google-site-verification: google50d34473960e8a7f.html Cakrawala Budaya: 2009

Wedding

Wedding in Watamu
A dream come true location for your wedding celebration

Minggu, 13 Desember 2009

Kota Budaya

Solo, Kota Budaya Penuh Sejarah

Sriwijaya Post - Minggu, 14 Juni 2009 12:20 WIB

SOLO atau Sala atau Surakarta adalah nama kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini dikenal sebagai kota transit yang letaknya sangat strategis karena merupakan pertemuan jalur dari Semarang-Jakarta menuju Surabaya dan Bali. Kota Surakarta bukan saja kota tua yang berdiri sekitar 1745 lalu, namun juga kota yang memiliki peran sejarah sangat besar setelah perpecahan Mataram. Surakarta menjadi pusat pemerintahan. Penulis yang mengadakan perjalanan menuju Kabupaten Boyolali, Jateng, sempat singgah dan menginap selama dua hari di kota Solo, Senin (8/6) lalu.
Menuju kota Solo tidaklah sulit, hampir setiap maskapai penerbangan punya rute ke Surakarta, lalu mendarat di lapangan terbang internasional Adi Sumarmo Solo dengan waktu tempuh sekitar 60 menit dari Jakarta. Melalui jalan darat dapat ditempuh dengan perjalanan jalur Semarang menuju Madiun melalui jalur Selatan dan jalur Utara, ditempuh dengan menumpang Kereta Api, lalu berhenti di Station Solo Balapan. Sehingga praktis semua jalur dapat ditempuh menuju kota Solo.
Waktu satu hari memang belum begitu cukup untuk menikmati wisata alam dan wisata budaya di kota Solo. Saat menginjakkan kaki, aroma kebudayaan dengan keraton kasunanan dan Mangkunagaran yang kuno dan megah sudah begitu kental terasa.
Mengamati areal keraton Mangkunegara yang memiliki luas mencapai 5,4 hektar, wisatawan diajak mengenal adat istiadat dan budaya yang masih kental dipertahankan. Memasuki areal kraton, pelancong pasti terheran dengan masih kokoh berdirinya dua pohon beringin kembar yang konon berusia 250 tahun. Pengunjung dianjurkan untuk tidak melalui sisi kiri maupun kanan pohon kembar yang diberi nama Joyondaru, yang diyakini berjenis kelamin Laki-laki dan Dewandaru yang berjenis kelamin perempuan, tapi harus melalui jalur tengah antara sisi kanan dan sisi pohon beringin. Karena bila kebisaan ini dibantah, tujuan pengunjung untuk memasuki areal istana keraton tidak akan tercapai atau melenceng dari jalur yang telah disediakan.
Sebelum melewati kedua pohon kembar ini, alangkah baiknya bila pelancong berkenalan langsung dengan Pak Sukardi (84) yang telah diberi mandat oleh pihak keraton untuk menjaga pohon kembar ini. Menemui Pak Sukardi tidaklah terlalu sulit, pria yang berpenampilan sederhana ini sembari menunggu pengunjung menyempatkan diri berdagang rokok di sebelah kiri salah satu pohon kembar. Sukardi mengaku telah hampir delapan tahun ditunjuk pihak kraton untuk menjaga pohon kembar ini dan bersedia memberikan keterangan yang diminta wisatawan.
Keraton
Setelah melewati pohon beringin kembar ini pelancong dengan lancar dapat memasuki areal kraton surakarta. Sebelum memasuki areal kraton, sangat sayang bila pelancong melewatkan kesempatan untuk singgah dulu memasuki museum keraton yang menyimpan koleksi peradaban dan sejarah berdirinya keraton surakarta. Memasuki gedung museum, di sisi kanan dan kiri pintu masuk museum akan berdiri patung pasukan keraton berpakaian merah. Memasuki gedung bersegi empat ini di sisi kiri nampak berbagai peralatan yang biasa digunakan kesunanan pertama keraton Surakarta. di antara peralatan tersebut terdapat dandang untuk menanak nasi berukuran besar, maket pendopo tradjumas, Tulan Janngkrik dan Tulan semartinendu, Kayung perahu kyai Raja Mala, kereta kuda, peralatan perang seperti bedil dan pedang serta banyak koleksi benda budaya lainnya yang nampak terjaga dan tersimpan rapi.
Pelancong yang terlarut dalam sejarah keraton selain menikmati benda sejarah di dalam musium, jangan pula melewatkan kesempatan mengamati bagian luar atau tengah bagian luar museum yang terdapat dua sumur tua. Menurut Lanzar (42), salah seorang petugas, sumur yang dikenal dengan nama sumur songo ini merupakan lokasi bertapa raja kesembilan. Sekilas diamati air sumur ini nampak bening dan bersih, sehingga pengunjung berkeyakinan untuk menikmati langsung dengan meminum air sumur ini. “Airnya sangat bersih dan pernah diperiksa di laboratorium UNS tidak mengandung bakteri dan limbah,” tukas Lanzar seraya mengaku musim kemarau sumur sedalam enam meter ini tidak pernah kering dan hanya berkurang sekitar dua meter saja.
Memasuki halaman keraton yang terletak di sebelah utara museum, Pelancong akan berhadapan dengan abdi dalem yang lengkap dengan seragam batik kerajaan namun tidak mengenakan alas kaki baik sandal maupun sepatu. Mereka dengan ramah menyambut kedatangan wisatawan dan mengingatkan areal yang tidak bisa dijamah para wisatawan di sekitar keraton. Sekiling keraton nampak berdir sekitar 13 i patung yang berdiri kokoh sejak zaman VOC. Hutomo Gunadi (61) salah seorang abdi dalem tidak akan segan memperingatkan wisatwan yang mencoba memasuki areal yang dilarang.
selain dibekali dengan pengetahuan seputar keraton, para abdi dalem ini juga memiliki kemampuan untuk meramal sehingga memudahkan wisatawan untuk berteman akrab layaknya seperti saudara. Inilah kekhasan suasana kraton yang nampak sepi tanpa penjagaan, namun diakui masih aman dan tenteram. Suasana kraton nampak bersih walaupun beberapa peralatan seperti pudar ditelan zaman namun memancarkan makna terhadap cerita sejarah bangsa.
Pengunjung hendaknya tidak berhenti menggali potensi wisata di kota Solo, masih ada lokasi lain yang kalah asyik untuk menyimak peradaban bangsa di kota Solo, di antaranya dengan berwisata di istana mangkunegara, museum galeri batik kuno danarhadi, taman sriwedari, pasar gedhe dan pasar tradisional kelewer. Wisata alampun jangan dilewatkan, di antaranya dengan mengunjungi wisata alam tawangmangu yang dikenal sebagai puncaknya Solo yang bersuhu dingin, mengunjungi fosil rahang gajah dan kepala kerbau disitus sangiran, mengunjungi candi dan mengunjungi wisata gunung merbabu dan gunung merapi serta objek wisata lainnya.
Tempat jajanan pun tidak kalah asyik dengan berkunjung ke pasar malam kawasan Bagan yang menampilkan menu khas Solo serta pasar seni kerajinan rakyat yang digelar setiap malam minggu.
sripo cetak/naafi

© 2008-2009 Sripoku.com. All Right Reserved

Minggu, 01 November 2009

Wisata Budaya

Wisata Budaya
Kraton Jogja
Kraton ( istana )Kasultanan Yogyakarta terletak dipusat kota Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya.Pada tahun 1955 terjadilah perjanjian Giyanti yang isinya membagi dua kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. lanjut
Puro Pakualaman
Selain Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di Yogyakarta terdapat sebuah istana lain yang terletak di jalan Sultan Agung, istana Puro Pakualaman, tempat tinggal Sri Pakualam IX, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Istana ini sering dipergunakan untuk menerima tamu-tamu Negara yang berkunjung ke daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. lanjut
Istana Air Tamansari
Terletak lebih kurang 400 meter dari komplek Kraton Yogyakarta atau sekitar 10 menit jalan kaki ke pasar burubg dari halaman Mangangan. Tamansari berarti Taman yang indah, dimana zaman dahulu merupakan tempat rekreasi bagi Sultan Yogyakarta beserta kerabat istana. Kini, Tamansari dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Mulai dari pukul 08.00 hingga hingga 16.00. lanjut
Makam Kota Gede
Kunjungan ke Makam Kotagede merupakan perjalanan wisata ziarah yang masih berkaitan dengan kunjungan ke obyek-obyek wisata di lingkungan Kraton Yogyakarta. Sebenarnya makam ini bernama Makam Sapto Renggo, namun umumnya masyarakat Yogyakarta menyebut sebagai makam Kotagede, sesuai dengan nama daerah ini yang terletak di sudut Tenggara Kota Yogyakarta, lebih kurang 5 kilometer dari pusat Kota. lanjut
Makam Imogiri
Makam Imogiri sebenarnya Makam Hastarengga, dan merupakan makam yang lebih muda usianya dibandingkan dengan makam Kotagede. Di makam Imogiri ini, dimakamkan Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram sepeninggal Panembahan Senopati, terutama putra Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Makam ini dibangun di atas bukit, dan untuk mencapainya kita harus mendaki tangga dari batu berundak sebanyak 345 buah hingga tiba di suatu persimpangan jalan. lanjut
Makam Giri Gondo
Makam Girigondo terletak di Gorigondo Kec.Temon merupakan makam keluarga Paku Alam. Di sini telah dimakamkan Almarhum Paku Alam ke V, VI, dan VII beserta keluarganya. Makam ini terletak di atas bukit, seperti halnya makam raja-raja Mataram dan keturunannya yang ada di Imogiri. lanjut
Makam Nyi Ageng Serang
Makam ini terletak di atas bukit di desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, ± 6 km dari jalan Dekso-Muntilan. Jarak dari Yogyakarta ± 32 km, dari kota Wates ± 30 km. Makam ini dipugar pada tahun 1983 dengan bangunan berbentuk joglo dan telah dimakamkan disini Nyi Ageng Serang beserta abdi dalemnya. lanjut



Jogja Info
• Semua Tentang Jogja
• Cara Berkunjung ke Jogja
• Wisata Budaya
• Wisata Sejarah : Candi
• Wisata Museum
• Monumen
• Wisata religius
• Upacara Tradisional
• Wisata Alam: Gunung
• Wisata Alam: Pantai
• Wisata Alam: Gua
• Wisata Pedesaan
• Wisata Agro
• Tempat Menarik
• Wisata Belanja
• Wisata Pendidikan
• Wisata Boga
• Tips Berguna
• Jadwal Transportasi


Agenda

Direktori Wisata
• Aircraft
• Budget Hotels
• Cafe
• Car Rental
• Cargo
• Catering
• Cultural show
• Event Organizer
• Gallery
• Mall
• MICE
• Star Hotels
• Store
• Tour Operators
• Trade Center
• Travel Agent
• ~Others in Acommodation
• ~Others in Shopping
• ~Others in Transportation
• ~Others in Travel


| Home | Berita | Direktori | Pariwisata | Agenda | Kerajinan | Pendidikan | Iklan | Peta | Tentang Kami |


Copyright © 2006 Jogja.com

Minggu, 18 Oktober 2009

Indonesia Pusat Kebudayaan Dunia
Pusat kebudayaan dunia berawal dari Indonesia. Pernyataan ini mungkin terlampau naif dan spekulaitf. Namun saya sendiri memiliki keyakinan bahwa ada indikasi tersebut. Mindset awal Indonesia sebagai awal dari peradaban ini dapat menghasilkan usaha untuk menggali sejarah dari sudut pandang Indonesia. Sains yang diajarkan dan dipelajari saat ini merupakan European Minded sebagai penjajah dan pelopor ilmu pengetahuan saat ini. Sekarang kita telah merdeka dan sudah saatnya ilmu Sejarah digunakan dengan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

Indikasi yang saya temukan pada buku terbitan tahun 90 an oleh profesor Biologi Oxford Stephen Oppenhaimer yang menyatakan Indonesia sebagai pusat kebudayaan:

Mitologi Dunia dan Geologi Paparan Sunda
Banjir besar nabi nuh menenggelamkan umat manusia sehingga kapalnya harus meninggalkan tempat tinggalnya yang telah tenggelam. Mitologi dari Bibble ini tidak hanya eksusif milik peradaban Judaisme. Cerita serupa juga terdapat di mitologi China pada jaman. Lalu cerita tersebut juga ditemukan di Papua, Kepulauan Pasifik hingga Afrika. Bila memang mitologi itu benar-benar terjadi maka di manakah kemungkinan letak terjadinya. Jawabanya adalah paparan Sunda.

Mengapa dipilih paparan Sunda? Karena bukti geologi juga mengindikasikan bahwa banjir besar memang terjadi beberapa kali di Paparan Sunda sehingga mendorong orang berkebudayaan tinggi tersebut menyebar ke berbagai belahan dunia. Bangsa Austronesia yang terkenal sebagai pelaut ulung telah terbukti dapat merakit sampai kepulauan pasifik dan Afrika sehingga orang yang selamat tersebut memiliki pararelitas yang sama dalam mitologinya.

Genetik
Database marka genetik mannusia sudah cukup banyak. Dengan metode pohon filogenetika manusia berbagai suku dikumpulkan dan dibentuk laju evolusinya. Ternyata ditemukan suku pedalaman di Indonesia sebagai ancestor dari suku lainya.

Teori yang menyatakan orang Indonesia berasal dari pulau Formosa sekitar 4000 tahun lalu yang diyakini para akademisi sudah mendapat bantahan dari M.Richards peneliti dari University of Leeds. Orang Indonesia yang juga dikenal sebagai orang Austronesia ternyata mulai bermigrasi sekitar 10.000 tahun yang lalu dan pusatnya berasal di Indonesia bagian Wallacea.

Pertanian
Indonesia dikenal memiliki kekayaan teknik pertanian yang sangat tinggi. Ketika teori pertanian di Indonesia dibawa dari pulau Formosa diajukan ternyata terdapat kontradiksi karena tiap daerah di Indonesia memiliki keunikan teknik pertanian yang unik. Terdapat perbedaan dari teknik pertanian di Kalimantan dengan Jawa. Kita dapat melihat betapa kagumnya penduduk bumi dengan keindahan subak di Bali, ini merupakan indikasi betapa rumit dan luhurnya budaya kita. Saya percaya kalau teknologi pertanian berawal dari Indonesia yang menyebar ke seluruh dunia. Pararelitas dengan cerita wayang: Semar cultivated a small rice field near Mount Merbabu for ten thousand years before there were any men. His descendents, the spirits of the island, came into conflict with people as they cleared fields and populated the island

Teknik Bahari
Indonesia terkenal dengan kemampuan melautnya, Kapal yang terdapat di relief candi Borobudur, replikanya telah mampu mengarungi samudra Hindia dan sampai ke Afrika. Ini mengindikasikan kemampuan orang Indonesia untuk bermigrasi ke berbagai belahan dunia jauh sebelum jaman Cheng Ho maupun Colombus.

Kekayaan Suku dan Bahasa
Indonesia memiliki 17000 pulau dan 600 suku dan bahasa. Pembentukan bahasa sebanyak itu tidak mungkin terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Dengan perbandingan Eropa yang memilki berbagai negara tersebut tidak mampu menandingi jumlah bahasa yang ada di Indonesia. Indikasi kebudayaan kita lebih awal daripada belahan dunia lain.

Nanti dilanjutkan lagi deh berbagai Indikasi kekayaan dan kejayaan bangsa kita. Yang pro dan kontra silakan beri komen, semoga mindset awal Indonesia sebagai Pusat Kebudayaan Indonesia membakitkan harkat dan kebanggan bangsa kita
doyouangry is offline QUOTE
doyouangry
View Public Profile
Find More Posts by doyouangry
Unread 24-03-2009, 07:52 PM #2
jimtoyz
aktivis kaskus

Selasa, 18 Agustus 2009

Thai Wedding Ceremony

Thai Wedding Ceremony

One of the most important occastions of the person's life after birth is the wedding ceremony as it places value on that particular moment when man and woman have decided to be united in a bond that will influence the rest of their lives. Therefore, the ceremony must be held in a beautiful and sacred way. Above all, astrologers will be consulted beforehand in order to find out if the stars of those to be married are compatible and if so what should be the auspicious day and time for the ceremony. But mostly the ceremony will be held in August which is considered as the most auspicious month for wedding.

Usually in the countryside, a marriage takes place at the age of 20 while in the city this maybe late, up to 28 - 35. This depends on the readiness of the persons who want to enter into marriage. At the same time, nowadays most young people choose their own marriage partners while arranged marriage is very rare.

The most interresting part of the wedding ceremony is a procession of "Khan Mark" (offering items) as relatives and friends of the groom dance their way to the house of the bride with their hands full of offering.

The engagement ceremony must take place before the wedding, however, some couples may prefer to hold the engagement and wedding ceremony on the same day as a means of saving money. The engagement ceremony is usually done through the offering of an engagement ring to the girl while the wedding cremony will be incomplete without the offering of "Sin-sod" which is the money to be given to the bride's parents by the groom's parents of the amount they demand.

The wedding ceremony begins in the morning with the chanting of monks, then the couple and relatives offer food to the monks who, after their meal, will chant again while the senior monk will go around to bless the couple and the whole gathering with holy water before they go back to the temple.

After the dinner reception, the last ceremony to be performed is the sending-off of the bride and groom to the room specially arranged with the decoration of roses. The ceremony will usually be guided by the elder villager and eventually, the ceremony ends here.
Information on this page mainly comes from a book called "Essays on Thailand" by Thanapol Chadchaidee. It is used here with his permission. The book contains 60 essays about Thailand written in Thai and English. Click here if you want to buy it!

Traditional Javanese wedding Ceremonies

NGERIK Ceremony
After the Siraman. The bride sits in the wedding room. The Pemaes should dry her hair by using towel and smoke of perfumed powder (RATUS) should be passed her hair. When the hair is drying, it is combed backside and strongly tied up in gelung hairdo style. The Pemaes cleans her face and neck and start to make up. Ngerik means to save unnessarary hairs on her face by using a Razor.

Sajen/ offering for NGERIK
The sajen for Ngerik is the same with the sajen for Siraman. For pratical reason all sajen for siraman brought to the wedding room and function as the offering for NGERIK RITUAL.

The execution of NGERIK
The Pemaes should carefully and skilfully doing her make up of the bride. The face should be make up in accordance with the marriage pattern. At the end, the bride should be dressed with Kebaya (woman shirt) and Batik cloth with design of SIDOMUKTI or SIDOASIH symbolizing, she would have a prosperous life and adored by other people.

MIDODARENI Ceremony
This ceremony takes place in the eve of IJAB and Panggih ceremonies. Midodaremi is derived from the word Widodari means goddess. The would be bride this evening is becoming very beautiful like a goddess, she should be visited by some goddesses from heaven according to ancient belief. She has to stay in the room the whole evening from 6.00 p.m. to midnight accompanied by some elder women giving her useful advice. The family of the would be bridegroom and her very close friends should also visit her for a while, all of them are women.
The bride's parents should feed her for the last time. As from tomorrow, she is in her husband's responsibility.

Sajen/offering for MIDODARENI

1. Rice cooked with coconut milk
2. Well cooked cock (INGKUNG)
3. Vegetable sauces
4. Telon flowers
5. Tea and coffee without sugar
6. Drink from young coconut meat with coconut sugar
7. Latern which is lighted
8. Bananas of Raja (king) variety
9. Flowers in water bowl
10. A baked glutinous rice, bread
11. Cigar and pipe made of papaya leave

Items put in the wedding room

1. One set of Kembar Mayang
2. 2 earthenware vases filled with spices, medical herbs, rice, peanuts etc covered with Bango Tulak cloths.
3. 2 Kendis filled with holy water covered with dadap srep leave.
4. UKUB- a tray with several kinds of perfumed leaves and flowers put under the bed.
5. Suruh Ayu- betel leaves with its supplement.
6. Areca nut.
7. Seven kinds of cloth with letrek design.

The offering could be taken out of the room at midnight. The family and guests could eat it.

Ceremonies outside the wedding room
Outside the room, there are the parents and the family or close friends of the would be bride meeting with the family of the would be bridegroom, eating and speaking to each other. Nowadays for practical reason, during the midodareni, other rituals could be conducted at the same time, such as:

Peningsetan or SRAH-SRAHAN
The family of the would be bridegroom gives some items to the parents of the would be bride (see Peningsetan Ritual). In this occasion both sides of families should make acquintance to each other in a more relax atmosphere. Then the family of the would be bridegroom (only women) visit the would be bride in the attractively decorated wedding room.

NYANTRI
In fact the would be bridegroom come together with his family, but he is not entitled to enter the house. While his family is inside the house, he sits in the veranda of the house accompanied by some friends or relatives. During that time he is only given a glass of water, and he is not allowed to smoke. He may eat only after midnight. It is a lesson that he must be able to resist hunger and temptation. Before his family left the house, an envoy of his parents tells the host and the hostess that he hands over the would be bridegroom to the responsibility of the host and the hostess, the envoy further says that the would be bridegroom is not going back home. After the visitors left the house, the would be bridegroom is allowed to enter the house but not the wedding room. The parents of the would be bride should arrange his lodging. This called Nyantri. Nyantri is done on purpose for safety and practical reason, considering that tomorrow he should be dressed and prepared for Ijab and other wedding ceremonies.

IJAB Ceremony As it has been described above, Ijab ceremony is the most important requirement to legalize a marriage. The implementation of Ijab is in accordance with the religion of the couple. Nowadays, the state recognizes five existing religions: ISLAM, CHRISTIAN and CATHOLIC, HINDU, BUDHA. Whatever religion they confess, they are wearing traditional dresses. In the place where the IJAB is conducted, a sanggan offering put there. After the IJAB, traditional ceremonies of panggih etc and a reception should follow to complete the whole wedding ceremonies.

The Art of Javanese Traditional Wedding
In Java people oftenly says that birth, marriage and death are the wish of God. It is easily understood that wedding rituals should be implemented accordingly. It grows to be an exhibition of traditional art and culture, an integral part of the Nation's Identity. Where the noble symbols of life exposed with pride and dignity.
This great tradition, inherited from ancient time, strongly preserved by the people. The Javanese selectively embraces modernazition but the root of tradition remains. The existance of Palaces/Karatons in Yogyakarta and Surakarta, as centers of art and culture plays a positive role. The most significant is the people's sincere care to conserve its own culture.
The hard work and determination to maintain traditional culture by the Karatons, related experts and all parties concern have flourished the culture in the pleasant direction. Some consistent efforts have to be made to improve the favourable trend.

Popularity of Javanese traditional wedding ceremony
In 1960's, some Pemaes had started to popularize this traditional wedding ceremony outside the Karaton ring. With the silent blessing of the Karaton, the four EMPU (great Guru) Pemaes from the Yogyakarta court families, namely:
The late Mrs. PRADJOKOHALPITO, the late Mrs. DONOLOBO, the late Mrs. SOSRONEGORO and Mrs. SARDJONO YOSODIPURO formed the first Association of Pemaes P.P. 16 to introduce and spread the art of traditional bridal make up and wedding ceremonies to the society outside the Karaton wall. They also improved their expertise by learning and adopting the pattern from Surakarta palaces.
The four EMPU Pemaes had their own forum of communication by the name of HASTANATA to intensify the spreading of this art. Although they are great artists but they worked untiredly and travelled a lot across the territory in different towns and villages by any means of transportation such as traditional becak (pedicab) or andong (four wheeled carriage drown by a horse) or public transport such as buses and trains. The private cars were rare and aeroplane was too luxurious for the early years of the pioneers. Mean while in Surakarta, Mrs. Dinar Woerjanto did almost the same. She and a few other Pemaes spread this art of classical bridal make up to every strata of society in different places. Along with the economic progress of the country, their fight gave a tremendous result in the art and culture and business related with wedding ceremonies, such as in the fields of:

1. Sajen/offering made and flower arrangements
2. Dresses, batik, keris, jewelries , ornaments and other items used in a wedding party
3. Food and beverages (catering)
4. Performing arts; gamelan music orchestra and classical dance
5. The service of photography (lately) video shooting and sound system.
6. Renting of public and hotel halls for wedding reception
7. Renting of tent, furniture, carpets and special decorated cars for the married couple etc.
8. The service of Masters Ceremonies
9. The service of some assistants to Pemaes. (in a complete ceremonies a Pemaes should not be able to work by her self)

In April 1978 in Semarang, the capital of Central Java Province, for the first time a workshop on "Javanese traditional bridal make up" was organized. The four Empu Pemaes, with the help of other experts were given the opportunity to run the show, under the supervision of directorate general of Culture. This successful event brought a positive result of making uniformity for Yogyakarta and Surakarta patterns of traditional bridal make up.
Needless to say that as a result of their tremendous achievement by practising their profession with utmost devotion, in many places and occassions, in remote villages, different cities and in also in Karaton, they have received different Awards and Appreciation from government and private institutions.

(Joglosemar Website is grateful to Mrs. Sardjono, Mrs. Dinar Woerjanto, Mrs. Tinoek Rifki, Mrs. Danarti Murwanto for the interviews and photos)

(Suryo S. Negoro)

Copyright© PT Sangga Sarana Persada, 1997-2000
Designed by Sangga Web Team
Any comment and question related to this page, please contact
webmaster@joglosemar.co.id

Senin, 01 Juni 2009

Halmahera Utara.com

KEBUDAYAAN SEBAGAI ALAT PEREKAT MASYARAKAT
(09-05-2009) Administrator Halmahera Utara.com
Dalam sejarah perjuangan bangsa para perintis telah dengan susah payah membangun dan mempertahankan bangsa ini. Membangun tentu membutuhkan proses yang panjang. Begitu juga di negeri Hibualamo. Pembangunan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang mengedepankan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi dan golongan.

Berbicara tentang kebudayaan berarti tidak terlepas dari tuntutan harga diri atau jati diri anak bangsa terutama kita sebagai masyarakat Halmahera Utara. Kita sepakat bahwa jatuh bangunnya sebuah daerah terletak dari keutuhan sebuah budaya yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Secara nasional kebudayaan adalah pencerminan sebuah bangsa yang memberikan dampak positif dalam membangun bangsa yang demokratif dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Kebudayaan daerah merupakan bagian dari budaya bangsa yang perlu dipertahankan nilai-nilai kemanusiaannya. Seorang tokoh atau pemimpin perlu memahami tentang tata krama atau tatanan dalam memberikan arah dan kebijakan untuk memajukan pemerintah, pembangunan dan kemasyarakatan dimana dia berada.

Halmahera Utara memiliki potensi budaya dari berbagai suku dan agama. Karena penduduk di daerah ini sudah berasimilasi dengan suku-suku yang ada di Indonesia. Sehingga daerah ini disebut dengan daerah yang memiliki budaya supra etnis. Hal ini dapat dibuktikan diberbagai sektor, baik sebagai tenaga organik pada kantor pemerintahan atau sebagai pimpinan di instansi pemerintah, politisi, juga sebagai pemimpin organisasi dan juga sebagai tenaga pendidik ataupun tokoh agama. Saya yakin bahwa keragaman etnis, suku dan agama ini dapat menjadi satu kesatuan yang utuh dalam bingkai NKRI.

Masyarakat Halmahera Utara memiliki budaya yang sudah ada ratusan tahun dan sampai saat ini masih terjaga kelestariannya sebagai nilai-nilai budaya yang filosofis. Nilai-nilai budaya ini menjadi sebuah tatanan atau tradisi yang tetap dipertahankan. Baik secara seremonial ataupun secara resmi. Hibualamo sebagai rumah adat atau wadah yang diabadikan oleh masyarakat Halmahera Utara. Hibualamo menurut legenda merupakan sebuah rumah besar yang dihuni oleh keluarga besar penghuni negeri yang terhimpun dalam 10 suku dan tersebar di seluruh daratan Halmahera, Pulau Morotai dan Loloda.

Kebudayaan dapat dijadikan modal dasar dalam gerak dan langkah sesuai bidang tugas dan fungsi kita masing-masing sebab kebudayaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita sangat banyak memberikan sebuah kebenaran yang berdasar pada etika dan moral. Memang kita tahu bahwa untuk merubah perilaku manusia membutuhkan suatu proses. Hal ini bukanlah sekedar isapan jempol belaka tetapi benar-benar membangun sebuah budaya yang bisa diteladani oleh orang-orang di luar kita.

Kita tahu bersama bahwa akhir-akhir ini secara nasional sepertinya telah terjadi kulturasi budaya. Satu hal yang perlu dikoreksi adalah kurang peduli dan konsistennya mayarakat terhadap nilai-nilai kebudayaan sehingga bisa memunculkan berbagai dikonomi persepsi. Apakah dari kalangan masyarakat, mahasiswa, para politisi dan juga pemerintah pada hal kebudayaan adalah sebuah pencerminan dari sebuah bangsa terletak pada budaya. Orang bisa melakukan kesalahan besar atau kecil itu karena tidak memahami nilai-nilai budayanya. Kenapa munculnya korupsi, kolusi dan nepotisme? Ini sebagai akibat dari ketidaktahuan budaya nenek moyang kita karena nenek moyang yang merupakan perintis kebudayaan yang mewariskan kepada kita bukan budaya orang pencuri atau korupsi tetapi orang yang berbudaya adalah orang yang tahu tentang harga diri manusia dan lingkungannya. Apalagi kepada Tuhannya itu juga ada isyarat yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang biasanya disebut Jou Giki Moi. Ini sebuah pemahaman dalam leluhur yang sangat sacral dalam dinamika kehidupan saat itu.

Untuk itu budaya yang kuat apabila pemerintah dan seluruh stakeholder merasa memiliki daerah ini tanpa ada indikasi sebuah perbedaan baik suku, agama dan darimana dia berasal hal ini bila diwujudkan maka kita akan terkenal karena budayanya dan kita akan maju sebagaimana Bali maju karena budayanya. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kita apakah kita mau merubah sebuah kondisi yang lugu ke kondisi yang supra fit serta menjadi tujuan wisata? Ini terpulang kepada pemerintah dan masyarakat Halmahera Utara dan tidak hanya dinas yang terkait yang bertanggung jawab tetapi seluruh stakeholder yang ada di kabupaten ini. Masyarakat bumi Hibualamo dengan keberagaman suku yang ada tentu memiliki budaya yang berbeda tetapi ini menjadi asset besar dalam menunjang program pemerintah khususnya pariwisata. Kebudayaan juga berfungsi sebagai alat perekat masyarakat Halmahera Utara untuk menunjang Go International 2010.

Ingat budaya Halmahera Utara adalah budaya yang religius dan dinamis dan selau berpijak pada dasar budaya yang heterogen. Hal ini memperjelas sikap hidup yang mengutamakan kebersamaan dalam perbedaan. Untuk menghindari agar tidak terjadi akulturasi budaya maka ada 4 hal yang perlu disikapi antara lain mempertahankan budaya sebagai alat perekat dalam membangun kebersamaan anak negeri Hibualamo. Sebagai anak negeri perlu melestarikan dan mengembangkan budaya sebagai pedoman dalam melakukan pembaharuan pembangunan dan kemasyarakatan. Menularkan budaya Hibualamo kepada anak cucu kita sehingga mereka tidak melupakan tatanan atau tradisi kita sebagai anak negeri Hibualamo. Membudayakan Halmahera Utara dapat dijadikan sebagai alat perekat suatu bangsa atau daerah khususnya Halmahera Utara dalam menata kebudayaan saat ini dan ke depan.

*) Merupakan artikel Buletin Pemda Kabupaten Halmahera Utara Edisi 17 Tahun II Oktober 2007.

Memempertahankan Nilai Kearifan Budaya Lokal

Mempertahankan Nilai Kearifan Budaya Lokal Sulawesi Selatan, Sebuah Keniscayaan?
Oleh: Dr Ir Syahriar Tato, MS (Ketua Badan Kerja Sama Kesenian Indonesia Sul Sel)

Manusia mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan di muka bumi ini karena kemampuan berpikir secara ”metaforik” dan menggunakan seluruh indra untuk beraktivitas.
Kemampuan berpikir secara “metaforik” itu tercermin dalam “simbol” yang penuh ungkapan makna dalam apresiasi gerak untuk menyampaikan pesan, pengalaman, bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya secara efektif, etis dan berkemanusiaan.

Dengan simbol yang diungkapkan itulah, manusia mampu berhubungan secara langsung atau tidak langsung menembus batas komunitas dan generasi dalam suatu “interaksi” sosial budaya.

Semakin luas jaringan dan intensitas interaksi sosial budaya yang berkembang pada komunitas lokal dengan komunitas “asing” di luar komunitasnya, maka semakin besar peluang untuk mengembangkan masyarakat dan “kebudayaannya”.

Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya, apalagi menutup diri dari pergaulan dengan komunitas luar, maka semakin besar hambatannya untuk mengembangkan pembaharuan “budaya” yang kini tidak lagi mengenal batas geografik, negara dan bangsa.

Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa “kebudayaannya” masih asli.

Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan “setempat” biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak “budaya” dengan pihak luar.

Demokrasi dan reformasi, suatu fenomena baru dalam interaksi sosial budaya memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan kehidupan global, suka tidak suka, akan memengaruhi dan memberi dampak positif dan negatif.

Dampak negatif bila tidak diproteksi secara dini mengakibatkan dunia kebudayaan kita menjadi semakin terpuruk dan sangat menderita. Hal ini diperparah dengan “model” pendekatan pembangunan di negara kita yang tercinta ini lebih prioritas pada pembangunan ekonomi dan politik.

Nilai “kebendaan” menjadi sangat kuat dan menonjol, sementara nila nilai non ekonomi, nilai-nilai batin dan nilai nilai “spiritual” merosot tajam. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai secara “ekonomi kebendaan”.

Sementara nilai nilai moral, nilai nilai batin dan spiritual, nilai kewibawaan, keadilan dan nilai nilai “kearifan budaya leluhur” menjadi komoditas eceran. Kondisi seperti ini masih ditambah lagi dengan kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Teknologi komunikasi, teknologi informasi, menjadi media yang sangat menarik mengantar masuknya kebudayaan barat, “kebudayaan otak” ke negeri kita, dan menyingkirkan “kebudayaan rasa” yang dimiliki sebagai “nilai warisan” nenek moyang kita.

Dengan kemajuan tersebut, sekarang batas budaya antar bangsa sudah semakin tidak jelas. Semua aspek kehidupan bangsa telah tercemari nilai-nilai kebendaan tersebut. Dunia pendidikan sudah mengabaikan mutu, sementara yang dikejar adalah ijazah.

Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada jumlah kekayaan yang dimiliki menjadikan komunitas etnis atau masyarakat tradisional, sangat sulit untuk mempertahankan “budaya” lokal sebagai warisan leluhur mereka.

Masyarakat tradisional Indonesia pada umumnya percaya akan adanya suatu tatanan, aturan tetap, yang mengatur segala apa yang terjadi di alam dunia yang dilakukan oleh manusia.

Tatanan atau aturan itu bersifat “Stabil”, “Selaras” dan “Kekal’”. Aturan itu merupakan tatanan “budaya” sebagai sumber segala kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Apapun yang dilakukan manusia harus sesuai atau selaras dalam tatanan kehidupan alam sekitarnya.

Apabila tidak bertentangan dengan alam, niscaya hidupnya akan tenang dan damai. Yang menyimpang dari tatanan dan aturan merupakan “dosa” yang patut menerima sanksi atau hukuman.

Masa itu perbuatan manusia selalu berdimensi dua, yaitu “mistik” dan “simbolik”. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup, manusia memakai tanda tanda atau “simbolik”,
dua macam tanda penting, pertama : “mitos asal”, atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. Kedua : “Ritual” upacara berupa perlakuan simbolis yang berfungsi untuk memulihkan harmoni tatanan alam dengan manusia,
agar manusia terhindar dari malapetaka dan memberikan keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupannya. Inilah dasar-dasar filosofi yang mengatur “Budaya” masyarakat tradisional.
Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya “kosmologi”. Awalnya, kehidupan manusia hanya terbatas pada kehidupan dirinya sendiri, “Egocentrum”.
Kemudian manusia mengembangkan dorongan naluri dan nalarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kehidupan ”egocentrum” akan menjadi bagian integral dari kehidupan Habitat sekitarnya, yang diatur dalam sebuah tatanan “budaya” atau “kebudayaan”.
Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hidup dalam suasana kepercayaan leluhur yang dipengaruhi oleh “ethos budaya” dan mempunyai sifat-sifat khusus, antara lain kekhususan itu ditandai dengan cara mempertahankan suasana hidup selaras, harmonis dan seimbang dengan kehidupan “habitat” sekitarnya.
Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, pola hubungan antar manusia. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya didasarkan pada anggapan bahwa eksistensinya hidup dalam kosmos alam raya dipandang sebagai suatu tatanan yang “teratur” dan “tersusun” secara “hirarkis” dalam sebuah “tatanan budaya” yang terjaga.
Malinowski dengan konsep tentang “Cultural Universal” melihat unsur-unsur kebudayaan universal yang dimiliki oleh masyarakat tradisional maupun masyarakat modern terdiri dari tujuh unsur, yaitu bahasa termasuk aksara, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem teknologi, religi dan kesenian.

Tujuh unsur universal ini menjadi wujud nyata dari tatanan budaya yang menjadi bayangan cerminan dari kehidupan manusia dari masa ke masa.

Dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, terdapat “value” atau nilai nilai budaya yang berasal dari “value” masyarakat tradisional lokal, dan telah menjadi suatu tatanan “budaya”
yang dianggap mengatur dan mengikat sehingga patut dijadikan sebagai pedoman hidup bagi semua perilaku dan pengambilan keputusan karena nilai itu dianggap etis, logis, mulia, sakral, mengandung harapan masa depan, dan menjadi identitas jati diri dan karakter bangsa.
Nilai budaya dipahami sebagai konsepsi yang hidup dalam alam pikiran dari sebagian besar masyarakat tradisional sebagai sesuatu yang berharga dalam hidup. Karena itu nilai menjadi dasar dari kehidupan manusia dan menjadi pedoman ketika orang akan melakukan sesuatu.
Koentjaraningrat berkata; bahwa nilai budaya suatu masyarakat bisa berubah. Terjadinya perubahan nilai itu menunjukkan bahwa nilai budaya tidak muncul begitu saja.

Nilai budaya suatu masyarakat diproduksi, dipertahankan, dan dikomunikasikan melalui media seperti; media pendidikan, sistem ekonomi, organisasi, upacara tradisional, kesenian tradisional, maupun arsitektur tradisionalnya.

Kita tidak akan mampu menolak modernitas kebudayaan sebagai konsekuensi dunia yang mengglobal. Setiap kebudayaan selalu mengalami perubahan dari masa ke masa.

Perubahan itu tergantung dari dinamika masyarakatnya. Terjadinya perubahan tatanan budaya bukan hanya disebabkan oleh pengaruh eksternal, tetapi juga akibat pengaruh internal karena berubahnya cara pandang masyarakat tradisional terhadap perubahan kehidupan dan penghidupan mereka.

Kebudayaan memang bersifat dinamis, berkembang dan mengalami pengaruh lingkungan strategisnya yang menjadikan kebudayaan berubah dari waktu ke waktu. Perubahan itu menyebabkan beberapa unsur kebudayaan universal mencapai puncak orbitasi dalam kulminasinya dan mempunyai nilai yang semakin tinggi.

Nilai tersebut menjadi kebanggaan dan merupakan jati diri etnis yang bersangkutan.
Abu Hamid berpendapat bahwa Etnis Bugis Makassar mencapai puncak kebudayaannya ketika ditemukannya aksara lontara dan sistem komunikasi dengan bahasa etnis Bugis Makassar.

Di dunia ini tidak semua etnis mempunyai aksaranya sendiri. Sedangkan sistem etika dan moral sebagai nilai utama orang Bugis Makassar, seperti lempu (kejujuran), getteng (tegas dan konsisten), sipakatau (saling menghargai), dan ada tongeng (berkata benar). Menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kepemimpinan etnis Bugis Makassar dengan penerapan nilai kearifan budaya dan etos kerja selalu memberikan spirit tinggi di dalam bertindak, seperti; taro ada taro gau (satunya kata dan perbuatan), sipatuo sipatokkong, abbulo sibatang.

Dalam interaksi sosial budaya beberapa kartakter penting seperti ; barani (keberanian), macca (pintar), makkareso (berusaha), mappasitinaja (kewajaran dan kepatutan sepertinya memberikan warna keagungan dan keanggunan dalam jatidiri dan karakter para pemimpin dan decision maker orang Bugis Makassar.

Namun bumi semakin panas dan mengglobal, dunia sepertinya tanpa sekat. Hampir semua nilai essesial itu menjadi luntur dan mengalami degradasi yang sulit dihindari.
Identifikasi "esensi"

kearifan budaya lokal yang menunjukkan identitas dan karakter budaya lokal mestinya terlihat secara jelas dalam konsep ketahanan budaya lokal yang mestinya nilai kaearifan budaya lokal tetap terjaga dan menjadi niilai yang tetap ada untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal.

Untuk menuju ke arah ketahanan budaya lokal dan Pelestarian “Esensi” dan Pengembangan “Substansi” unsur unsur budaya universal, perlu tetap diupayakan :

• Memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan berlandaskan warisan kearifan budaya lokal.

• Memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian, sejalan waktu dan kemajuan teknologi yang berorientasi ke masa depan.

• Bahwa mempertahankan jati diri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi.

• Namun hidup dan kehidupan memang berhak berkembang sehingga perubahan lingkungan strategis etnis perlu diperhitungkan untuk pengembangan dan ketahanan budaya etnis lokal.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali kearifan budaya lokal semakin baik, para sesepuh, cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitektur tradisional, diadopsi pengetahuannya kekonsep ketahanan budaya,

sehingga kita dapat merajut kembali kejayaan budaya etnis lokal Sulawesi Selatan untuk diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan termasuk dalam konteks ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi penerus mendatang. *


home | kolom | rubrik

Jumat, 15 Mei 2009

Sangga Sarana Persada

ENTERTAINMENT
(Solo)

CULTURAL ENTERTAINMENT
There are several groups engaged in cultural activities :

WAYANG ORANG (HUMAN WAYANG THEATER)

Sriwedari
This is well-known, old group of wayang performs every evening from 08.00 am – 10.00 pm, Sunday is closed.

Sriwedari Traditional Dancing Group
Wayang Orang "Sriwedari" performance

Radio Republik Indonesia (RRI)
Located on Jl. Abdul Rahman Saleh (Markoni) 57, held the wayang orang theater at its auditorium every second Tuesday of the month from 08.00 pm to midnight. It is very popular and oftenly excellent.

WAYANG KULIT PERFORMANCE

Ki Anom Suroto's Residence
Located on Jl. Gambir Anom 100. Notodiningratan, a highly reputable dalang (puppet master). Played on every Tuesday Kliwon (the eve of Rebo Legi) of Javanese calendar.

Radio Republik Indonesia (RRI)
Wayang performance is on air every third Saturday from 09.00 pm to 05.00 am.

Ki Manteb Soedharsono's House
He is another famous dalang in Solo, sometimes he performs in his house at Karang Pandan, 27 km south east of Solo.

Taman Budaya Surakarta (Cultural Center)
Located on Jl. DR. Sutami 57, there is a wayang kulit performance every Tuesday Kliwon (once in 35 days). ). It is worth to be noted that Taman Budaya Surakarta organizes many cultural events in Solo and a place where many cultural pundits could be contacted, such as Sardono W. Kusumo (a famous dance teacher), Murtidjono (the head of Taman Budaya Surakarta), Pak Ngaliman and Ibu Djoko, etc. From the Karaton Solo the experts are among other Princess G.R.Ay. Koes Murtiyah (Gusti Mung), B.R.M. Bambang Irawan and from Mangkunagaran Palace are Pak Suripto, Ibu Sutarwo, etc.

Taman Budaya Surakarta (Surakarta Cultural Center

Karaton Surakarta - Course for Dalang (Puppet Master)
Practicing every Friday and Sunday from 07.00 pm – 09.00 pm.

Puro Mangkunagaran
Sunday, Wednesday, Friday, in the afternoon Jl. R.M. Said III.

KETOPRAK
Traditional folk drama with stories from history and legend.

Radio Republik Indonesia (RRI)
It performs ketoprak every forth Tuesday from 08.00 pm to midnight.

Balekambang
Every night performance from 08.30 pm – 11.30 pm.

Dancing Practice (Javanese Court Dance)

Karaton Surakarta
Sunday, at 09.00 am – 03.00 pm.
Puro Mangkunegaran
Wednesday, at 10.00 am – 12.00 pm.
STSI (Art Academy) in Jebres, North East of Solo
Daily, 09.00 am to noon, except Sunday.
SMKI (high school for performing art in Kepatihan)
Daily, 09.00 am to noon, except Sunday.
For private lessons, one may contact : Taman Budaya Surakarta or Karaton Surakarta.

Karawitan/Javanese Gamelan Orchestra

Karaton Surakarta - Bangsal (Hall) Marakata Every Sunday Kliwon/eve of Tuesday Legi transmitted by RRI.

Puro Mangkunagaran

Every wednesday - at 10.00 AM, Gamelan Kyai Monggang
Every saturday - at 10.00 AM, Gamelan Kyai Kanyut Mesem
Every Friday Paing/eve of Saturday pon at 10.00 PM - to midnight.

Lecture on Javanese Culture
Karaton Surakarta, Bangsal (Hall)Marakata Every Tuesday Legi/eve of Wednesday Paing, after the reading of Al Qur'an.

Sacred court dance and theirlooms offering
Karaton Surakarta, every Tuesday Kliwon during the day. The dance is KETAWANG, which is considered as a sacred dance. some wayang (leather puppets) are taken out to be aired.

Padepokan Lemah Putih
Solo is a 'warehouse' of cultural experts, men of letters, traditional dancers and dalangs (puppet masters). They are really valuable assets to the nation.
One of the famous artists living in Solo is Suprapto Suryodarmo who heads the ± 2 ha Padepokan Lemah Putih (padepokan refers to a quite large place where someone lives with main purpose to do meditation; lemah – land; putih – white) in Mojosongo. Mas Prapto is an extraordinary movement teacher 'The Movement Autodidact' with his 1000 (a thousand) students from all parts of the world.
There are some steps of training for someone who wishes to perfectly understand and master his teachings. Some self-conscious exercises are carried out in Padepokan, Candi or Sukuh Temple, Borobudur and the beach of Parangtritis.
For direct information could be contacted :
Padepokan Lemah Putih
P.O. BOX 301
Mojosongo, Solo, Indonesia
Tel. 061 – 0271 – 635210

CULTURAL EVENTS

Sekaten or Garebeg Ceremony
In the Javanese month of Mulud, on the birthday of Prophet Muhammad, the Karaton celebrates it by making several gunungan (rice mountain) paraded from the palace to the grand mosque yard. The Karaton sacred gamelans brought to the mosque and played there for a week.
The gunungan and gamelan processions are very interesting and usually a two weeks fair called Sekaten is held in the North Square.
Click here for complete information about 'Garebeg Procession in Karatons'!

Karaton's Heirloom Procession (Kirab Pusaka)
In the first date of Javanese month (1st of Suro), Karaton Surakarta and Mangkunagaran organize heirlooms procesions, encircling their own palaces.
Click here for complete information about 'Commemoration of 1st Suro'!

Maleman Sriwedari
Night fair in Sriwedari park, held during the month of Ramadan, begins on the eve of 21th of the month with a parade from Karaton to Sriwedari.

Pesta Seni
The annual art fair held at Sriwedari Park at the end of the year during Christmas and New Year Celebrations.

Yaqowiyu
A religious traditional ceremony held in the district of Jatinom, nearby Klaten, 30 km west of Solo. It is in honor of Ki Ageng Gribig, a prominent religious leader of the 16th century. The spectacular ritual occurs when Apem (round rice cake) thrown from a high platform to the crowds. This apem considered as having magical power to keep a healthy live.
The ceremony is held every month of Sapar, on the 15th, begins in the evening and followed by a night fair. This year is Thursday, June 11, 1998.

MODERN ENTERTAINMENT

The are many places for modern entertainment especially in the center of the city, such as cinemas, karaoke, discotheques, bars, pubs, etc.
Click here for Entertainment – Modern !

Golf
Solo Golf Course, located next to Adisumarmo Airport.

Restaurants
In Javanese 'Mangan enak' means to eat something delicious is a requirement for Solonese. No wonder, in this town, there are a lot of restaurants offering different kind of cuisine; Javanese, Chinese, Western, Japanese, etc. Many local people are still enjoying the 'lesehan' sitting on the mat while dining, even some people prefer using fingers. It's not a big deal!.
Pujasari in Sriwedari Park is a popular place for lesehan, also along the street of Keprabon. The speciality of this region is Nasi Liwet, rice cooked with coconut milk and chicken. For westerners, a plate of fried shrimps or fish might be ordered for a light meal with a price less than US$ 1.00. Plus the refreshment drink, one should spend not more than equivalent US$ 2.00. An unbelievable cheap price! Every Thursday night from 10.00 - midnight a kroncong music beat could be enjoyed while dining , and every Sunday night a Javanese Siteran music is entertaining passionately
The cheapest are the food sold by roaming street hawkers such as; bakso, mie, kue putu, pecel (mix vegetables), serabi (rice pudding, like pan cake).
For budget travelers, restaurants on Jl. Ahmad Dahlan should be good enough. One could get something easily something to eat around the clock in 'this city that never sleeps'.
Click here to see the 'List of Restaurants'!.

Hotels
Solo has many hotels to accommodate visitors ranging from budget hotels to star rated ones, which are luxurious but maintain traditional values.
Hotel classification in Indonesia :

1. Star rated hotels, the highest is the five stars.
2. Lower grade is the Melati (jasmine flower), grouping Melati III, II and I.

Despite above hotels, there are many homestays offering accommodation with modest facilities.
Click here to see the List of Hotels!.

TRANSPORTATION

Airplane
Solo has an International Airport, the name is Adisumarmo, 10 km west of the downtown. The direct flight abroad is served by Silk Air, with route Singapore – Solo – Singapore. There are domestic connections to and from Jakarta, Balikpapan and Surabaya and via Surabaya there are connecting flight to Bali and other bigger cities of East Indonesia. The airlines engaged are Garuda Indonesia and Merpati .
Click here for information about 'Airport and Airline Schedule' !.

Train
The main railway station is Solo Balapan, a strategic station connecting Jakarta, Yogya, Solo and Surabaya. It has also connection to Bandung and Semarang.
Click here for information about 'Train Schedule'!.

Bus
The inter city bus terminal is Tirtonadi, in the north west part of the city. There are many buses upon your choice, serving the routes to almost all cities in Java, Bali and Sumatra. Direct information can be collected in the terminal.
Click here to see the 'List of Bus Companies'!

Intercity Minivan
The terminal of these minivans is located in Gilingan, nearby the bus station. These cars serve connections with other cities.

LOCAL CITY TRANSPORT
For transportation within the city, there are various kinds such as becak (Trishows), minibuses (Angkota), buses and Taxis.
Click here for information about Taxi and Car Rentals!

TRAVEL AGENTS
For the sake of conveniences, one could go to a Tour and Travel Agent to get a ticket or to go to any tourist spot nearby.
Click here to see the list of Travel Agent!.

PUBLIC SERVICE
Listing the offices of immigration, Post-Office, Tourist Office, etc.
Click here for the list of Public Service Offices!.

MONEY CHANGERS and BANKS
There are many banks and several money changers in this city. The popular credit card here are; Master, Visa and Amex.
Click here for information about Banks and Money Changers!.

BUSINESS and INDUSTRY
Business local as well as international is thriving. The national products such as batik and textile play an important role. There are big batik manufacturers and textile factories in Solo. The trading and production of pharmaceutical products, foodstuffs, herbal medicine, iron and brasswares, chemicals are prospering.
The cultural related items such as gamelan, wayang (leather puppets), keris and craft are still in active production.

For further information, kindly click the list bellow :
List of Exporters
List of Importers
List of forwarding Agents
List of Insurance
List of Artshops and Craft Centers

For those who are interested in more detailed information for business, industry and investment, addresses of :
1. Assistant governor's Office of Surakarta Regency,
2. The Mayor of Surakarta,
3. The Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Solo branch),
4. BAPPEDA (Board of Planning and Development of Solo),
5. BKPMD (Regional Board of Investment),
Just click here for going to the article of 'Business, Investment and Industry'.

to SURROUNDINGS

(Suryo S. Negoro)

Copyright© PT Sangga Sarana Persada, 1997-2000
Designed by Sangga Web Team
Any comment and question related to this page, please contact
webmaster@joglosemar.co.id

Lembaga Kebudayaan UMM

KONSTRUKSI KETIDAKSEIMBANGAN PEMBANGUNAN DALAM TELAAH HARMONISASI SUPRASTUKTUR DAN INFRASTRUKTUR KEBUDAYAAN


Kebudayaan ibarat sebuah tenda yang menaungi berbagai aspek kehidupan manusia. Semakin tinggi dan luas tenda, semakin sehat aspek-aspek kehidupan yang berada di bawahnya, karena terbuka ruang lapang untuk mudah bergerak. Sebaliknya semakin sempit dan rendah tenda yang menaungi membuat berbagai aspek yang dalam naungannya semakin sempit, pengap dan tidak ada ruang gerak. Hal ini berlaku untuk semua aspek kebudayaan seperti sistem kepercayaan dan religiusitas, kesenian, bahasa, organisasi sosial politik, sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi dan matapencaharian, dan pendidikan.

Bronislaw Malinowski mengajukan unsur pokok kebudayaan yang meliputi (a) sistem normatif yaitu sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyatakat agar dapat menguasai alam di sekelilingnya, (b) organisasi ekonomi, (c) mechanism and agencies of education yaitu alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas untuk pendidikan dan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama, (d) organisasi kekuatan ( the organization of force ). Bronislaw Malinowski sebagai penganut teori fungsional selalu mencari fungsi atau kegunaan setiap unsur kebudayaan untuk keperluan masyarakat

Dalam sebuah tatanan masyarakat sangat diperlukan sebuah harmonisasi struktur, baik struktur norma maupun struktur lembaga. Dua hal yang menjadi kata kunci adalah faktor suprastruktur dan infrastruktur. Dalam perspektif budaya, kedua faktor ini memiliki relevansi dengan pemaknaan manusia atas karyanya, bahwa manusia mengkonstruksi kebudayaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Benjamin Akzin,1964 (dalam Attamimi, 1991) dalam struktur norma yang termasuk suprastruktur adalah norma hukum publik, sedangkan yang infrastruktur meliputi norma hukum keperdataan dan hukum perikatan. Sementara itu dalam struktur lembaga, suprastruktur meliputi pejabat negara dan pemerintahan dan rakyat sebagai infrastruktur.

Modernisasi , Pembangunan dan Disharmonitas

Dalam perkembangan masyarakat, masyarakat dunia terutama dunia ketiga pada dekade 70'an dilanda sebuah sistem pembangunan yang dikenal dengan modernisasi. Modernisasi adalah rasionalisasi dalam pertumbuhan ekonomi secara makro. Secarateoritik modernisasi merupakan sebuah teori yang di dalamnya terdapat beberapa aliran. Ada lima varian teori Modernisasi sebagaimana dikemukakan oleh Arief Budiman (1995:37-38) yaitu (1) teori Harrod-Domar, yang menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi dan teori ini banyak dikembangkan oleh para ekonom, (2) teori McClelland yang menekankan pada aspek-aspek psikologi individu yaitu melalui pendidikan individual kepada anak-anak di lingkungan keluarga, Pembangunan akan terlaksana apabila terdapat jumlah wiraswasta yang banyak. (3) teori Weber yang menekankan pada nilai-nilai budaya. Nilai-nilai dalam masyarakat antara lain melalui agama mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu. Apabila nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat diarahkan kepada sikap yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, proses pembangunan dalam masyarakat dapat terlaksana, (4) Teori Rostow, yang menekankan pada adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan. Lembaga-lembaga politik dan sosial diperlukan untuk menghimpun modal yang besar serta memasok tenaga teknis, tenaga wiraswasta dan teknologi, dan (5) teori Inkeles dan Smith yang menekankan lingkungan material, dalam hal ini lingkungan pekerjaan, sebagai salah satu cara terbaik untuk membentuk manusia modern yang dapat membangun. Teori ini dapat dilakukan dengan pemberian pengalaman kerja secara langsung. Pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk membentuk manusia modern.

Penggunaan istilah modern selalu dipertentangkan dengan tradisional. Modern merupakan simbol kemajuan, pemikiran rasional, cara kerja efisien dan merupakan ciri masyarakat maju. Sebaliknya masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang belum maju dengan ditandai cara berpikir irasional serta cara kerja yang tidak efisien. Menurur teori modernisasi, faktor-faktor non material sebagai penyebab kemiskinan khususnya dunia ide atau alam pikiran. Durkheim berpendapat bahwa modernisasi menyebabkan runtuhnya nilai-nllai tradisi.

Indonesia selama beberapa dekade pembangunan, terutama pada masa pemerintahan Orde Baru (1967-1998) menempatkan teori modernisasi dalam upaya pembangunan. Seperti yang telah diuraikan pada bagian terdahulu bahwa teori modernisasi yang terutama menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan. Pelaksanaan teori ini sudah tentu membawa dampak, baik positif maupun negatif dan berpengaruh terhadap hubungan sinergitas antara suprastruktur dan infrastruktur. Sebagaimana telah diketahui bahwa barometer keberhasilan sebuah pembangunan adalah dikotomi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan di sisi lain adanya pembangunan yang berkesinambungan yang berciri tidak terjadinya kerusakan sosial dan tidak terjadinya kerusakan alam. Dalam kenyataan pembangunan yang telah dikembangkan di Indonesia selama tiga dekade sebelum reformasi, ternyata pada beberapa segi memunculkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi meskipun dengan tidak adanya keadilan sosial, dan di sisi lain terjadi kerusakan sosial dan terjadinya kerusakan alam seperti hilangnya hutan adat dan hutan rakyat yang telah digantikan sistem pengelolaan hutan secara konglomerasi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gangguan sosial dan konflik-konflik sebagai dasar ketidakadilan dan ketidak harmonisan antara suprastruktur dan infrastruktur.

Surna T. Djajadiningrat (1995:123) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan memerlukan perspektif jangka panjang. Lebih lanjut secara ideal keberlanjutan pembangunan membutuhkan pencapaian keberlanjutan dalam hal (1) ekologis, (2) ekonomi, (3) sosial budaya, (4) politik, dan (5) keberlanjutan pertahanan dan keamanan. Keberlanjutan ekologis merupakan prasyarat pembangunan demi keberlanjutan kehidupan karena akan menjamin keberlanjutan eksistensi bumi. Dikaitkan dengan kearifan budaya, masing-masing suku di Indonesia memiliki konsep yang secara tradisional dapat menjamin keberlangsungan ekologis, misalnya sistem Subak di Bali atau pemaknaan hutan bagi suku Dayak di pedalaman Kalimantan dan beberapa suku lain yang memiliki filosofi harmonisasi dengan alam. Keberlanjutan ekonomi yang terdiri atas keberlanjutan ekonomi makro dan keberlanjutan ekonomi sektoral merupakan salah satu aspek keberlanjutan ekonomi dalam perspektif pembangunan. Dalam keberlanjutan ekonomi makro tiga elemen yang diperlukan adalah efisiensi ekonomi, kesejahteraan ekonomi yang berkesinambungan dan peningkatan pemerataan dan distribusi kemakmuran. Hal ini akan dapat tercapai melalui kebijaksaaan ekonomi makro yang tepat guna dalam proses struktural yang menyertakan disiplin fiskal dan moneter. Sementara itu keberlanjutan ekonomi sektoral yang merupakan keberlanjutan ekonomi makro akan diwujudkan dalam bentuk kebijaksanaan sektoral yang spesifik. Kegiatan ekonomi sektoral ini dalam bentuknya yang spesiifk akan mendasarkan pada perhatian terhadap sumber daya alam yang bernilai ekonomis sebagai kapital. Selain itu koreksi terhadap harga barang dan jasa, dan pemanfaatan sumber daya lingkungan yang merupakan biosfer keseluruhan sumber daya.

Dalam hal keberlanjutan sosial dan budaya, secara menyeluruh keberlanjutan sosial dinyatakan dalam keadilan sosial. Hal-hal yang merupakan perhatian utama adalah stabilitas penduduk, pemenuhan kebutuhan dasar manusia, pertahanan keanekaragaman budaya dan partisipasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. Di bidang keberlanjutan politik terdapat pokok pikiran seperti perhatian terhadap HAM, kebebasan individu, hak-hak sosial,politik dan ekonomi, demokratisasi serta kepastian ekologis. Sedangkan keberlanjutan di bidang pertahanan dan keamanan adalah keberlanjutan kemampuan dalam menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman dan gangguan. Persoalan berikutnya adalah harmonisasi antar struktur (suprastruktur dan infrastruktur) dalam menghadapi atau melaksanakan idealisasi pembangunan yang berkelanjutan. Apabila selama ini terjadi ketimpangan, maka yang terjadi adalah disharmonisasi yang berdampak pada hal yang lebih luas yaitu yang menyangkut nasionalisme, rasa kebangsaan dan “pudarnya negara bangsa”.

Disharmonitas dan “Pudarnya Negara Bangsa”

Berkaitan dengan pudarnya “negara bangsa” sebagai konsekuensi disharmoni supra-struktur dengan infrastruktur dalam pem-bangunan, keadilan dan kesejahteraan rakyat, Robertus Wijanarko (Kompas 5 Maret 2003) yang mendasarkan konsepsinya atas pandangan Benedict Anderson menyatakan bahwa pada masa lalu terbentuknya negara bangsa atau nation disebabkan oleh sebuah produk yaitu strategi sosial- budaya- politik guna menghadapi penjajah. Namun pada masa kini negara bangsa yang merupakan “nation character building ” itu berada dalam kepudaran sebagai akibat produk suatu deformasi stratego sosial-budaya-politik yang terwujud dalam tindakan dan keputusan sosial politik dari pihak-pihak yang memiliki akses ke kebijakan publik, kekuasaan dan pengaruh. Lebih lanjut dikatakan keluhan tentang merosotnya semangat nasionalisme disebabkan kendornya ikatan sosial dan rasa solidaritas yang tercermin dalam tindakan menindas, menguras, dan memanipulasi untuk kelanggengan status sosial.

Dengan demikian bagaimanakah peran kebudayaan sebagai motor penggerak harmonisasi yang dapat menjembatani antara das sein dan das sollen pembangunan dan masyarakat plural. Dengan meminjam istilah Soetandyo Wignyosubroto (1995:161) bahwa pembangunan harus diimbangi dengan bea psikologik dan bea kultural ( the psychological costs and the cultural costs) . Selama ini pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku sebagai kekayaan budaya masyarakat. Disharmoni pembangunan dan disrelasi antara supra dan infra struktur terjadi karena perubahan ke arah ekonomi dalam sudut pandang kepentingan nasional maupun lokal telah ditebus dengan cultural cost yang tinggi. Industrialisasi dan perubahan situasi lokal telah mengubah kearifan lokal. Beberapa kasus telah menunjukkan bahwa perubahan di dunia ekonomi mengakibatkan konflik yang dapat mengancam terjadinya disorganisasi dalam sistem sosial dan sistem budaya. Harmonisasi dapat dibentuk jika kebijakan-kebijakan politik yang menggerakkan seluruh proses pembangunan dan industrialisasi tidak hanya mempertimbangkan kepentingan-kepentingan ekonomi yang pragmatik dan jangka pendek, tetapi kebijakan politik juga harus memperhatikan nilai-nilai dan kaidah-kaidah dasar budaya lokal sebagai bentuk penghargaan pluralistik, untuk selanjutnya mengakomo-dasikannya ke tuntutan perubahan yang terjadi.

Penutup

Betapa perlunya dipikirkan/ditinjau kembali fungsi-fungsi kebudayaan dalam perspektif pembangunan, apakah sebagai penghambat atau pengendali proses pembangunan. Budaya dan seluruh kompleksitasnya pada hakikatnya harus ditempatkan kembali dalam fungsinya atau difungsikan sebagai pengawas dan pengontrol pembangunan yang sudah semakin berorienasi pada motif-motif ekonomi. Kearifan lokal dalam bentuknya yang berupa kompleksitas budaya merupakan penyangga sekaligus penghubung antara supra dan infra struktur. Talcot Pason menyatakan bahwa kebudayaan pada dasarnya sebagai pengontrol sistem kehidupan demi terselenggaranya “pattern maintenance ” . Hal ini pada dasarnya sebagai pembentuk nilai harmonisasi. Dalam harmonisasi terdapat keseimbangan yang bersifat sintagmatik yaitu antara perumusan konsep sosial budaya beserta nilai-nilainya, penataan sosial dan budaya yang baru beserta nilai-nilainya sehingga diperoleh sebuah keteraturan sosial. Hal ini secara sintagmatik dapat dipadankan dengan pertumbuhan ekonomi yang berpijak pada perumusan konsep baru sains dan teknologi sehingga melahirkan inovasi sains dan teknologi sehingga terjadi peningkatan produksi. Antara keteraturan sosial dan peningkatan produksi dapat diperoleh kesejahteraan sosial.


Copyright ©2007 Lembaga Kebudayaan UMM

Selasa, 12 Mei 2009

Pendidikan dan Kebudayaan

Pendidikan dan Kebudayaan

Ajip Rosidi

PENDIDIKAN, baik formal maupun nonformal, adalah sarana untuk pewarisan kebudayaan. Setiap masyarakat mewariskan kebudayaannya kepada generasi yang lebih kemudian agar tradisi kebudayaannya tetap hidup dan berkembang, melalui pendidikan.

SUDAH lama banyak orang mempertanyakan pendidikan kita, mengapa hasilnya tidak memperkuat dan mengembangkan budaya sendiri? Mengapa bangsa kita mudah larut dalam pengaruh budaya yang datang dari luar? Mengapa budaya asli kita tidak dapat menahan banjir bandang globalisasi yang datang? Pendidikan kita selama ini menjadi sarana pewarisan budaya atau tidak?

BILA menengok sejarah, kita akan melihat, sebagai bangsa jajahan sejak tiga-empat abad terakhir, budaya kita adalah budaya bawahan yang menganggap budaya bangsa yang menjadi tuan penjajah sebagai cermin keunggulan. Hal itu menumbuhkan mentalitas bangsa jajahan, yang selalu merasa rendah diri bila berhadapan dengan kaki penguasanya. Dalam masyarakat demikian, orang pribumi dianggap sebagai keset sepatu tuan penjajah.

Sebagai penjajah, Belanda tidak langsung memeras bangsa pribumi. Mereka menggunakan para pemimpin tradisional pribumi sebagai alatnya. Dan, para pemimpin tradisional pribumi, yang secara turun-temurun selalu menikmati kedudukan sebagai elite penguasa priayi yang selalu ongkang-ongkang menikmati hasil kerja keras rakyat petani dan nelayan, menerima peran yang diberikan tuan penjajah dengan suka hati. Mereka mendapat gaji dan persentase keuntungan dari harga hasil bumi yang dipaksa ditanam petani dan harus dijual kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan oleh pembeli. Sebagai produsen, petani kita tak berdaya menghadapi pembeli karena yang dihadapi adalah penguasanya sendiri. Sebagai rakyat kerajaan yang selalu patuh kepada raja, para petani menganggap jangankan hasil kerjanya, nyawa dan keluarganya pun milik sang raja.

Dalam hal ini kita melihat, mentalitas elite penguasa pribumi itulah yang menyebabkan rakyat kita sengsara dalam kemiskinan luar biasa meski bekerja amat keras, sedangkan tuan penjajah Belanda menangguk keuntungan ratusan juta gulden tiap tahun untuk kemakmuran negaranya yang jauh di benua utara. Yaitu mentalitas calo, broker, yang ingin hidup senang tanpa mengeluarkan keringat. Untuk memperkuat pengaruhnya terhadap rakyat petani yang diperasnya, mereka mengangkat tukang-tukang pukul sebagai kaki tangannya. Para petani yang tidak patuh atau memperlihatkan gejala akan melawan dihadapi dengan kasar dan kejam oleh para tukang pukul itu. Bila para tukang pukul tidak mampu lagi, serdadu marsose dikerahkan. Itulah yang terjadi di Banten pada tahun 1888, terjadi di Jatitujuh dan daerah lain di Cirebon pada sekitar 1815, di Cimareme, Garut, pada tahun 1918, dan lain-lain.

Pemberontakan petani di Jawa, yang kerap terjadi pada abad ke-19 dan ke-20, mempunyai pola yang sama: para petani merasa tidak puas dengan ketentuan yang dikenakan terhadap mereka, mereka mengajukan usul, lalu protes, dan karena tidak digubris, mereka melawan. Bila sudah memberontak, mereka dihadapi tentara profesional penjajah yang mempunyai senjata jauh lebih canggih. Pemberontakan seperti itu selalu berakhir dengan ditindasnya petani-bukan hanya yang memberontak, tetapi juga mereka yang dianggap bersimpati kepada pemberontak atau mempunyai hubungan darah dengan mereka.

Praktik demikian kita saksikan pula pada masa Orde Baru. Para petani Banjaran (Majalengka), yang sawahnya tercemar limbah pabrik baterai yang didirikan di sana, setelah melakukan protes tak digubris pemerintah daerah, lalu membakar pabrik itu. Mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Para petani di Cimacan (Cianjur) juga ditangkapi dan diajukan ke pengadilan karena protes mempertahankan tanah yang sudah digarapnya puluhan tahun, yang oleh pemerintah daerah hendak dijadikan lapangan golf.

Dalam sejarah, kita tidak melihat ada-kalaupun ada jarang sekali-pembesar pribumi yang dalam situasi demikian membela rakyatnya. Karena itu, perbuatan Bupati Sumedang Pangeran Koesoemadinata dianggap gagah berani dan heroik karena berani menyodorkan tangan kiri saat diajak bersalaman oleh Gubernur Jenderal Daendels yang tersohor galak. Dilihatnya Gubernur Jenderal hendak menyalahkan rakyatnya yang dikerahkan kerja paksa secara cuma-cuma membangun jalan di tempat yang kini bernama Cadas Pangeran. Pangeran Koesoemadinata tidak membiarkan rakyatnya dipersalahkan dalam pembuatan jalan itu karena medan yang dihadapi luar biasa berat. Namun, sebenarnya, dia pun tidak membela rakyatnya yang dikerahkan kerja paksa tanpa dibayar, mungkin karena dianggapnya hal itu sudah sewajarnya demikian.

Peristiwa di Istana Bogor saat sejenak Inggris menguasai Hindia Belanda dan Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto berkunjung ke Jawa-saat Pangeran Koesoemadinata menyatakan dengan berani dan terus terang kepatuhan dan kesetiaannya kepada majikannya yang lama, yaitu Pemerintah Hindia Belanda yang dikalahkan Inggris-menunjukkan bahwa pada dasarnya ia sama saja dengan kaum elite priayi lain yang tidak mempunyai perspektif pandangan sejarah dan sosial yang luas. Kelebihannya, ia mempunyai kekuatan moral yang lebih baik daripada, misalnya, Bupati Garut Moesa Kartalegawa saat menghadapi peristiwa Cimareme.

PANDANGAN masyarakat kita saat itu adalah feodalistis. Feodalisme di Eropa dikuasai kaum feodal, yaitu mereka yang memiliki tanah yang dikerjakan para petani. Para petani di wilayah tertentu, misalnya di Rusia, dianggap sebagai hamba sahaya yang bekerja untuk dan semua hasil pekerjaannya menjadi hak majikan. Akan tetapi, kaum feodal di Jawa-terutama setelah penjajahan Belanda-tidak selalu berarti pemilik tanah. Hidup mereka digaji Pemerintah Hindia Belanda, ditambah pendapatan dari persentase hasil tanaman rakyat yang dibeli pemerintah dengan harga rendah sekali. Artinya, mereka bukan orang yang memegang kekuasaan tertinggi dalam komunitasnya karena mereka hanya pegawai dari pemerintah yang mewakili kepentingan bangsa asing. Karena itu, mentalitas mereka adalah mentalitas calo, broker. Nilai-nilai kesatriaan yang membela kebenaran dan melindungi rakyat kecil dan sering dipuji-puji sebagai pegangan para priayi kita hanya ada dalam teks.

Maka, nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi yang lebih muda pun dari kebudayaan feodal yang bermentalitas calo. Status quo yang tertib dipertahankan dengan ajaran yang, misalnya, dirumuskan dalam peribahasa, "Guru, ratu wong atuo karo, wajib sinembah," yang berasal dari Jawa, tetapi kemudian dipopulerkan melalui sekolah yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda di seluruh Tatar Sunda. Maksud peribahasa itu ialah setiap orang (rakyat) wajib menghormati guru, ratu, dan orang tua. "Guru" yang tadinya mungkin mempunyai arti pendeta, kiai, empu, dibumikan menjadi pegawai Pemerintah Hindia Belanda yang tugasnya berdiri di depan kelas mengajar murid. "Ratu" adalah Raja Belanda yang diwakili pejabat yang menjadi kaum priayi. Jelas peribahasa itu hendak mempertahankan ketenteraman masyarakat melalui lembaga "guru" (yang memberi bimbingan ilmu) dan "ratu" (yang mengatur pemerintahan), sedangkan "orang tua" menjadi bantal paling akhir. Tak pernah ada gugatan dari pihak ulama Islam yang, misalnya, mempersoalkan mengapa "guru" dan "ratu" yang disebut dahulu baru "orang tua", padahal ada hadis yang jelas menyatakan, orang yang harus dihormati itu pertama-tama ibu (3 kali) dan baru ayah. "Guru" dan "ratu" tak disebut.

Tentu bukan hanya peribahasa itu yang ditanamkan untuk menjaga ketenteraman "orde" (ketertiban) masyarakat kolonial feodal itu. Contoh lain mudah diperoleh dalam kumpulan peribahasa bahasa-bahasa daerah dan Melayu.

NILAI-nilai yang ditanamkan dan diwariskan oleh orang-orang tua itu adalah nilai-nilai yang cocok dengan ajaran feodal yang menunjang kepentingan dan kelestarian penjajahan. Ajaran itu disebarkan secara lebih intensif melalui sekolah-sekolah yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda.

Adapun sekolah yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda ada beberapa macam:

Pertama, sekolah untuk orang Belanda (Eropa) atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, seperti ELS, HIS, MULO, AMS, dan HBS. Di sekolah ini, sejak dini para siswa diperkenalkan dengan sumber budaya Belanda (Eropa), yaitu budaya Yunani dan di tingkat sekolah lanjutan tingkat atas (AMS dan HBS) mereka belajar bahasa Latin, sedangkan sebelumnya mereka sudah diperkenalkan dengan mitologi dan drama-drama Yunani. Mereka juga diharuskan membaca buku-buku karya sastra klasik dan modern, bukan saja dalam bahasa Belanda, tetapi juga dalam bahasa modern Eropa lain, seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Dengan demikian, para siswa mengenal betul sumber budaya Eropa dan kekayaan rohani budaya Eropa modern seperti tampak dalam karya-karya tulisnya (tidak hanya karya sastra). Dengan demikian, tamatan sekolah lanjutan tingkat atas (AMS dan HBS) sudah menguasai dengan baik sumber-sumber budaya Barat.

Kedua, sekolah untuk orang asing Timur, seperti Tionghoa, India, dan Arab, seperti HCS (Holands Chineesche School) yang selain menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar juga mengajarkan bahasa China secara intensif. Para siswa pun mempelajari sumber budayanya, yaitu sumber budaya China. Mereka belajar bahasa China dan membaca karya-karyanya dalam bahasa itu sehingga mereka mengenal dengan baik karya-karya budaya klasik China.

Ketiga, sekolah untuk orang pribumi, seperti sekolah desa tiga tahun, Sekolah Angka II (lima kemudian enam tahun), sekolah sambungan (schakel school), sekolah guru (normaal school) yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah atau bahasa Melayu. Sekolah-sekolah pribumi ini didirikan Pemerintah Hindia Belanda terutama untuk mencukupi kebutuhannya akan tenaga-tenaga administrasi murahan dalam rangka eksploitasi kolonialnya. Karena itu, pelajaran yang diajarkan di sini amat sederhana, yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Dalam kurikulumnya, tak ada pelajaran tentang kekayaan budaya yang menjadi sumber hidup dan masyarakatnya. Untuk mereka disediakan buku-buku terbitan Balai Pustaka dalam perpustakaannya. Namun, meski buku-buku terbitan Volkslectuur, yang kemudian menjadi Balai Pustaka, itu semula saduran dari naskah-naskah kuno Nusantara, yang kemudian diterbitkan kebanyakan buku-buku terjemahan atau saduran dari bahasa Belanda. Dengan demikian, para siswa yang belajar di sekolah-sekolah pribumi tidak dianggap perlu mengenal dan mengetahui sumber budaya warisan leluhurnya sendiri.

Malangnya, ketika Indonesia merdeka, yang dilanjutkan Pemerintah Republik Indonesia (RI) adalah jenis sekolah untuk kaum pribumi, bukan model sekolah untuk orang Belanda atau Eropa. Mungkin karena semangat zaman yang serba anti- penjajahan Barat, kebudayaan Barat dengan serta-merta dikutuk dan diharamkan orang.

MEMANG bukan ELS, HIS, MULO, AMS, atau HBS yang harus dilanjutkan pendidikan RI, tetapi model sekolah itu telah terbukti amat efisien dan efektif menjadi wadah pewarisan budaya yang menjadi sumbernya. Modelnya sama, tetapi isinya harus disesuaikan dengan sumber budaya kita sendiri.

Pemerintah RI melanjutkan model sekolah untuk pribumi, yang dalam kurikulumnya ditambah sejarah nasional, ilmu bumi nasional, dan pelajaran berbagai ilmu yang dianggap perlu. Akan tetapi, tidak ada pelajaran yang menyebabkan si siswa mengenal sumber budayanya. Tidak ada yang menganggap perlu, anak didik yang akan menjadi pewaris negara dan bangsa Indonesia mengenal dengan baik sumber budayanya. Dengan demikian, anak-anak Jawa terputus dengan sumber budaya Jawa, anak-anak Sunda terputus dengan sumber budaya Sunda, anak-anak Bugis terputus dengan sumber budaya Bugis, anak-anak Aceh terputus dengan sumber budaya Aceh, dan seterusnya.

Memang ada pelajaran tentang Pancasila yang dianggap hasil galian dari bumi sendiri sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tetapi isinya lebih merupakan indoktrinasi dan hafalan. Maka, kini setelah hampir 60 tahun Indonesia merdeka, kita tiba-tiba terpukau melihat anak-anak bangsa kita tidak mengenal kekayaan budaya nenek moyangnya. Padahal kita selalu membanggakan diri dan menggembar-gemborkan kekayaan ragam budaya tradisi kita.

Kita memasukkan segala macam pelajaran untuk dimamah oleh anak didik sehingga berlebihan, tetapi mengenai sumber budayanya amat minim. Baru beberapa belas tahun terakhir ada pelajaran muatan lokal yang biasanya digunakan untuk memperkenalkan kesenian dan bahasa daerah setempat kepada anak didik, tetapi kedudukannya dalam kurikulum tidak termasuk penting. Bahasa Inggris dianggap jauh lebih penting.

Menurut hemat saya, masalah ini amat penting demi kelangsungan kita sebagai bangsa mandiri sehingga perlu mendapat perhatian bukan saja dari para teknokrat pendidikan dan para ahli kurikulum, tetapi juga dari semua ahli di bidang kemasyarakatan lainnya. Enam puluh tahun terlambat tidak apa kalau masih dapat segera diperbaiki.

Ajip Rosidi Pensiunan; Tinggal di Desa Pabelan, Magelang, Jawa Tengah

Sedekah Gunung

RITUAL SEDEKAH PERBUKITAN MENOREH ; Napak Tilas di Sendang Prajurit Diponegoro
WARGA Dusun Miriombo Wetan, Desa Giripurno, Kecamatan Borobudur, Magelang, menggelar Sedekah Gunung Mongkrong Selasa (26/2).
“Tradisi yang sudah turun temurun itu, dilakukan sebagai ungkapan syukur, sekaligus berdoa kepada yang Maha Kuasa memohon kemakmuran warga di lereng Gunung Mongkrong di perbukitan Menoreh,” kata Maryanto Kepala Desa Giripurno yang ditemui KR di sela-sela acara.
Acara didahului dengan ziarah kubur, di makam-makam leluhur pada Senin siang (25/2) kemarin. Malamnya, dilanjutkan tirakatan di rumah salah satu warga yang diteruskan dengan ritual di Watu Adeg dan Gunung Suroloyo hingga Selasa dini hari.
Pagi harinya, dipimpin 9 tokoh masyarakat Dusun Miriombo Wetan, di antaranya Mbah Notodohardyo, Mbah Wiryo Atmo, Kamijan, Hadi Suyitno, Pangat, Wahono dan yang lain, melakukan ritual napak tilas di Sendang Sabrang. Sendang Sabrang sendiri, konon merupakan tempat pemberhentian dan persembunyian prajurit Pangeran Diponegoro sebelum menuju Gua Selarong Bantul.
Di tempat itu, mereka melakukan acara ritual. Dimulai membaca geguritan dan tembang ‘Urip Suci’ oleh Hadi Suyitno. Selanjutnya, Kamijan salah satu tetua dusun mengambil air sendang untuk dimasukkan ke dalam kendi, kemudian diarak keliling dusun.
Dalam arak-arakan itu, ikut juga sebuah kursi kencana yang dipikul empat orang pemuda. Sebuah sesaji yang berisi nasi tumpeng, aneka jajan pasar dan beberapa masakan lain. Di belakang arak-arakan, ikut juga beberapa pengisi acara seperti kuda lumping anak-anak, jatilan, lengger dan yang lain. Arak-arakan berhenti di rumah Wiryo Sunoto Kepala Dusun Miriombo Wetan, tempat dilakukan pentas seni dan kenduri atau ‘walimahan’. Sementara Maryanto Kepala Desa Giripurno ditemui KR di sela-sela acara mengatakan, bahwa acara Sedekah Gunung Mongkrong, sebenarnya sudah menjadi tradisi turun temurun. Namun pada tahun ini, tradisi itu dilakukan sedikit lebih meriah dengan mengadakan arak-arakan dan pentas sejumlah kesenian tradisional. “Pada tahun-tahun lalu, warga hanya melakukan sembahyang dan ritual di sekitar Sendang Sabrang saja. Namun khusus pada tahun ini, dilakukan dengan arak-arakan dan pentas seni,” ujarnya.
Dibenarkan Sucoro, Ketua Warung Info Jagad Cleguk Borobudur, bahwa tradisi Sedekah Gunung Mongkrong itu memang tidak pernah diselenggarakan dengan meriah. Pasalnya, kondisi ekonomi warga pada waktu lalu sedang terpuruk. “Baru pada saat ini, kami bersama warga dusun mulai menggali dan menyelenggarakan tradisi itu dengan disertai prosesi arak-arakan dan pentas sejumlah kesenian tradisional,” kata Sucoro yang juga Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya Kecamatan Borobudur itu. (Bagyo Harsono)-z