google-site-verification: google50d34473960e8a7f.html Cakrawala Budaya: Desember 2009

Wedding

Wedding in Watamu
A dream come true location for your wedding celebration

Minggu, 13 Desember 2009

Kota Budaya

Solo, Kota Budaya Penuh Sejarah

Sriwijaya Post - Minggu, 14 Juni 2009 12:20 WIB

SOLO atau Sala atau Surakarta adalah nama kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini dikenal sebagai kota transit yang letaknya sangat strategis karena merupakan pertemuan jalur dari Semarang-Jakarta menuju Surabaya dan Bali. Kota Surakarta bukan saja kota tua yang berdiri sekitar 1745 lalu, namun juga kota yang memiliki peran sejarah sangat besar setelah perpecahan Mataram. Surakarta menjadi pusat pemerintahan. Penulis yang mengadakan perjalanan menuju Kabupaten Boyolali, Jateng, sempat singgah dan menginap selama dua hari di kota Solo, Senin (8/6) lalu.
Menuju kota Solo tidaklah sulit, hampir setiap maskapai penerbangan punya rute ke Surakarta, lalu mendarat di lapangan terbang internasional Adi Sumarmo Solo dengan waktu tempuh sekitar 60 menit dari Jakarta. Melalui jalan darat dapat ditempuh dengan perjalanan jalur Semarang menuju Madiun melalui jalur Selatan dan jalur Utara, ditempuh dengan menumpang Kereta Api, lalu berhenti di Station Solo Balapan. Sehingga praktis semua jalur dapat ditempuh menuju kota Solo.
Waktu satu hari memang belum begitu cukup untuk menikmati wisata alam dan wisata budaya di kota Solo. Saat menginjakkan kaki, aroma kebudayaan dengan keraton kasunanan dan Mangkunagaran yang kuno dan megah sudah begitu kental terasa.
Mengamati areal keraton Mangkunegara yang memiliki luas mencapai 5,4 hektar, wisatawan diajak mengenal adat istiadat dan budaya yang masih kental dipertahankan. Memasuki areal kraton, pelancong pasti terheran dengan masih kokoh berdirinya dua pohon beringin kembar yang konon berusia 250 tahun. Pengunjung dianjurkan untuk tidak melalui sisi kiri maupun kanan pohon kembar yang diberi nama Joyondaru, yang diyakini berjenis kelamin Laki-laki dan Dewandaru yang berjenis kelamin perempuan, tapi harus melalui jalur tengah antara sisi kanan dan sisi pohon beringin. Karena bila kebisaan ini dibantah, tujuan pengunjung untuk memasuki areal istana keraton tidak akan tercapai atau melenceng dari jalur yang telah disediakan.
Sebelum melewati kedua pohon kembar ini, alangkah baiknya bila pelancong berkenalan langsung dengan Pak Sukardi (84) yang telah diberi mandat oleh pihak keraton untuk menjaga pohon kembar ini. Menemui Pak Sukardi tidaklah terlalu sulit, pria yang berpenampilan sederhana ini sembari menunggu pengunjung menyempatkan diri berdagang rokok di sebelah kiri salah satu pohon kembar. Sukardi mengaku telah hampir delapan tahun ditunjuk pihak kraton untuk menjaga pohon kembar ini dan bersedia memberikan keterangan yang diminta wisatawan.
Keraton
Setelah melewati pohon beringin kembar ini pelancong dengan lancar dapat memasuki areal kraton surakarta. Sebelum memasuki areal kraton, sangat sayang bila pelancong melewatkan kesempatan untuk singgah dulu memasuki museum keraton yang menyimpan koleksi peradaban dan sejarah berdirinya keraton surakarta. Memasuki gedung museum, di sisi kanan dan kiri pintu masuk museum akan berdiri patung pasukan keraton berpakaian merah. Memasuki gedung bersegi empat ini di sisi kiri nampak berbagai peralatan yang biasa digunakan kesunanan pertama keraton Surakarta. di antara peralatan tersebut terdapat dandang untuk menanak nasi berukuran besar, maket pendopo tradjumas, Tulan Janngkrik dan Tulan semartinendu, Kayung perahu kyai Raja Mala, kereta kuda, peralatan perang seperti bedil dan pedang serta banyak koleksi benda budaya lainnya yang nampak terjaga dan tersimpan rapi.
Pelancong yang terlarut dalam sejarah keraton selain menikmati benda sejarah di dalam musium, jangan pula melewatkan kesempatan mengamati bagian luar atau tengah bagian luar museum yang terdapat dua sumur tua. Menurut Lanzar (42), salah seorang petugas, sumur yang dikenal dengan nama sumur songo ini merupakan lokasi bertapa raja kesembilan. Sekilas diamati air sumur ini nampak bening dan bersih, sehingga pengunjung berkeyakinan untuk menikmati langsung dengan meminum air sumur ini. “Airnya sangat bersih dan pernah diperiksa di laboratorium UNS tidak mengandung bakteri dan limbah,” tukas Lanzar seraya mengaku musim kemarau sumur sedalam enam meter ini tidak pernah kering dan hanya berkurang sekitar dua meter saja.
Memasuki halaman keraton yang terletak di sebelah utara museum, Pelancong akan berhadapan dengan abdi dalem yang lengkap dengan seragam batik kerajaan namun tidak mengenakan alas kaki baik sandal maupun sepatu. Mereka dengan ramah menyambut kedatangan wisatawan dan mengingatkan areal yang tidak bisa dijamah para wisatawan di sekitar keraton. Sekiling keraton nampak berdir sekitar 13 i patung yang berdiri kokoh sejak zaman VOC. Hutomo Gunadi (61) salah seorang abdi dalem tidak akan segan memperingatkan wisatwan yang mencoba memasuki areal yang dilarang.
selain dibekali dengan pengetahuan seputar keraton, para abdi dalem ini juga memiliki kemampuan untuk meramal sehingga memudahkan wisatawan untuk berteman akrab layaknya seperti saudara. Inilah kekhasan suasana kraton yang nampak sepi tanpa penjagaan, namun diakui masih aman dan tenteram. Suasana kraton nampak bersih walaupun beberapa peralatan seperti pudar ditelan zaman namun memancarkan makna terhadap cerita sejarah bangsa.
Pengunjung hendaknya tidak berhenti menggali potensi wisata di kota Solo, masih ada lokasi lain yang kalah asyik untuk menyimak peradaban bangsa di kota Solo, di antaranya dengan berwisata di istana mangkunegara, museum galeri batik kuno danarhadi, taman sriwedari, pasar gedhe dan pasar tradisional kelewer. Wisata alampun jangan dilewatkan, di antaranya dengan mengunjungi wisata alam tawangmangu yang dikenal sebagai puncaknya Solo yang bersuhu dingin, mengunjungi fosil rahang gajah dan kepala kerbau disitus sangiran, mengunjungi candi dan mengunjungi wisata gunung merbabu dan gunung merapi serta objek wisata lainnya.
Tempat jajanan pun tidak kalah asyik dengan berkunjung ke pasar malam kawasan Bagan yang menampilkan menu khas Solo serta pasar seni kerajinan rakyat yang digelar setiap malam minggu.
sripo cetak/naafi

© 2008-2009 Sripoku.com. All Right Reserved