawa Barat 891.467
Sumber: [3]
Kebudayaan dan warisan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Indonesia
Pertunjukan
Wayang kulit warisan budaya Jawa.
Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.
Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.
Busana
Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.
Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[54] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatra Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.
Arsitektur
Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.
Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.
Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.
Olahraga
Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008
Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.[55]
Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas[56], dan Chris John[57].
Seni musik
Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,[58] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Seperangkat gamelan
Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia 'dicuri' oleh negara lain[59] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:
* Angklung
* Bende
* Calung
* Dermenan
* Gamelan
* Gandang Tabuik
* Gendang Bali
* Gondang Batak
* Gong Kemada
* Gong Lambus
* Jidor
* Kecapi Suling
* Kulcapi Batak
* Kendang Jawa
* Kenong
* Kulintang
* Rebab
* Rebana
* Saluang
* Saron
* Sasando
* Serunai
* Seurune Kale
* Suling Lembang
* Sulim Batak
* Suling Sunda
* Talempong
* Tanggetong
* Tifa, dan sebagainya
Boga
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar masakan Indonesia
Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.
Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya.[60] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.[61]
Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.
Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu. Nasi rames yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran sangat minimalis dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima.
Terdapat pula aneka makanan yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau tanggungan. Pedagang keliling ini menyajikan mie ayam, mi bakso, soto, siomay, roti burger, nasi goreng, nasi uduk, dan lain-lain.
Perfilman
Poster film Tjoet Nja' Dhien, pahlawan nasional Indonesia asal Aceh
Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Di masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Diantara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949). Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya.
Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia,[62] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an. Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat.[62] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film paling laris sepanjang sejarah.
Kesusastraan
Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[63] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[64] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[65] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[66] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.
Ekologi
Kasuari, salah satu burung khas dari Pulau Papua.
Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah "Mega biodiversity" atau "keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi"[67][68] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [69]
Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara
Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[70] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.[71]
Rujukan
1. ^ Jam penduduk Indonesia
2. ^ a b c d International Monetary Fund (October 2009). World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada 30 November.
3. ^ HDR Stats
4. ^ a b Badan Pusat Statistik Indonesia (1 September 2006). Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005–2006 (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[26 September 2006]].
5. ^ Tomascik, T; Mah, J.A., Nontji, A., Moosa, M.K. (1996). The Ecology of the Indonesian Seas - Part One. Hong Kong: Periplus Editions Ltd.. ISBN 962-593-078-7.
6. ^ a b Anshory, Irfan, "Asal Usul Nama Indonesia", Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
7. ^ Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 119.
8. ^ Logan, James Richardson (1850). "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 4, 252–347.; Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 254, 277–278.
9. ^ a b Justus M. van der Kroef (1951). "The Term Indonesia: Its Origin and Usage". Journal of the American Oriental Society 71 (3): 166–171. DOI:10.2307/595186.
10. ^ Pope (1988). "Recent advances in far eastern paleoanthropology". Annual Review of Anthropology 17: 43–77. DOI:10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309–312. ; Pope, G (15 Agustus, 1983). "Evidence on the Age of the Asian Hominidae". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 80 (16): 4,988–4992. DOI:10.1073/pnas.80.16.4988. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309. ; de Vos, J.P., P.Y. Sondaar, (9 Desember 1994). "Dating hominid sites in Indonesia" (PDF). Science Magazine 266 (16): 4, 988–4992. DOI:10.1126/science.7992059. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309.
11. ^ Taylor (2003), hal. 5–7
12. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 8–9. ISBN 0-300-10518-5.
13. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 15–18. ISBN 0-300-10518-5.
14. ^ Taylor (2003), hal. 3, 9, 10–11, 13, 14–15, 18–20, 22–23; Vickers (2005), hal. 18–20, 60, 133–134
15. ^ Taylor (2003), hal. 22–26; Ricklefs (1991), hal. 3
16. ^ Peter Lewis (1982). "The next great empire". Futures 14 (1): 47–61. DOI:10.1016/0016-3287(82)90071-4.
17. ^ *Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Oktober 2000, xliv + 299 halaman
18. ^ Wright, Louis B. (7 April 1970). Gold, Glory, and the Gospel: The Adventurous Lives and Times of the Renaissance Explorers. New York: Atheneum.
19. ^ Ricklefs, M.C. (7 April 1991). A History of Modern Indonesia since c.1300. London: MacMillan. hal. 151. ISBN 0-33-579690-X.
20. ^ ZWEERS, L. (7 April 1995). Agressi II: Operatie Kraai. De vergeten beelden van de tweede politionele actie. Den Haag: SDU uitgevers.
21. ^ van der Bijl, Nick. Confrontation, The War with Indonesia 1962—1966, (London, 2007) ISBN 978-1-84415-595-8
22. ^ Wibowo, Sigit, Sjarifuddin. Ekonomi Indonesia Gagal karena Mafia Berkeley, Harian Umum Sore Sinar Harapan. Copyright © Sinar Harapan 2003. Diakses: Selasa, 6 Agustus 2008.
23. ^ Laporan dari Carter Center. The Carter Center 2004 Indonesia Election Report (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[29 Juli 2008]].
24. ^ (PDF) Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. 13 Desember 2006. http://www.gtzsfdm.or.id/documents/laws_n_regs/con_decree/3_AmdUUD45_eng.pdf.
25. ^ Michelle Ann Miller (2004). "The Nanggroe Aceh Darussalam law: a serious response to Acehnese separatism?". Asian Ethnicity 5 (3): 333–351. DOI:10.1080/1463136042000259789.
26. ^ Dewan Perwakilan Rakyat (1999). Bab XIV Other Provisions, Pasal 122; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di DaerahPDF (146 ). Presiden Indonesia (1974). Bab VII Aturan Peralihan, Pasal 91
27. ^ Dursin, Richel; Kafil Yamin, "Another Fine Mess in Papua", Editorial, The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.; "Papua Chronology Confusing Signals from Jakarta", The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
28. ^ Burr, W.; Evans, M.L. Ford and Kissinger Gave Green Light to Indonesia's Invasion of East Timor, 1975: New Documents Detail Conversations with Suharto. National Security Archive Electronic Briefing Book No. 62. National Security Archieve, Universitas George Washington, Washington, D.C.. Diakses pada 17 September 2006
29. ^ Dotinga, Harm; Netherlands Institute for the Law of the Sea (2000). International organizations and the law of the sea: documentary yearbook, Vol 14. Martinus Nijhoff Publishers. hal. 960. ISBN 9041113452, 9789041113450.
30. ^ a b c International Monetary Fund. Estimate World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].; Indonesia Regions. Indonesia Business Directory. Diakses pada 24 April 2007
31. ^ Article 55, 1982 UN Convention on the Law of The Sea.
32. ^ World Bank (1994). A World Bank country study Country Studies: Indonesia: environment and development. World Bank Publications. ISBN 0821329502, 9780821329504.
33. ^ a b c d Schwarz, A. (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Westview Press. ISBN 1-86373-635-2, halaman 52–57.
34. ^ (2006). Indonesia: Country Brief. Indonesia:Key Development Data & Statistics. Bank Dunia.
35. ^ (14 September 2006)"Poverty in Indonesia: Always with them". The Economist Diakses pada 26 Desember 2006.
36. ^ Indonesia: Forecast. Country Briefings. The Economist.
37. ^ Badan Pusat Statistik Indonesia (2 Desember 2008). Beberapa Indikator Penting Mengenai Indonesia (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[18 Maret 2008]].
38. ^ Ridwan Max Sijabat. "Unemployment still blighting the Indonesian landscape", The Jakarta Post, 23 Maret 2007.
39. ^ Bank Dunia. Making the New Indonesia Work for the Poor - Overview (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[26 Desember 2006]].
40. ^ a b Indonesia - The World Factbook.
41. ^ Official Statistics and its Development in Indonesia. (PDF) Sub Committee on Statistics: First Session 18–20 February, 2004. Economic and Social Commission for Asia & the Pacific.
42. ^ Indonesia at a Glance. (PDF) Indonesia Development Indicators and Data. Bank Dunia.
43. ^ (2007). Indeks Persepsi Korupsi. Transparency International. Diakses pada 28 September 2007
44. ^ Index of Economic Freedom. The Heritage Foundation & The Wall Street Journal. Diakses pada 1 Juli 2008
45. ^ The Economist Intelligence Unit’s Quality-of-Life Index. (PDF) The Economist. Diakses pada 12 September 2007
46. ^ Worldwide Press Freedom Index 2006. (PDF) Reporters Without Borders. Diakses pada 1 Juli 2008
47. ^ cpi 2007 table. Transparency International. Diakses pada 1 Juli 2008
48. ^ Human Development Reports: Indonesia. United Nations Development Programme. Diakses pada 1 Juli 2008
49. ^ Global Competitiveness Index rankings and 2006–2007 comparisons. (PDF) World Economic Forum. Diakses pada 1 Juli 2008
50. ^ Indonesian Central Statistics Bureau (30 Juni 2000). 2000 Population Statistics. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].
51. ^ Calder, Joshua Most Populous Islands. World Island Information. Diakses pada 26 September 2006
52. ^ (16 Mei 2008). "Country Profile 2008: Indonesia" (pdf). Economist Intelligence Unit. Diakses pada 31 Juli 2008.
53. ^ Yang, Heriyanto (August 2005). "The History and Legal Position of Confucianism in Post Independence Indonesia" (PDF). Religion 10 (1): 8 Diakses pada 2 Oktober 2006.
54. ^ "PENGERAJIN BATIK TAK PERLU RESAH", Majalah Hukum & HAM Online, 30 September 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
55. ^ Witton, Patrick (2003). Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. hal. hal.103. ISBN1-74059-154-2.
56. ^ [1]
57. ^ [2]
58. ^ "Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah", Kompas, Rabu, 28 April 2004. Diakses pada 14 Agustus 2008.
59. ^ Radhar Panca Dahana. "Perspektif: Mencuri Klaim, Itu Biasa", Gatra.Com, Kamis, 6 Desember 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
60. ^ Witton, Patrick (2002). World Food: Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. ISBN 1-74059-009-0.
61. ^ Brissendon, Rosemary (2003). South East Asian Food. Melbourne: Hardie Grant Books. ISBN 1-74066-013-7.
62. ^ a b Kristianto, JB, "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia", Kompas, 2 Juli 2005. Diakses pada 5 Oktober 2006.
63. ^ Taylor (2003), halaman 299–301
64. ^ Vickers (2005) halaman 3 to 7; Friend (2003), halaman 74, 180
65. ^ Czermak, Karen; Philippe DeLanghe, Wei Weng "Preserving Intangible Cultural Heritage in Indonesia". (PDF) SIL International. Diakses pada 4 Juli 2007
66. ^ (2006). Internet World Stats. Asia Internet Usage, Population Statistics and Information. Miniwatts Marketing Group. Diakses pada 13 Agustus 2007
67. ^ http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker
68. ^ http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/03/08/4070.html Dunia Sebut Indonesia Mega Biodiversity
69. ^ http://www.cites.org/eng/prog/economics/report_mega_2001.pdf Report on the CITES workshop on mega-biodiversity exporters (with the assistance of the European Commission)
70. ^ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/29/kesra01.html Sulung Prasetyo. Ekologi Indonesia Masuki Masa Genting, Paragraf 1. Sinar Harapan Online. Diakses pada 13 November 2009
71. ^ http://www.satudunia.net/?q=content/utang-ekologis-adb-di-indonesia Firdaus Cahyadi Utang Ekologis ADB di Indonesia, Tulisan pernah dimuat di Koran Tempo, 2 Mei 2009
Pranala luar
Portal.svg Portal Indonesia
Commons-logo.svg
Wikimedia Commons memiliki galeri mengenai:
Indonesia
Wikitravel Lihat panduan wisata Indonesia di Wikitravel
* (id) Situs Resmi Pemerintah Republik Indonesia
* (id) Kantor Berita Antara
* (en) Pariwisata Indonesia
* (id) Pemilu Indonesia
* (id) Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia
* (id) Data Kependudukan Resmi Indonesia
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Topik Indonesia Garuda Pancasila, Coat Arms of Indonesia.svg
Sejarah Nusantara
Prasejarah · Kerajaan Hindu-Buddha · Kerajaan Islam · Era Portugis · Era VOC · Era Belanda · Era Jepang
Sejarah Indonesia
Sejarah nama Indonesia · Proklamasi · Masa transisi · Era Orde Lama (Demokrasi Terpimpin · Gerakan 30 September · Dekrit Presiden) · Era Orde Baru (Supersemar · Integrasi Timor Timur · Gerakan 1998) · Era reformasi
Geografi
Danau & Waduk · Fauna · Flora · Gunung · Gunung berapi · Pegunungan · Pulau · Sungai · Taman nasional · Terumbu karang · Selat
Politik dan pemerintahan
Pemerintah · Presiden · Kementerian · MPR · DPR · DPD · MA · MK · BPK · Perwakilan di luar negeri · Kepolisian · Militer · Lembaga pemerintahan · Administratif · Provinsi · Kabupaten/Kota · Hubungan luar negeri · Hukum · Pemilu · Partai politik
Ekonomi
Perusahaan · Pariwisata · Transportasi · Pasar modal · Bank · BUMN · BEI
Demografi
Suku · Bahasa · Agama · Nama Indonesia
Budaya
Arsitektur · Seni · Film · Makanan · Tari · Mitologi · Pendidikan · Sastra · Media · Musik · Hari penting · Olahraga · Busana daerah
Topik lainnya
Bandar udara · Tokoh · A–Z · Telekomunikasi · Bunga · Tanda kehormatan · Kode telepon · Pembangkit listrik · Televisi nasional · Televisi regional
Portal Indonesia
[tampilkan]
Nuvola filesystems www.png Lokal geografis
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Hubungan luar negeri Indonesia
Afganistan · Amerika Serikat · Arab Saudi · Austria · Australia · Belanda · Brasil · Britania Raya · Brunei · Republik Rakyat Cina · India · Iran · Irak · Italia · Jepang · Kanada · Kazakhstan · Kamboja · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Libya · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mauritania · Meksiko · Mesir · Mozambik · Myanmar · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Portugal · Rusia · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Suriname · Swiss · Republik Cina · Thailand · Timor Leste · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vatikan · Vietnam · Yaman
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia
Negara berdaulat
Afganistan · Arab Saudi · Armenia1 · Azerbaijan1 · Bahrain · Bangladesh · Bhutan · Brunei · Republik Rakyat Cina · Filipina · Georgia1 · India · Indonesia · Irak · Iran · Israel · Jepang · Kamboja · Kazakhstan3 · Kirgizstan · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mesir3 · Mongolia · Myanmar · Nepal · Oman · Pakistan · Qatar · Rusia3 · Singapura · Siprus1 · Sri Lanka · Suriah · Tajikistan · Republik Cina (Taiwan) · Thailand · Timor Leste2 · Turki3 · Turkmenistan · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vietnam · Yaman · Yordania
Dependensi,
otonom,
wilayah lain
Abkhazia1 · Aceh · Ajaria1 · Akrotiri dan Dhekelia · Altai · Teritorial Britania di Samudra Hindia · Buryatia · Kepulauan Cocos (Keeling) · Guangxi · Hong Kong · Jakarta · Khakassia · Kurdistan Irak · Makau · Mongolia Dalam · Nagorno-Karabakh · Nakhichevan · Pulau Natal · Ningxia · Ossetia Selatan1 · Palestina (Jalur Gaza · Tepi Barat) · Papua bagian barat (Papua · Papua Barat) · Siprus Utara · Sakha · Tibet · Tuva · Xinjiang · Yogyakarta
Cetak miring menandakan negara yang tidak diakui. 1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan Eurasia. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara trans-benua.
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia Tenggara
Negara berdaulat
Brunei · Filipina · Indonesia · Kamboja · Laos · Malaysia · Myanmar · Singapura · Thailand · Timor Leste · Vietnam
Dependensi
Pulau Natal (Australia) · Kepulauan Cocos (Keeling) (Australia)
Daerah yang dipertentangkan
Sungai Naf (Bangladesh, Myanmar) · Tepi Macclesfield (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Paracel (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Pratas (RRC, RC) · Sabah (Malaysia, Filipina) · Beting Scarborough (Filipina, RRC, RC) · Kepulauan Spratly (Brunei, Malaysia, Filipina, RRC, ROC, Vietnam)
Gerakan separatis
Maluku · Papua · Chinland · Nagaland · Wa · Zogam · Bangsamoro · Patani · Sabah
[tampilkan]
Organisasi internasional
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
WTOmap currentmemberYN.png
Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Albania · Amerika Serikat · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Argentina · Armenia · Australia · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belize · Benin · Bolivia · Botswana · Brazil · Brunei · Burkina Faso · Burma · Burundi · Tanjung Verde · Chad · Chili · Republik Rakyat Cina · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · El Salvador · Fiji · Filipina · Gabon · Gambia · Georgia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Haiti · Honduras · Hong Kong¹ · India · Indonesia · Islandia · Israel · Jamaika · Jepang · Kamboja · Kamerun · Kanada · Kenya · Kolombia · Republik Demokratik Kongo · Republik Kongo · Korea Selatan · Kosta Rika · Kroasia · Kuba · Kirgizstan · Kuwait · Lesotho · Liechtenstein · Madagaskar · Makau¹ · Republik Makedonia · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mauritius · Meksiko · Mesir · Moldova · Mongolia · Mozambik · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Norwegia · Oman · Pakistan · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Paraguay · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Kitts dan Nevis · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Selandia Baru · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Kepulauan Solomon · Sri Lanka · Suriname · Swaziland · Swiss · Wilayah Bea Cukai Terpisah Taiwan, Penghu, Kinmen dan Matsu² · Tanzania · Thailand · Togo · Tonga · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turki · Uganda · Ukraina · Uni Emirat Arab · Uni Eropa³ · Uruguay · Venezuela · Vietnam · Yordania · Zambia · Zimbabwe
1. Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat Cina.
2. Nama rancangan untuk Republik Cina (Taiwan)
3. Ke-27 negara anggota Uni Eropa juga merupakan anggota WTO dengan hak masing-masing: Austria • Belanda dan Antillen Belanda • Belgia • Bulgaria • Britania Raya • Republik Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Jerman • Hongaria • Irlandia • Italia • Latvia • Lituania • Luksemburg • Malta • Perancis • Polandia • Portugal • Rumania • Siprus • Slovenia • Slowakia • Spanyol • Swedia • Yunani.
[tampilkan]
l • b • s
Gerakan Non-Blok (GNB)
Negara anggota
Afganistan · Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Aljazair · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Bahama · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belarus · Belize · Benin · Bhutan · Bolivia · Botswana · Brunei · Burkina Faso · Burundi · Chad · Chili · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · Mesir · Guinea Khatulistiwa · Eritrea · Ethiopia · Filipina · Gabon · Gambia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Honduras · India · Indonesia · Iran · Jamaika · Kamboja · Kamerun · Kenya · Kolombia · Komoro · Republik Kongo · Republik Demokratik Kongo · Korea Utara · Kuba · Kuwait · Laos · Lebanon · Lesotho · Liberia · Libya · Madagaskar · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Mauritania · Mauritius · Mongolia · Maroko · Mozambik · Myanmar · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Sao Tome dan Principe · Senegal · Seychelles · Sierra Leone · Singapura · Somalia · Sri Lanka · Sudan · Suriname · Swaziland · Suriah · Tanjung Verde · Tanzania · Thailand · Timor Leste · Togo · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vanuatu · Venezuela · Vietnam · Yaman · Yordania · Zambia · Zimbabwe
Negara pemantau
Armenia · Azerbaijan · Brasil · Republik Rakyat Cina · El Salvador · Kazakhstan · Kosta Rika · Kroasia · Kirgizstan · Meksiko · Montenegro · Serbia · Ukraina · Uruguay
Organisasi pemantau
Uni Afrika · Liga Arab · Perserikatan Bangsa-Bangsa
[tampilkan]
l • b • s
Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Negara anggota
Afganistan · Albania · Aljazair · Arab Saudi · Azerbaijan · Bahrain · Bangladesh · Benin · Brunei · Burkina Faso · Chad · Djibouti · Gabon · Gambia · Guinea · Guinea Bissau · Guyana · Indonesia · Irak · Iran · Kamerun · Kazakhstan · Komoro · Kirgizstan · Kuwait · Lebanon · Libya · Maladewa · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mesir · Mozambik · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Pantai Gading · Qatar · Senegal · Sierra Leone · Suriah · Suriname · Tajikistan · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Yaman · Yordania
Bendera OKI
Negara pemantau
Bosnia dan Herzegovina · Republik Afrika Tengah · Rusia · Thailand · Siprus Utara (sebagai Siprus Turki)
Organisasi pemantau
Organisasi Kerja Sama Ekonomi · Uni Afrika · Liga Arab · Gerakan Non-Blok · Perserikatan Bangsa-Bangsa · Front Pembebasan Nasional Moro
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)
Amerika Serikat · Australia · Brunei Darussalam · Chili · Republik Rakyat Cina · Hong Kong · Indonesia · Jepang · Kanada · Korea Selatan · Malaysia · Meksiko · Papua Nugini · Peru · Filipina · Rusia · Selandia Baru · Singapura · Cina Taipei * · Thailand · Vietnam
* Rancangan nama untuk Republik Cina (Taiwan)
Logo APEC
[tampilkan]
l • b • s
Negara anggota Kelompok 15 (G15)
Bendera Aljazair Aljazair
Bendera Argentina Argentina
Bendera Brasil Brasil
Bendera Chili Chili
Bendera India India
Bendera Indonesia Indonesia
Bendera Iran Iran
Bendera Jamaika Jamaika
Bendera Kenya Kenya
Bendera Malaysia Malaysia
Bendera Meksiko Meksiko
Bendera Mesir Mesir
Bendera Nigeria Nigeria
Bendera Peru Peru
Bendera Senegal Senegal
Bendera Sri Lanka Sri Lanka
Bendera Venezuela Venezuela
Bendera Zimbabwe Zimbabwe
[tampilkan]
l • b • s
Kelompok 20 Negara Ekonomi Dunia Utama (G-20)
Negara anggota
Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · Flag of the United States.svg Amerika Serikat · Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi · Flag of Argentina.svg Argentina · Flag of Australia.svg Australia · Flag of Brazil.svg Brasil · Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya · Flag of the People's Republic of China.svg RRC · Flag of India.svg India · Flag of Indonesia.svg Indonesia · Flag of Italy.svg Italia · Flag of Japan.svg Jepang · Flag of Germany.svg Jerman · Flag of Canada.svg Kanada · Flag of South Korea.svg Korea Selatan · Flag of Mexico.svg Meksiko · Flag of France.svg Perancis · Flag of Russia.svg Rusia · Flag of Turkey.svg Turki · Flag of Europe.svg Uni Eropa
Tuan rumah
1999: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2000: Montreal, Flag of Canada.svg Kanada · 2001: Ottawa, Flag of Canada.svg Kanada · 2002: Delhi, Flag of India.svg India ·
2003: Morelia, Flag of Mexico.svg Meksiko · 2004: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2005: Beijing, Flag of the People's Republic of China.svg RRC · 2006: Melbourne, Flag of Australia.svg Australia ·
2007: Cape Town, Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · 2008: São Paulo, Flag of Brazil.svg Brasil · 2009: London, Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya
[tampilkan]
l • b • s
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN)
Sekretaris Jenderal: Bendera Thailand Surin Pitsuwan
Flag of Brunei.svg Brunei
Flag of Malaysia.svg Malaysia
Flag of the Philippines.svg Filipina
Flag of Myanmar.svg Myanmar
Flag of Indonesia.svg Indonesia
Flag of Singapore.svg Singapura
Flag of Cambodia.svg Kamboja
Flag of Thailand.svg Thailand
Flag of Laos.svg Laos
Flag of Vietnam.svg Vietnam
Piagam - Kawasan Perdagangan Bebas
Pemantau: Flag of Papua New Guinea.svg Papua Nugini • Flag of East Timor.svg Timor Leste
LinkFA-star.png
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"
Kategori: ASEAN | Indonesia | Negara di Asia Tenggara
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
Peralatan pribadi
* Coba Beta
* Masuk log / buat akun
Cari
Navigasi
* Halaman Utama
* Perubahan terbaru
* Peristiwa terkini
* Halaman sembarang
Komunitas
* Warung Kopi
* Portal komunitas
* Bantuan
wikipedia
* Tentang Wikipedia
* Pancapilar
* Kebijakan
* Menyumbang
Cetak/ekspor
* Buat buku
* Unduh sebagai PDF
* Versi cetak
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Halaman istimewa
* Pranala permanen
* Kutip halaman ini
Bahasa lain
* Acèh
* Afrikaans
* Alemannisch
* Aragonés
* العربية
* مصرى
* অসমীয়া
* Asturianu
* Azərbaycan
* Башҡорт
* Žemaitėška
* Bikol Central
* Беларуская
* Беларуская (тарашкевіца)
* Български
* বাংলা
* བོད་ཡིག
* ইমার ঠার/বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী
* Brezhoneg
* Bosanski
* ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
* Català
* Cebuano
* Qırımtatarca
* Česky
* Kaszëbsczi
* Словѣ́ньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ
* Чӑвашла
* Cymraeg
* Dansk
* Deutsch
* Zazaki
* ދިވެހިބަސް
* Ελληνικά
* English
* Esperanto
* Español
* Eesti
* Euskara
* Estremeñu
* فارسی
* Suomi
* Na Vosa Vakaviti
* Français
* Arpetan
* Frysk
* Gaeilge
* 贛語
* Gàidhlig
* Galego
* ગુજરાતી
* Gaelg
* Hak-kâ-fa
* Hawai`i
* עברית
* हिन्दी
* Fiji Hindi
* Hrvatski
* Hornjoserbsce
* Kreyòl ayisyen
* Magyar
* Հայերեն
* Interlingua
* Interlingue
* Ilokano
* Ido
* Íslenska
* Italiano
* 日本語
* Lojban
* Basa Jawa
* ქართული
* Қазақша
* ភាសាខ្មែរ
* ಕನ್ನಡ
* 한국어
* Kurdî / كوردی
* Коми
* Kernowek
* Кыргызча
* Latina
* Lëtzebuergesch
* Limburgs
* Líguru
* Lumbaart
* Lingála
* Lietuvių
* Latviešu
* Basa Banyumasan
* Malagasy
* Māori
* Македонски
* മലയാളം
* Монгол
* मराठी
* Bahasa Melayu
* မြန်မာဘာသာ
* مَزِروني
* Dorerin Naoero
* Nāhuatl
* Nnapulitano
* Plattdüütsch
* Nedersaksisch
* नेपाल भाषा
* Nederlands
* Norsk (nynorsk)
* Norsk (bokmål)
* Novial
* Diné bizaad
* Occitan
* Иронау
* Kapampangan
* Papiamentu
* Norfuk / Pitkern
* Polski
* Piemontèis
* پنجابی
* Português
* Runa Simi
* Rumantsch
* Română
* Armãneashce
* Русский
* संस्कृत
* Саха тыла
* Sicilianu
* Sámegiella
* Sängö
* Srpskohrvatski / Српскохрватски
* Simple English
* Slovenčina
* Slovenščina
* Soomaaliga
* Shqip
* Српски / Srpski
* Seeltersk
* Basa Sunda
* Svenska
* Kiswahili
* Ślůnski
* தமிழ்
* తెలుగు
* Tetun
* Тоҷикӣ
* ไทย
* Türkmençe
* Tagalog
* Tok Pisin
* Türkçe
* Татарча/Tatarça
* Удмурт
* Uyghurche / ئۇيغۇرچە
* Українська
* اردو
* Vèneto
* Tiếng Việt
* Volapük
* Winaray
* Wolof
* 吴语
* ייִדיש
* Yorùbá
* 中文
* 文言
* Bân-lâm-gú
* 粵語
Powered by MediaWiki
Wikimedia Foundation
* Halaman ini terakhir diubah pada 06:41, 7 April 2010.
* Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
* Kebijakan privasi
* Tentang Wikipedia
* Penyangkalan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Perlindungan dari pemindahan
Untuk kegunaan lain dari Indonesia, lihat Indonesia (disambiguasi).
"RI" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari RI, lihat RI (disambiguasi).
Republik Indonesia
Bendera Lambang
Motto: Bhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: "Berbeda-beda tetapi tetap Satu")
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaan: Indonesia Raya
Ibu kota
(dan kota terbesar) Jakarta
6°10.5′S 106°49.7′E / 6.175°LS 106.8283°BT / -6.175; 106.8283
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik presidensial
- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
- Wakil Presiden Boediono
- Ketua MPR Taufik Kiemas
- Ketua DPR Marzuki Alie
- Ketua DPD Irman Gusman
Kemerdekaan dari Belanda
- Diproklamasikan 17 Agustus 1945
- Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
- Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
- Total 1,904,569 km2 (15)
- Air (%) 4,85%
Penduduk
- Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833[1] (4)
- Sensus 2000 206.264.595
- Kepadatan 134/km2 (84)
PDB (KKB) Perkiraan 2009
- Total Rp. 8,576 triliun
(AS$ 909 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 37,538 juta
(AS$ 3,979)[2]
PDB (nominal) Perkiraan 2009
- Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 511 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 21.113 juta
(AS$ 2,238)[2]
IPM (2006) Green Arrow Up Darker.svg 0.734[3] (menengah) (111)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Domain internet .id
Kode telepon +62
lihat • bicara • sunting
Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[4] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Etimologi
Lihat pula: Sejarah nama Indonesia
Kata "Indonesia" berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau".[5] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.[6] Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu".[7] Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India.[8] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).[9]
Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.[9] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau di tahun 1913.[6]
Sejarah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Indonesia
Lihat pula: Sejarah Nusantara
Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki "Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.[10] Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan.[11] Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM,[12] menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad.[13] Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.[14]
Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.
Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan.[15] Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.[16]
Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[17] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[18] Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.
Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel
Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[19] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.
Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.
Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.
Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai 'aksi kepolisian' (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.[20] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia ("Konfrontasi"),[21] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.
Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia
Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.
Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil "Mafia Berkeley".[22] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.
Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[23] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.
Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.
Politik dan pemerintahan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Indonesia
Gedung MPR-DPR.
Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.
Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen.[24] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufik Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.
Pembagian administratif
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Provinsi Indonesia
Indonesia provinces blank map.svg
Aceh
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Kep.
Riau
Kep. Bangka
Belitung
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Banten
DKI Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur
Bali
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan
Barat
Kalimantan
Tengah
Kalimantan
Timur
Kalimantan
Selatan
Sulawesi
Utara
Maluku
Utara
Sulawesi
Tengah
Gorontalo
Sulawesi
Barat
Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Tenggara
Maluku
Papua
Barat
Papua
Indonesia saat ini terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi kabupaten dan kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan walikota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.
Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[25] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[26] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[27] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[28]
Provinsi di Indonesia dan ibukotanya
Sumatera
* Aceh - Banda Aceh
* Sumatera Utara - Medan
* Sumatera Barat - Padang
* Riau - Pekanbaru
* Kepulauan Riau - Tanjung Pinang
* Jambi - Jambi
* Sumatera Selatan - Palembang
* Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang
* Bengkulu - Bengkulu
* Lampung - Bandar Lampung
Jawa
* Daerah Khusus Ibukota Jakarta - Jakarta
* Banten - Serang
* Jawa Barat - Bandung
* Jawa Tengah - Semarang
* Daerah Istimewa Yogyakarta - Yogyakarta
* Jawa Timur - Surabaya
Kepulauan Sunda Kecil
* Bali - Denpasar
* Nusa Tenggara Barat - Mataram
* Nusa Tenggara Timur - Kupang
Kalimantan
* Kalimantan Barat - Pontianak
* Kalimantan Tengah - Palangkaraya
* Kalimantan Selatan - Banjarmasin
* Kalimantan Timur - Samarinda
Sulawesi
* Sulawesi Utara - Manado
* Gorontalo - Gorontalo
* Sulawesi Tengah - Palu
* Sulawesi Barat - Mamuju
* Sulawesi Selatan - Makassar
* Sulawesi Tenggara - Kendari
Maluku
* Maluku - Ambon
* Maluku Utara - Ternate
Papua
* Papua Barat - Manokwari
* Papua - Jayapura
Geografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Indonesia
Lihat pula: Peta Asia dan Jumlah pulau di Indonesia
Sebuah air terjun, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur
Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara[29] yang memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[30], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut,[31] searah penjuru mata angin, yaitu:
Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km[30], Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km[30], Timor Leste, dan Samudra Pasifik
Sumber daya alam
Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km[32]
Ekonomi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Indonesia
Uang rupiah
Protes melawan IMF, organisasi yang terlibat dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, di Jakarta.
Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.[33]
Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.[33] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.[33] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,[33] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997[34] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[35] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.
Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut.[36] Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam mempengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.[37][38] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.[39]
Gedung pusat Bank Indonesia.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.[40] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%.[41] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.[42]
Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.
Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.[43]
Peringkat internasional
Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157[44]
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111[45]
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168[46]
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179[47]
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177[48]
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122[49]
Demografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Indonesia
Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta,[50] dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta.[4] 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada.[51] Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.
Masjid Islamic Center Samarinda di Samarinda, Kalimantan Timur.
Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa.[52] Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.
Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.[40] Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.[53]
Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
l • b • s
Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 8.839.247 Indonesia
Indonesia 7 Semarang Jawa Tengah 1.352.869
2 Surabaya Jawa Timur 2.611.506 8 Depok Jawa Barat 1.339.263
3 Bandung Jawa Barat 2.288.570 9 Palembang Sumatra Selatan 1.323.169
4 Medan Sumatra Utara 2.029.797 10 Tangerang Selatan Banten 1.241.441
5 Bekasi Jawa Barat 1.940.308 11 Makassar Sulawesi Selatan 1.168.258
6 Tangerang Banten 1.451.595 12 Bogor Jawa Barat 891.467
Sumber: [3]
Kebudayaan dan warisan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Indonesia
Pertunjukan
Wayang kulit warisan budaya Jawa.
Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.
Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.
Busana
Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.
Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[54] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatra Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.
Arsitektur
Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.
Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.
Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.
Olahraga
Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008
Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.[55]
Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas[56], dan Chris John[57].
Seni musik
Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,[58] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Seperangkat gamelan
Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia 'dicuri' oleh negara lain[59] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:
* Angklung
* Bende
* Calung
* Dermenan
* Gamelan
* Gandang Tabuik
* Gendang Bali
* Gondang Batak
* Gong Kemada
* Gong Lambus
* Jidor
* Kecapi Suling
* Kulcapi Batak
* Kendang Jawa
* Kenong
* Kulintang
* Rebab
* Rebana
* Saluang
* Saron
* Sasando
* Serunai
* Seurune Kale
* Suling Lembang
* Sulim Batak
* Suling Sunda
* Talempong
* Tanggetong
* Tifa, dan sebagainya
Boga
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar masakan Indonesia
Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.
Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya.[60] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.[61]
Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.
Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu. Nasi rames yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran sangat minimalis dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima.
Terdapat pula aneka makanan yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau tanggungan. Pedagang keliling ini menyajikan mie ayam, mi bakso, soto, siomay, roti burger, nasi goreng, nasi uduk, dan lain-lain.
Perfilman
Poster film Tjoet Nja' Dhien, pahlawan nasional Indonesia asal Aceh
Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Di masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Diantara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949). Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya.
Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia,[62] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an. Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat.[62] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film paling laris sepanjang sejarah.
Kesusastraan
Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[63] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[64] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[65] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[66] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.
Ekologi
Kasuari, salah satu burung khas dari Pulau Papua.
Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah "Mega biodiversity" atau "keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi"[67][68] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [69]
Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara
Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[70] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.[71]
Rujukan
1. ^ Jam penduduk Indonesia
2. ^ a b c d International Monetary Fund (October 2009). World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada 30 November.
3. ^ HDR Stats
4. ^ a b Badan Pusat Statistik Indonesia (1 September 2006). Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005–2006 (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[26 September 2006]].
5. ^ Tomascik, T; Mah, J.A., Nontji, A., Moosa, M.K. (1996). The Ecology of the Indonesian Seas - Part One. Hong Kong: Periplus Editions Ltd.. ISBN 962-593-078-7.
6. ^ a b Anshory, Irfan, "Asal Usul Nama Indonesia", Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
7. ^ Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 119.
8. ^ Logan, James Richardson (1850). "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 4, 252–347.; Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 254, 277–278.
9. ^ a b Justus M. van der Kroef (1951). "The Term Indonesia: Its Origin and Usage". Journal of the American Oriental Society 71 (3): 166–171. DOI:10.2307/595186.
10. ^ Pope (1988). "Recent advances in far eastern paleoanthropology". Annual Review of Anthropology 17: 43–77. DOI:10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309–312. ; Pope, G (15 Agustus, 1983). "Evidence on the Age of the Asian Hominidae". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 80 (16): 4,988–4992. DOI:10.1073/pnas.80.16.4988. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309. ; de Vos, J.P., P.Y. Sondaar, (9 Desember 1994). "Dating hominid sites in Indonesia" (PDF). Science Magazine 266 (16): 4, 988–4992. DOI:10.1126/science.7992059. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309.
11. ^ Taylor (2003), hal. 5–7
12. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 8–9. ISBN 0-300-10518-5.
13. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 15–18. ISBN 0-300-10518-5.
14. ^ Taylor (2003), hal. 3, 9, 10–11, 13, 14–15, 18–20, 22–23; Vickers (2005), hal. 18–20, 60, 133–134
15. ^ Taylor (2003), hal. 22–26; Ricklefs (1991), hal. 3
16. ^ Peter Lewis (1982). "The next great empire". Futures 14 (1): 47–61. DOI:10.1016/0016-3287(82)90071-4.
17. ^ *Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Oktober 2000, xliv + 299 halaman
18. ^ Wright, Louis B. (7 April 1970). Gold, Glory, and the Gospel: The Adventurous Lives and Times of the Renaissance Explorers. New York: Atheneum.
19. ^ Ricklefs, M.C. (7 April 1991). A History of Modern Indonesia since c.1300. London: MacMillan. hal. 151. ISBN 0-33-579690-X.
20. ^ ZWEERS, L. (7 April 1995). Agressi II: Operatie Kraai. De vergeten beelden van de tweede politionele actie. Den Haag: SDU uitgevers.
21. ^ van der Bijl, Nick. Confrontation, The War with Indonesia 1962—1966, (London, 2007) ISBN 978-1-84415-595-8
22. ^ Wibowo, Sigit, Sjarifuddin. Ekonomi Indonesia Gagal karena Mafia Berkeley, Harian Umum Sore Sinar Harapan. Copyright © Sinar Harapan 2003. Diakses: Selasa, 6 Agustus 2008.
23. ^ Laporan dari Carter Center. The Carter Center 2004 Indonesia Election Report (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[29 Juli 2008]].
24. ^ (PDF) Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. 13 Desember 2006. http://www.gtzsfdm.or.id/documents/laws_n_regs/con_decree/3_AmdUUD45_eng.pdf.
25. ^ Michelle Ann Miller (2004). "The Nanggroe Aceh Darussalam law: a serious response to Acehnese separatism?". Asian Ethnicity 5 (3): 333–351. DOI:10.1080/1463136042000259789.
26. ^ Dewan Perwakilan Rakyat (1999). Bab XIV Other Provisions, Pasal 122; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di DaerahPDF (146 ). Presiden Indonesia (1974). Bab VII Aturan Peralihan, Pasal 91
27. ^ Dursin, Richel; Kafil Yamin, "Another Fine Mess in Papua", Editorial, The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.; "Papua Chronology Confusing Signals from Jakarta", The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
28. ^ Burr, W.; Evans, M.L. Ford and Kissinger Gave Green Light to Indonesia's Invasion of East Timor, 1975: New Documents Detail Conversations with Suharto. National Security Archive Electronic Briefing Book No. 62. National Security Archieve, Universitas George Washington, Washington, D.C.. Diakses pada 17 September 2006
29. ^ Dotinga, Harm; Netherlands Institute for the Law of the Sea (2000). International organizations and the law of the sea: documentary yearbook, Vol 14. Martinus Nijhoff Publishers. hal. 960. ISBN 9041113452, 9789041113450.
30. ^ a b c International Monetary Fund. Estimate World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].; Indonesia Regions. Indonesia Business Directory. Diakses pada 24 April 2007
31. ^ Article 55, 1982 UN Convention on the Law of The Sea.
32. ^ World Bank (1994). A World Bank country study Country Studies: Indonesia: environment and development. World Bank Publications. ISBN 0821329502, 9780821329504.
33. ^ a b c d Schwarz, A. (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Westview Press. ISBN 1-86373-635-2, halaman 52–57.
34. ^ (2006). Indonesia: Country Brief. Indonesia:Key Development Data & Statistics. Bank Dunia.
35. ^ (14 September 2006)"Poverty in Indonesia: Always with them". The Economist Diakses pada 26 Desember 2006.
36. ^ Indonesia: Forecast. Country Briefings. The Economist.
37. ^ Badan Pusat Statistik Indonesia (2 Desember 2008). Beberapa Indikator Penting Mengenai Indonesia (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[18 Maret 2008]].
38. ^ Ridwan Max Sijabat. "Unemployment still blighting the Indonesian landscape", The Jakarta Post, 23 Maret 2007.
39. ^ Bank Dunia. Making the New Indonesia Work for the Poor - Overview (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[26 Desember 2006]].
40. ^ a b Indonesia - The World Factbook.
41. ^ Official Statistics and its Development in Indonesia. (PDF) Sub Committee on Statistics: First Session 18–20 February, 2004. Economic and Social Commission for Asia & the Pacific.
42. ^ Indonesia at a Glance. (PDF) Indonesia Development Indicators and Data. Bank Dunia.
43. ^ (2007). Indeks Persepsi Korupsi. Transparency International. Diakses pada 28 September 2007
44. ^ Index of Economic Freedom. The Heritage Foundation & The Wall Street Journal. Diakses pada 1 Juli 2008
45. ^ The Economist Intelligence Unit’s Quality-of-Life Index. (PDF) The Economist. Diakses pada 12 September 2007
46. ^ Worldwide Press Freedom Index 2006. (PDF) Reporters Without Borders. Diakses pada 1 Juli 2008
47. ^ cpi 2007 table. Transparency International. Diakses pada 1 Juli 2008
48. ^ Human Development Reports: Indonesia. United Nations Development Programme. Diakses pada 1 Juli 2008
49. ^ Global Competitiveness Index rankings and 2006–2007 comparisons. (PDF) World Economic Forum. Diakses pada 1 Juli 2008
50. ^ Indonesian Central Statistics Bureau (30 Juni 2000). 2000 Population Statistics. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].
51. ^ Calder, Joshua Most Populous Islands. World Island Information. Diakses pada 26 September 2006
52. ^ (16 Mei 2008). "Country Profile 2008: Indonesia" (pdf). Economist Intelligence Unit. Diakses pada 31 Juli 2008.
53. ^ Yang, Heriyanto (August 2005). "The History and Legal Position of Confucianism in Post Independence Indonesia" (PDF). Religion 10 (1): 8 Diakses pada 2 Oktober 2006.
54. ^ "PENGERAJIN BATIK TAK PERLU RESAH", Majalah Hukum & HAM Online, 30 September 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
55. ^ Witton, Patrick (2003). Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. hal. hal.103. ISBN1-74059-154-2.
56. ^ [1]
57. ^ [2]
58. ^ "Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah", Kompas, Rabu, 28 April 2004. Diakses pada 14 Agustus 2008.
59. ^ Radhar Panca Dahana. "Perspektif: Mencuri Klaim, Itu Biasa", Gatra.Com, Kamis, 6 Desember 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
60. ^ Witton, Patrick (2002). World Food: Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. ISBN 1-74059-009-0.
61. ^ Brissendon, Rosemary (2003). South East Asian Food. Melbourne: Hardie Grant Books. ISBN 1-74066-013-7.
62. ^ a b Kristianto, JB, "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia", Kompas, 2 Juli 2005. Diakses pada 5 Oktober 2006.
63. ^ Taylor (2003), halaman 299–301
64. ^ Vickers (2005) halaman 3 to 7; Friend (2003), halaman 74, 180
65. ^ Czermak, Karen; Philippe DeLanghe, Wei Weng "Preserving Intangible Cultural Heritage in Indonesia". (PDF) SIL International. Diakses pada 4 Juli 2007
66. ^ (2006). Internet World Stats. Asia Internet Usage, Population Statistics and Information. Miniwatts Marketing Group. Diakses pada 13 Agustus 2007
67. ^ http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker
68. ^ http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/03/08/4070.html Dunia Sebut Indonesia Mega Biodiversity
69. ^ http://www.cites.org/eng/prog/economics/report_mega_2001.pdf Report on the CITES workshop on mega-biodiversity exporters (with the assistance of the European Commission)
70. ^ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/29/kesra01.html Sulung Prasetyo. Ekologi Indonesia Masuki Masa Genting, Paragraf 1. Sinar Harapan Online. Diakses pada 13 November 2009
71. ^ http://www.satudunia.net/?q=content/utang-ekologis-adb-di-indonesia Firdaus Cahyadi Utang Ekologis ADB di Indonesia, Tulisan pernah dimuat di Koran Tempo, 2 Mei 2009
Pranala luar
Portal.svg Portal Indonesia
Commons-logo.svg
Wikimedia Commons memiliki galeri mengenai:
Indonesia
Wikitravel Lihat panduan wisata Indonesia di Wikitravel
* (id) Situs Resmi Pemerintah Republik Indonesia
* (id) Kantor Berita Antara
* (en) Pariwisata Indonesia
* (id) Pemilu Indonesia
* (id) Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia
* (id) Data Kependudukan Resmi Indonesia
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Topik Indonesia Garuda Pancasila, Coat Arms of Indonesia.svg
Sejarah Nusantara
Prasejarah · Kerajaan Hindu-Buddha · Kerajaan Islam · Era Portugis · Era VOC · Era Belanda · Era Jepang
Sejarah Indonesia
Sejarah nama Indonesia · Proklamasi · Masa transisi · Era Orde Lama (Demokrasi Terpimpin · Gerakan 30 September · Dekrit Presiden) · Era Orde Baru (Supersemar · Integrasi Timor Timur · Gerakan 1998) · Era reformasi
Geografi
Danau & Waduk · Fauna · Flora · Gunung · Gunung berapi · Pegunungan · Pulau · Sungai · Taman nasional · Terumbu karang · Selat
Politik dan pemerintahan
Pemerintah · Presiden · Kementerian · MPR · DPR · DPD · MA · MK · BPK · Perwakilan di luar negeri · Kepolisian · Militer · Lembaga pemerintahan · Administratif · Provinsi · Kabupaten/Kota · Hubungan luar negeri · Hukum · Pemilu · Partai politik
Ekonomi
Perusahaan · Pariwisata · Transportasi · Pasar modal · Bank · BUMN · BEI
Demografi
Suku · Bahasa · Agama · Nama Indonesia
Budaya
Arsitektur · Seni · Film · Makanan · Tari · Mitologi · Pendidikan · Sastra · Media · Musik · Hari penting · Olahraga · Busana daerah
Topik lainnya
Bandar udara · Tokoh · A–Z · Telekomunikasi · Bunga · Tanda kehormatan · Kode telepon · Pembangkit listrik · Televisi nasional · Televisi regional
Portal Indonesia
[tampilkan]
Nuvola filesystems www.png Lokal geografis
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Hubungan luar negeri Indonesia
Afganistan · Amerika Serikat · Arab Saudi · Austria · Australia · Belanda · Brasil · Britania Raya · Brunei · Republik Rakyat Cina · India · Iran · Irak · Italia · Jepang · Kanada · Kazakhstan · Kamboja · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Libya · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mauritania · Meksiko · Mesir · Mozambik · Myanmar · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Portugal · Rusia · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Suriname · Swiss · Republik Cina · Thailand · Timor Leste · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vatikan · Vietnam · Yaman
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia
Negara berdaulat
Afganistan · Arab Saudi · Armenia1 · Azerbaijan1 · Bahrain · Bangladesh · Bhutan · Brunei · Republik Rakyat Cina · Filipina · Georgia1 · India · Indonesia · Irak · Iran · Israel · Jepang · Kamboja · Kazakhstan3 · Kirgizstan · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mesir3 · Mongolia · Myanmar · Nepal · Oman · Pakistan · Qatar · Rusia3 · Singapura · Siprus1 · Sri Lanka · Suriah · Tajikistan · Republik Cina (Taiwan) · Thailand · Timor Leste2 · Turki3 · Turkmenistan · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vietnam · Yaman · Yordania
Dependensi,
otonom,
wilayah lain
Abkhazia1 · Aceh · Ajaria1 · Akrotiri dan Dhekelia · Altai · Teritorial Britania di Samudra Hindia · Buryatia · Kepulauan Cocos (Keeling) · Guangxi · Hong Kong · Jakarta · Khakassia · Kurdistan Irak · Makau · Mongolia Dalam · Nagorno-Karabakh · Nakhichevan · Pulau Natal · Ningxia · Ossetia Selatan1 · Palestina (Jalur Gaza · Tepi Barat) · Papua bagian barat (Papua · Papua Barat) · Siprus Utara · Sakha · Tibet · Tuva · Xinjiang · Yogyakarta
Cetak miring menandakan negara yang tidak diakui. 1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan Eurasia. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara trans-benua.
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia Tenggara
Negara berdaulat
Brunei · Filipina · Indonesia · Kamboja · Laos · Malaysia · Myanmar · Singapura · Thailand · Timor Leste · Vietnam
Dependensi
Pulau Natal (Australia) · Kepulauan Cocos (Keeling) (Australia)
Daerah yang dipertentangkan
Sungai Naf (Bangladesh, Myanmar) · Tepi Macclesfield (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Paracel (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Pratas (RRC, RC) · Sabah (Malaysia, Filipina) · Beting Scarborough (Filipina, RRC, RC) · Kepulauan Spratly (Brunei, Malaysia, Filipina, RRC, ROC, Vietnam)
Gerakan separatis
Maluku · Papua · Chinland · Nagaland · Wa · Zogam · Bangsamoro · Patani · Sabah
[tampilkan]
Organisasi internasional
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
WTOmap currentmemberYN.png
Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Albania · Amerika Serikat · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Argentina · Armenia · Australia · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belize · Benin · Bolivia · Botswana · Brazil · Brunei · Burkina Faso · Burma · Burundi · Tanjung Verde · Chad · Chili · Republik Rakyat Cina · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · El Salvador · Fiji · Filipina · Gabon · Gambia · Georgia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Haiti · Honduras · Hong Kong¹ · India · Indonesia · Islandia · Israel · Jamaika · Jepang · Kamboja · Kamerun · Kanada · Kenya · Kolombia · Republik Demokratik Kongo · Republik Kongo · Korea Selatan · Kosta Rika · Kroasia · Kuba · Kirgizstan · Kuwait · Lesotho · Liechtenstein · Madagaskar · Makau¹ · Republik Makedonia · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mauritius · Meksiko · Mesir · Moldova · Mongolia · Mozambik · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Norwegia · Oman · Pakistan · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Paraguay · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Kitts dan Nevis · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Selandia Baru · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Kepulauan Solomon · Sri Lanka · Suriname · Swaziland · Swiss · Wilayah Bea Cukai Terpisah Taiwan, Penghu, Kinmen dan Matsu² · Tanzania · Thailand · Togo · Tonga · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turki · Uganda · Ukraina · Uni Emirat Arab · Uni Eropa³ · Uruguay · Venezuela · Vietnam · Yordania · Zambia · Zimbabwe
1. Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat Cina.
2. Nama rancangan untuk Republik Cina (Taiwan)
3. Ke-27 negara anggota Uni Eropa juga merupakan anggota WTO dengan hak masing-masing: Austria • Belanda dan Antillen Belanda • Belgia • Bulgaria • Britania Raya • Republik Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Jerman • Hongaria • Irlandia • Italia • Latvia • Lituania • Luksemburg • Malta • Perancis • Polandia • Portugal • Rumania • Siprus • Slovenia • Slowakia • Spanyol • Swedia • Yunani.
[tampilkan]
l • b • s
Gerakan Non-Blok (GNB)
Negara anggota
Afganistan · Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Aljazair · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Bahama · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belarus · Belize · Benin · Bhutan · Bolivia · Botswana · Brunei · Burkina Faso · Burundi · Chad · Chili · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · Mesir · Guinea Khatulistiwa · Eritrea · Ethiopia · Filipina · Gabon · Gambia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Honduras · India · Indonesia · Iran · Jamaika · Kamboja · Kamerun · Kenya · Kolombia · Komoro · Republik Kongo · Republik Demokratik Kongo · Korea Utara · Kuba · Kuwait · Laos · Lebanon · Lesotho · Liberia · Libya · Madagaskar · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Mauritania · Mauritius · Mongolia · Maroko · Mozambik · Myanmar · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Sao Tome dan Principe · Senegal · Seychelles · Sierra Leone · Singapura · Somalia · Sri Lanka · Sudan · Suriname · Swaziland · Suriah · Tanjung Verde · Tanzania · Thailand · Timor Leste · Togo · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vanuatu · Venezuela · Vietnam · Yaman · Yordania · Zambia · Zimbabwe
Negara pemantau
Armenia · Azerbaijan · Brasil · Republik Rakyat Cina · El Salvador · Kazakhstan · Kosta Rika · Kroasia · Kirgizstan · Meksiko · Montenegro · Serbia · Ukraina · Uruguay
Organisasi pemantau
Uni Afrika · Liga Arab · Perserikatan Bangsa-Bangsa
[tampilkan]
l • b • s
Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Negara anggota
Afganistan · Albania · Aljazair · Arab Saudi · Azerbaijan · Bahrain · Bangladesh · Benin · Brunei · Burkina Faso · Chad · Djibouti · Gabon · Gambia · Guinea · Guinea Bissau · Guyana · Indonesia · Irak · Iran · Kamerun · Kazakhstan · Komoro · Kirgizstan · Kuwait · Lebanon · Libya · Maladewa · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mesir · Mozambik · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Pantai Gading · Qatar · Senegal · Sierra Leone · Suriah · Suriname · Tajikistan · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Yaman · Yordania
Bendera OKI
Negara pemantau
Bosnia dan Herzegovina · Republik Afrika Tengah · Rusia · Thailand · Siprus Utara (sebagai Siprus Turki)
Organisasi pemantau
Organisasi Kerja Sama Ekonomi · Uni Afrika · Liga Arab · Gerakan Non-Blok · Perserikatan Bangsa-Bangsa · Front Pembebasan Nasional Moro
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)
Amerika Serikat · Australia · Brunei Darussalam · Chili · Republik Rakyat Cina · Hong Kong · Indonesia · Jepang · Kanada · Korea Selatan · Malaysia · Meksiko · Papua Nugini · Peru · Filipina · Rusia · Selandia Baru · Singapura · Cina Taipei * · Thailand · Vietnam
* Rancangan nama untuk Republik Cina (Taiwan)
Logo APEC
[tampilkan]
l • b • s
Negara anggota Kelompok 15 (G15)
Bendera Aljazair Aljazair
Bendera Argentina Argentina
Bendera Brasil Brasil
Bendera Chili Chili
Bendera India India
Bendera Indonesia Indonesia
Bendera Iran Iran
Bendera Jamaika Jamaika
Bendera Kenya Kenya
Bendera Malaysia Malaysia
Bendera Meksiko Meksiko
Bendera Mesir Mesir
Bendera Nigeria Nigeria
Bendera Peru Peru
Bendera Senegal Senegal
Bendera Sri Lanka Sri Lanka
Bendera Venezuela Venezuela
Bendera Zimbabwe Zimbabwe
[tampilkan]
l • b • s
Kelompok 20 Negara Ekonomi Dunia Utama (G-20)
Negara anggota
Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · Flag of the United States.svg Amerika Serikat · Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi · Flag of Argentina.svg Argentina · Flag of Australia.svg Australia · Flag of Brazil.svg Brasil · Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya · Flag of the People's Republic of China.svg RRC · Flag of India.svg India · Flag of Indonesia.svg Indonesia · Flag of Italy.svg Italia · Flag of Japan.svg Jepang · Flag of Germany.svg Jerman · Flag of Canada.svg Kanada · Flag of South Korea.svg Korea Selatan · Flag of Mexico.svg Meksiko · Flag of France.svg Perancis · Flag of Russia.svg Rusia · Flag of Turkey.svg Turki · Flag of Europe.svg Uni Eropa
Tuan rumah
1999: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2000: Montreal, Flag of Canada.svg Kanada · 2001: Ottawa, Flag of Canada.svg Kanada · 2002: Delhi, Flag of India.svg India ·
2003: Morelia, Flag of Mexico.svg Meksiko · 2004: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2005: Beijing, Flag of the People's Republic of China.svg RRC · 2006: Melbourne, Flag of Australia.svg Australia ·
2007: Cape Town, Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · 2008: São Paulo, Flag of Brazil.svg Brasil · 2009: London, Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya
[tampilkan]
l • b • s
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN)
Sekretaris Jenderal: Bendera Thailand Surin Pitsuwan
Flag of Brunei.svg Brunei
Flag of Malaysia.svg Malaysia
Flag of the Philippines.svg Filipina
Flag of Myanmar.svg Myanmar
Flag of Indonesia.svg Indonesia
Flag of Singapore.svg Singapura
Flag of Cambodia.svg Kamboja
Flag of Thailand.svg Thailand
Flag of Laos.svg Laos
Flag of Vietnam.svg Vietnam
Piagam - Kawasan Perdagangan Bebas
Pemantau: Flag of Papua New Guinea.svg Papua Nugini • Flag of East Timor.svg Timor Leste
LinkFA-star.png
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"
Kategori: ASEAN | Indonesia | Negara di Asia Tenggara
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
Peralatan pribadi
* Coba Beta
* Masuk log / buat akun
Cari
Navigasi
* Halaman Utama
* Perubahan terbaru
* Peristiwa terkini
* Halaman sembarang
Komunitas
* Warung Kopi
* Portal komunitas
* Bantuan
wikipedia
* Tentang Wikipedia
* Pancapilar
* Kebijakan
* Menyumbang
Cetak/ekspor
* Buat buku
* Unduh sebagai PDF
* Versi cetak
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Halaman istimewa
* Pranala permanen
* Kutip halaman ini
Bahasa lain
* Acèh
* Afrikaans
* Alemannisch
* Aragonés
* العربية
* مصرى
* অসমীয়া
* Asturianu
* Azərbaycan
* Башҡорт
* Žemaitėška
* Bikol Central
* Беларуская
* Беларуская (тарашкевіца)
* Български
* বাংলা
* བོད་ཡིག
* ইমার ঠার/বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী
* Brezhoneg
* Bosanski
* ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
* Català
* Cebuano
* Qırımtatarca
* Česky
* Kaszëbsczi
* Словѣ́ньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ
* Чӑвашла
* Cymraeg
* Dansk
* Deutsch
* Zazaki
* ދިވެހިބަސް
* Ελληνικά
* English
* Esperanto
* Español
* Eesti
* Euskara
* Estremeñu
* فارسی
* Suomi
* Na Vosa Vakaviti
* Français
* Arpetan
* Frysk
* Gaeilge
* 贛語
* Gàidhlig
* Galego
* ગુજરાતી
* Gaelg
* Hak-kâ-fa
* Hawai`i
* עברית
* हिन्दी
* Fiji Hindi
* Hrvatski
* Hornjoserbsce
* Kreyòl ayisyen
* Magyar
* Հայերեն
* Interlingua
* Interlingue
* Ilokano
* Ido
* Íslenska
* Italiano
* 日本語
* Lojban
* Basa Jawa
* ქართული
* Қазақша
* ភាសាខ្មែរ
* ಕನ್ನಡ
* 한국어
* Kurdî / كوردی
* Коми
* Kernowek
* Кыргызча
* Latina
* Lëtzebuergesch
* Limburgs
* Líguru
* Lumbaart
* Lingála
* Lietuvių
* Latviešu
* Basa Banyumasan
* Malagasy
* Māori
* Македонски
* മലയാളം
* Монгол
* मराठी
* Bahasa Melayu
* မြန်မာဘာသာ
* مَزِروني
* Dorerin Naoero
* Nāhuatl
* Nnapulitano
* Plattdüütsch
* Nedersaksisch
* नेपाल भाषा
* Nederlands
* Norsk (nynorsk)
* Norsk (bokmål)
* Novial
* Diné bizaad
* Occitan
* Иронау
* Kapampangan
* Papiamentu
* Norfuk / Pitkern
* Polski
* Piemontèis
* پنجابی
* Português
* Runa Simi
* Rumantsch
* Română
* Armãneashce
* Русский
* संस्कृत
* Саха тыла
* Sicilianu
* Sámegiella
* Sängö
* Srpskohrvatski / Српскохрватски
* Simple English
* Slovenčina
* Slovenščina
* Soomaaliga
* Shqip
* Српски / Srpski
* Seeltersk
* Basa Sunda
* Svenska
* Kiswahili
* Ślůnski
* தமிழ்
* తెలుగు
* Tetun
* Тоҷикӣ
* ไทย
* Türkmençe
* Tagalog
* Tok Pisin
* Türkçe
* Татарча/Tatarça
* Удмурт
* Uyghurche / ئۇيغۇرچە
* Українська
* اردو
* Vèneto
* Tiếng Việt
* Volapük
* Winaray
* Wolof
* 吴语
* ייִדיש
* Yorùbá
* 中文
* 文言
* Bân-lâm-gú
* 粵語
Powered by MediaWiki
Wikimedia Foundation
* Halaman ini terakhir diubah pada 06:41, 7 April 2010.
* Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
* Kebijakan privasi
* Tentang Wikipedia
* Penyangkalan
Media indonesia Online
Kebudayaan Non-Melayu dan Non-Jawa
Profil seorang gadis Sunda. Meski beragama Islam - salah satu ciri kebudayaan Melayu-masyarakat Sunda memiliki corak budaya yang berbeda dengan Melayu atau Jawa
Ada sementara pendapat mengatakan,bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan non-Melayu dan non-Jawa adalah kebudayaan yang dimiliki oleh ras lain, seperti China (ras Mongol), Eropa (ras Kaukasia), Afrika (ras Negro), dan sebagainya. Meskipun demikian di antara bangsa Indonesia sendiri ada beberapa sukubangsa yang tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan Melayu dan wilayah kebudayaan Jawa, karena tidak memiliki ciri-ciri kedua tipe kebudayaan tersebut seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Orang Sunda dapat dijadikan salah satu contoh sukubangsa yang tidak dapat digolongkan dalam kebudayaan Melayu atau kebudayaan Jawa. Walaupun orang Sunda beragama Islam, yang merupakan salah satu ciri kebudayaan Melayu, namun mereka memiliki corak kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan Melayu atau Jawa.
Demikian pula halnya dengan orang Lampung, mereka juga beragam Islam namun memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri. Beberapa pihak membedakan sukubangsa Lampung menjadi dua sub-sukubangsa, yakni orang Lampung yang beradat pepadun (Lampung Pepadun) dan orang Lampung yang beradat Saibatin atau Peminggir (Lampung Peminggir). Orang Lampung memiliki bahasa sendiri yang disebut behasou Lampung atau umung Lampung atau cewo Lampung. Bahasa ini masih dapat dibagi menjadi dua logat atau dialek, yaitu dialek Lampung Belalau dan dialek Lampung Abung; yang masing-masing dibedakan atas dasar pengucapan “a” dan “o”, sehingga biasanya juga disebut dialek “a” dan dialek “o”. Orang Lampung juga mempunyai aksara sendiri, yang biasa disebut surat Lampung.
Upacara naik Pepadun, Lampung. Acara adat pemberian gelar ini membedakan masyarakat Lampung menjadi dua sub suku bangsa yakni Lampung Pepadun dan Lampung Peminggir atau Lampung Saibitin, yang menjalankan adat Saibitin. Seperti halnya orang Sunda, masyarakat Lampung, meski beragama Islam, juga memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri
Selain itu di Indonesia terdapat kelompok sosial lain yang tidak secara langsung mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu, akan tetapi menggunakan salah satu dialek dari bahasa Melayu. Sebagai contoh, di tanah Minahasa ada sejumlah sub-sukubangsa Minahasa yang masing-masing menggunakan dialek tersendiri.
Sedangkan sebagai sarana komunikasi antar anggota sub-sukubangsa itu digunakan bahasa lain, yaitu bahasa Melayu Manado.
Ketiga bentuk kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan Melayu, Jawa, serta non-Melayu dan non-Jawa, sesungguhnya telah saling berinteraksi sejak dahulu kala, yaitu sejak adanya kontak antara kebudayaan-kebudayaan tersebut. Kepentingan-kepentingan hidup sosial, ekonomi, dan politik, telah menjadikan interaksi itu bervariasi, mulai dari sifatnya yang positif berupa kerjasama atau tolong-menolong sampai yang negatif berupa perselisihan dan peperangan.
"Barongsay", salah satu contoh kesenian berasal dari Kebudayaan Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan kesenian lokal. Salah satu contoh gedung di Indonesia yang arsitekturnya dipengaruhi gaya arsitektur Eropa
Masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut beriteraksi untuk kepentingan hidup yang paling azasi, bergaul untuk memenuhi hasrat sosial dan kebutuhan hidup mereka. Pergaulan antara individu-individu yang berlainan jenis biasanya berakhir dengan perkawinan. Dari perkawinan itu diperoleh keturunan yang disebut peranakan, misalnya peranakan China, peranakan India, peranakan Belanda (Indo), dan sebagainya.
Tidak semua interaksi antara anggota-anggota ketiga kebudayaan tersebut menghasilkan pembauran. Akan tetapi adanya pembauran memang berawal dari adanya interaksi. Interaksi yang relatif banyak menghasilkan pembauran ialah dengan bangsa India dan Arab yang beragama Islam. Interaksi sosial yang berawal dari aktivitas perdagangan dan penyebaran agama, banyak menyebabkan perkawinan antara masyarakat setempat dengan para pendatang. Dari perkawinan itu menghasilkan keturunan yang menyatu dengan masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut.
Ukiran kayu Banjarmasin bermotif kaligrafi. Pengaruh kebudayaan Arab yang islami sangat menonjol di Indonesia. Hal ini terjadi karena efektifnya penyesuaian budaya islam kedalam budaya lokal Indonesia Patung Budha di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Contoh bangunan monumental yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha yang berawal dari kebudayaan India.
Interaksi sudah barang tentu membawa pengaruh kepada kebudayaan setempat yang telah ada sebelumnya, dalam hal ini kebudayaan Melayu dan kebudayaan Jawa. Perubahan kebudayaan asing yang dibawa ke Indonesia oleh bangsa asing, telah dapat diterima dan diserap oleh kebudayaan setempat (pribumi). Sejak dahulu kala sampai saat ini banyak bangsa asing yang datang ke Indonesia, dengan demikian telah terjadi kontak kebudayaan sejak berabad-abad lamanya.
Orang-orang keturunan Arab di Indonesia misalnya, lebih mudah bergaul dengan penduduk pribumi Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya persamaan latar belakang keagamaan, yaitu agama Islam, yang dibawa para pedagang bangsa Gujarat dari India pada sekitar abad ke-15. Ajaran agama Islam menjadi efektif di Indonesia setelah melalui proses penyesuaian dengan budaya lokal.
Pengaruh kebudayaan Arab yang sangat menonjol di Indonesia dapat dilihat dari bentuk bangunan mesjid, penggunaan kata-kata dari bahasa Arab, serta dalam berbagai tradisi atau upacara adat yang bernafaskan agama Islam.
Kontak kebudayaan dengan bangsa India yang secara luas dapat dirasakan ialah berkembangnya kebudayaan Hindu dan Buddka di Indonesia. Bukti adanya kontak dengan kebudayaan India adalah adanya peninggalan sejarah purbakala, antara lain candi Prambanan dan Borobudur yang terkenal itu.
Dalam keanekaragaman suku, agama, adat-istiadat, rasa persatuan dan kesatuan tetap dijunjung tinggi. Bhinneka Tunggal Ika
Sastra suci Ramayana dan Mahabharata yang didasarkan pada agama Hindu mengilhami seniman-seniman Indonesia menciptakan kreasi wayang purwa yang tumbuh dan berkembang tidak hanya di Jawa, tapi dikenal hampir di seluruh Nusantara. Demikian pula dalam kehidupan kemasyarakatan, sistem kasta di India diterapkan dalam kebudayaan Bali, terutama untuk mengatur pembagian kerja, serta sistem pewarisan kedudukan dan peranan sosial secara geneologis.
Keberadaan bangsa-bangsa asing di Indonesia menambah keanekaragaman kebudayaan yang ada. Pada umumnya mereka berupaya untuk membaur dengan orang Indonesia melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengadakan perkawinan campur. Hasil perkawinan campur inilah menurunkan bangsa atau suku-bangsa campuran, seperti orang Mestizo di propinsi Timor Timur, orang China peranakan, atau orang “Indo”. Meskipun demikian mereka tetap merasa sebagai bangsa Indonesia, yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di bawah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Profil seorang gadis Sunda. Meski beragama Islam - salah satu ciri kebudayaan Melayu-masyarakat Sunda memiliki corak budaya yang berbeda dengan Melayu atau Jawa
Ada sementara pendapat mengatakan,bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan non-Melayu dan non-Jawa adalah kebudayaan yang dimiliki oleh ras lain, seperti China (ras Mongol), Eropa (ras Kaukasia), Afrika (ras Negro), dan sebagainya. Meskipun demikian di antara bangsa Indonesia sendiri ada beberapa sukubangsa yang tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan Melayu dan wilayah kebudayaan Jawa, karena tidak memiliki ciri-ciri kedua tipe kebudayaan tersebut seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Orang Sunda dapat dijadikan salah satu contoh sukubangsa yang tidak dapat digolongkan dalam kebudayaan Melayu atau kebudayaan Jawa. Walaupun orang Sunda beragama Islam, yang merupakan salah satu ciri kebudayaan Melayu, namun mereka memiliki corak kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan Melayu atau Jawa.
Demikian pula halnya dengan orang Lampung, mereka juga beragam Islam namun memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri. Beberapa pihak membedakan sukubangsa Lampung menjadi dua sub-sukubangsa, yakni orang Lampung yang beradat pepadun (Lampung Pepadun) dan orang Lampung yang beradat Saibatin atau Peminggir (Lampung Peminggir). Orang Lampung memiliki bahasa sendiri yang disebut behasou Lampung atau umung Lampung atau cewo Lampung. Bahasa ini masih dapat dibagi menjadi dua logat atau dialek, yaitu dialek Lampung Belalau dan dialek Lampung Abung; yang masing-masing dibedakan atas dasar pengucapan “a” dan “o”, sehingga biasanya juga disebut dialek “a” dan dialek “o”. Orang Lampung juga mempunyai aksara sendiri, yang biasa disebut surat Lampung.
Upacara naik Pepadun, Lampung. Acara adat pemberian gelar ini membedakan masyarakat Lampung menjadi dua sub suku bangsa yakni Lampung Pepadun dan Lampung Peminggir atau Lampung Saibitin, yang menjalankan adat Saibitin. Seperti halnya orang Sunda, masyarakat Lampung, meski beragama Islam, juga memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri
Selain itu di Indonesia terdapat kelompok sosial lain yang tidak secara langsung mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu, akan tetapi menggunakan salah satu dialek dari bahasa Melayu. Sebagai contoh, di tanah Minahasa ada sejumlah sub-sukubangsa Minahasa yang masing-masing menggunakan dialek tersendiri.
Sedangkan sebagai sarana komunikasi antar anggota sub-sukubangsa itu digunakan bahasa lain, yaitu bahasa Melayu Manado.
Ketiga bentuk kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan Melayu, Jawa, serta non-Melayu dan non-Jawa, sesungguhnya telah saling berinteraksi sejak dahulu kala, yaitu sejak adanya kontak antara kebudayaan-kebudayaan tersebut. Kepentingan-kepentingan hidup sosial, ekonomi, dan politik, telah menjadikan interaksi itu bervariasi, mulai dari sifatnya yang positif berupa kerjasama atau tolong-menolong sampai yang negatif berupa perselisihan dan peperangan.
"Barongsay", salah satu contoh kesenian berasal dari Kebudayaan Tionghoa yang kemudian berakulturasi dengan kesenian lokal. Salah satu contoh gedung di Indonesia yang arsitekturnya dipengaruhi gaya arsitektur Eropa
Masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut beriteraksi untuk kepentingan hidup yang paling azasi, bergaul untuk memenuhi hasrat sosial dan kebutuhan hidup mereka. Pergaulan antara individu-individu yang berlainan jenis biasanya berakhir dengan perkawinan. Dari perkawinan itu diperoleh keturunan yang disebut peranakan, misalnya peranakan China, peranakan India, peranakan Belanda (Indo), dan sebagainya.
Tidak semua interaksi antara anggota-anggota ketiga kebudayaan tersebut menghasilkan pembauran. Akan tetapi adanya pembauran memang berawal dari adanya interaksi. Interaksi yang relatif banyak menghasilkan pembauran ialah dengan bangsa India dan Arab yang beragama Islam. Interaksi sosial yang berawal dari aktivitas perdagangan dan penyebaran agama, banyak menyebabkan perkawinan antara masyarakat setempat dengan para pendatang. Dari perkawinan itu menghasilkan keturunan yang menyatu dengan masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut.
Ukiran kayu Banjarmasin bermotif kaligrafi. Pengaruh kebudayaan Arab yang islami sangat menonjol di Indonesia. Hal ini terjadi karena efektifnya penyesuaian budaya islam kedalam budaya lokal Indonesia Patung Budha di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Contoh bangunan monumental yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha yang berawal dari kebudayaan India.
Interaksi sudah barang tentu membawa pengaruh kepada kebudayaan setempat yang telah ada sebelumnya, dalam hal ini kebudayaan Melayu dan kebudayaan Jawa. Perubahan kebudayaan asing yang dibawa ke Indonesia oleh bangsa asing, telah dapat diterima dan diserap oleh kebudayaan setempat (pribumi). Sejak dahulu kala sampai saat ini banyak bangsa asing yang datang ke Indonesia, dengan demikian telah terjadi kontak kebudayaan sejak berabad-abad lamanya.
Orang-orang keturunan Arab di Indonesia misalnya, lebih mudah bergaul dengan penduduk pribumi Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya persamaan latar belakang keagamaan, yaitu agama Islam, yang dibawa para pedagang bangsa Gujarat dari India pada sekitar abad ke-15. Ajaran agama Islam menjadi efektif di Indonesia setelah melalui proses penyesuaian dengan budaya lokal.
Pengaruh kebudayaan Arab yang sangat menonjol di Indonesia dapat dilihat dari bentuk bangunan mesjid, penggunaan kata-kata dari bahasa Arab, serta dalam berbagai tradisi atau upacara adat yang bernafaskan agama Islam.
Kontak kebudayaan dengan bangsa India yang secara luas dapat dirasakan ialah berkembangnya kebudayaan Hindu dan Buddka di Indonesia. Bukti adanya kontak dengan kebudayaan India adalah adanya peninggalan sejarah purbakala, antara lain candi Prambanan dan Borobudur yang terkenal itu.
Dalam keanekaragaman suku, agama, adat-istiadat, rasa persatuan dan kesatuan tetap dijunjung tinggi. Bhinneka Tunggal Ika
Sastra suci Ramayana dan Mahabharata yang didasarkan pada agama Hindu mengilhami seniman-seniman Indonesia menciptakan kreasi wayang purwa yang tumbuh dan berkembang tidak hanya di Jawa, tapi dikenal hampir di seluruh Nusantara. Demikian pula dalam kehidupan kemasyarakatan, sistem kasta di India diterapkan dalam kebudayaan Bali, terutama untuk mengatur pembagian kerja, serta sistem pewarisan kedudukan dan peranan sosial secara geneologis.
Keberadaan bangsa-bangsa asing di Indonesia menambah keanekaragaman kebudayaan yang ada. Pada umumnya mereka berupaya untuk membaur dengan orang Indonesia melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengadakan perkawinan campur. Hasil perkawinan campur inilah menurunkan bangsa atau suku-bangsa campuran, seperti orang Mestizo di propinsi Timor Timur, orang China peranakan, atau orang “Indo”. Meskipun demikian mereka tetap merasa sebagai bangsa Indonesia, yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan di bawah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Keanekaragaman Budaya
Keanekaragaman Budaya menjadi Kekayaan Bangsa Tiada Tara
[Senin,20 Juni 2005]
Hal itu terungkap dalam sambutan Gubernur Kaltim yang diwakili Wagub Kaltim, Yurnalis Ngayoh, saat membuka Rapat Kerja Teknis V, Kebudayaan dan Pariwisata se Kalimantan Timur, Rabu (15/6). Rakernis yang diikuti oleh Dinas Pariwisata Porpinsi, Kabupaten, dan Kota serta instansi terkait lainnya se Kalimntan Timur itu, berlangsung selama dua hari, di Anjungan Kaltim, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Dalam sambutannya, Wagub mengharap kepada para peserta raker agar mengevaluasi kembali kemajuan dan kendala dalam berbagai program kerja yang telah dilaksanakan. Menurutnya, kelemahan di bidang kebudayaan dan pariwisata, adalah belum piawainya dalam merencanakan dan mengemas paket-paket yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kaltim, baik wisatawan nusantara, maupun wisatawan mancanegara. Berkenaan dengan itu, dia menekankan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, katanya, diperlukan kesungguhan semua pihak untuk duduk bersama merumuskan strategi yang jitu untuk mengembangkan dan menjual potensi wisata, seni dan budaya yang hidup subur di Bumi Etam Kalimantan Timur. Disamping itu perlu kerjasama yang harmonis antara Dinas Pariwisata Propinsi dengan Kabupaten/Kota, termasuk biro perjalanan dalam melaksanakan kegiatan di luar Kaltim, dan event-event besar berskala internasional. Hal yang tak kalah pentingnya, menurutnya, agar segenap jajaran Dinas Pariwisata Propinsi, Kabupaten, dan Kota terus menfungsikan prasarana dan sarana yang telah dibangun dan memelihara kebersihan lingkungan. Kalimantan Timur yang cukup kaya akan keindahan alam, dan obyek-obyek wisatanya cukup menarik perhatian wisatawan nusantara, maupun mancanegara. Namun terbatasnya sarana transportasi dan SDM yang mampu mengemas dan menjual obyek-obyek wisata tersebut, mengakibatkan belum begitu banyak wisatawan yang berkunjung ke Kaltim. “Apalagi paket-paket wisata yang dibuat juga masih terkesan jalan sendiri-sendiri, sehingga belum banyak menarik minat orang luar untuk menikmati keindahan alam dan budaya Kalimantan Timur”, katanya. Untuk itu, katanya, perlu penyusunan rencana program strategis yang komprehensif dan aplikatif, terutama dalam rangka turut serta menyukseskan PON XVII/2008 di Kalimantan Timur. “Melalui event tersebut diharapkan menjadi peluang yang sangat strategis untuk bidang kebudayaan dan pariwisata dalam memasarkan potensi wisata dan budaya yang hidup subur di Bumi Etam Kalimantan Timur”, harapannya. Sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, merupakan kekayaan bangsa yang tiada tara. Budaya bukan saja dapat dijadikan sebagai obyek wisata tetapi juga sebagai perekat bangsa. “Sebagai obyek wisata bukan berarti kita ingin mengkomersialkan budaya suku-suku yang ada di Kaltim, tetapi yang lebih utama adalah melestarikan dan meningkatkan harkat dan kesejahteraannya’, kata dia. Sebelum mengakhiri sambutannya, Wagub mengharapkan kepada para peserta dan pihak-pihak terkait lainnya agar senantiasa meningkatkan pelayanan dan keamanan di lokasi tempat usaha, tempat rekreasi, tempat hiburan dan obyek-obyek wisata lainnya. Juga dia berharap agar event budaya dan pariwisata daerah dapat digelar secara konsisten dan berkelanjutan. ”Disamping itu mempromosikan paket wisata daerah secara terpadu dengan kegiatan promosi potensi daerah pada sektor lainnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, jangan dilupakan”, pintanya. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwsata Kaltim, Drs. H Syafruddin A.H. merencanakan, usai rakernis yang mengambil tema ”Kita Tingkatkan Kinerja Kepariwisataan dalam Rangka Menyukseskan PON XVII/2008 di Kaltim itu ditutup, akan melanjutkan kunjungan wisata ke Jawa Barat. ”Selain melihat objek-objek wisata di sana, juga ingin mempererat tali silaturahmi dengan Pemprop. Jabar, sekaligus sebagai kunjungan balasan”, jelasnya. (hms.1)
[ Kembali ]
copyright © 2009 All Right Reserved by Pemprov. Kaltim
[Senin,20 Juni 2005]
Hal itu terungkap dalam sambutan Gubernur Kaltim yang diwakili Wagub Kaltim, Yurnalis Ngayoh, saat membuka Rapat Kerja Teknis V, Kebudayaan dan Pariwisata se Kalimantan Timur, Rabu (15/6). Rakernis yang diikuti oleh Dinas Pariwisata Porpinsi, Kabupaten, dan Kota serta instansi terkait lainnya se Kalimntan Timur itu, berlangsung selama dua hari, di Anjungan Kaltim, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Dalam sambutannya, Wagub mengharap kepada para peserta raker agar mengevaluasi kembali kemajuan dan kendala dalam berbagai program kerja yang telah dilaksanakan. Menurutnya, kelemahan di bidang kebudayaan dan pariwisata, adalah belum piawainya dalam merencanakan dan mengemas paket-paket yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kaltim, baik wisatawan nusantara, maupun wisatawan mancanegara. Berkenaan dengan itu, dia menekankan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, katanya, diperlukan kesungguhan semua pihak untuk duduk bersama merumuskan strategi yang jitu untuk mengembangkan dan menjual potensi wisata, seni dan budaya yang hidup subur di Bumi Etam Kalimantan Timur. Disamping itu perlu kerjasama yang harmonis antara Dinas Pariwisata Propinsi dengan Kabupaten/Kota, termasuk biro perjalanan dalam melaksanakan kegiatan di luar Kaltim, dan event-event besar berskala internasional. Hal yang tak kalah pentingnya, menurutnya, agar segenap jajaran Dinas Pariwisata Propinsi, Kabupaten, dan Kota terus menfungsikan prasarana dan sarana yang telah dibangun dan memelihara kebersihan lingkungan. Kalimantan Timur yang cukup kaya akan keindahan alam, dan obyek-obyek wisatanya cukup menarik perhatian wisatawan nusantara, maupun mancanegara. Namun terbatasnya sarana transportasi dan SDM yang mampu mengemas dan menjual obyek-obyek wisata tersebut, mengakibatkan belum begitu banyak wisatawan yang berkunjung ke Kaltim. “Apalagi paket-paket wisata yang dibuat juga masih terkesan jalan sendiri-sendiri, sehingga belum banyak menarik minat orang luar untuk menikmati keindahan alam dan budaya Kalimantan Timur”, katanya. Untuk itu, katanya, perlu penyusunan rencana program strategis yang komprehensif dan aplikatif, terutama dalam rangka turut serta menyukseskan PON XVII/2008 di Kalimantan Timur. “Melalui event tersebut diharapkan menjadi peluang yang sangat strategis untuk bidang kebudayaan dan pariwisata dalam memasarkan potensi wisata dan budaya yang hidup subur di Bumi Etam Kalimantan Timur”, harapannya. Sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, merupakan kekayaan bangsa yang tiada tara. Budaya bukan saja dapat dijadikan sebagai obyek wisata tetapi juga sebagai perekat bangsa. “Sebagai obyek wisata bukan berarti kita ingin mengkomersialkan budaya suku-suku yang ada di Kaltim, tetapi yang lebih utama adalah melestarikan dan meningkatkan harkat dan kesejahteraannya’, kata dia. Sebelum mengakhiri sambutannya, Wagub mengharapkan kepada para peserta dan pihak-pihak terkait lainnya agar senantiasa meningkatkan pelayanan dan keamanan di lokasi tempat usaha, tempat rekreasi, tempat hiburan dan obyek-obyek wisata lainnya. Juga dia berharap agar event budaya dan pariwisata daerah dapat digelar secara konsisten dan berkelanjutan. ”Disamping itu mempromosikan paket wisata daerah secara terpadu dengan kegiatan promosi potensi daerah pada sektor lainnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, jangan dilupakan”, pintanya. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwsata Kaltim, Drs. H Syafruddin A.H. merencanakan, usai rakernis yang mengambil tema ”Kita Tingkatkan Kinerja Kepariwisataan dalam Rangka Menyukseskan PON XVII/2008 di Kaltim itu ditutup, akan melanjutkan kunjungan wisata ke Jawa Barat. ”Selain melihat objek-objek wisata di sana, juga ingin mempererat tali silaturahmi dengan Pemprop. Jabar, sekaligus sebagai kunjungan balasan”, jelasnya. (hms.1)
[ Kembali ]
copyright © 2009 All Right Reserved by Pemprov. Kaltim
Langganan:
Komentar (Atom)