Konperensi tunjuk belang
LAIN padang lain belalang, lain negara lain pula hak asasi warganya. Setidaknya begitulah kenyataan yang ada, kenyataan yang bisa saja dinilai tak sesuai dengan beberapa pandangan yang terlontar dalam Konferensi Hak Asasi Manusia di Wina, Austria, pekan lalu. Konferensi internasional di markas PBB di Wina itu bercita-cita ingin menyeragamkan rumusan hak asasi manusia sedunia. Itulah dokumen hukum internasional yang dikeluarkan oleh Konferensi Hak Asasi Manusia sedunia, yang dihadiri 6.000-an wakil dari 180-an negara, pengurus organisasi internasional, dan aktivitis hampir 200 lembaga swadaya masyarakat di bidang hak asasi manusia dan pembangunan. ''Yah, inilah hasil terbaik yang bisa diharapkan dari kongres hak asasi oleh PBB ini,'' kata ketua konferensi, Alois Mock. ''Yang penting, konsensus bisa didapatkan dari negara-negara yang sangat berbeda seperti Swedia, Austria, Burundi, India, Korea Utara, dan Libya,'' tambah Mock, yang sehari-hari menjabat Menteri Luar Negeri Austria itu. ''Kompromi memang tak mungkin memuaskan aspirasi semua pihak,'' kata ketua delegasi Indonesia, Wiryono. ''Yang penting, dokumen ini secara umum merefleksikan pandangan bersama kita tentang hak asasi manusia, sebuah isu yang sedang menjadi pusat perhatian dunia,'' tambah Direktur Jenderal Politik Departemen Luar Negeri Indonesia itu. Dalam dunia diplomasi, kompromi itu juga berarti pemakaian kata-kata yang bermakna ganda. Ambil contoh tentang sifat universalnya hak asasi manusia yang sempat menjadi perdebatan panas itu. Negara Barat dan lembaga swadaya masyarakat umumnya berupaya keras untuk menjaga keabsolutan sifat universalitas ini. Dan mereka menaruh curiga bahwa sebagian negara berkembang ingin membawa pengertiannya ke arah yang lebih nisbi, berdasarkan keadaan ekonomi, sosial, dan budaya masing-masing. ''Mereka hanya ingin menggunakan alasan perbedaan politik dan budaya serta ekonomi dan sosial sebagai tameng untuk menyembunyikan pelanggaran hak asasi manusia yang mereka lakukan secara sistematis,'' ujar juru bicara Amnesti Internasional, Anita Tiessen. Sebaliknya, banyak negara berkembang curiga bahwa negara Barat, yang sedang jumawa sebagai pemenang perang dingin, bermaksud menggunakan hak asasi manusia sebagai alat untuk memaksakan nilai-nilai yang dianutnya ke seluruh dunia. ''Di dunia, yang dalam kenyataannya masih merupakan ajang dominasi yang kuat terhadap yang lemah, dan campur tangan antarnegara masih terjadi, tak ada satu negara atau satu kelompok negara pun yang dapat menahbiskan dirinya sebagai hakim, juri, dan algojo sekaligus terhadap negara lain dalam bidang yang peka dan kritis ini,'' kata Menteri Ali Alatas dalam sambutannya di awal konferensi. Alatas, yang mengatasnamakan 108 negara berkembang yang tergabung dalam Gerakan Nonblok, rupanya merasa telah terjadi salah pengertian dalam konferensi. ''Kami tak bermaksud datang ke konferensi ini untuk melakukan konfrontasi ataupun memperjuangkan konsep baru hak asasi, yang ditudingkan berdasarkan atas kenisbian budaya,'' kata Menteri Luar Negeri Indonesia itu. ''Kami menyadari bahwa pelaksanaan dan promosi hak asasi manusia harus dilakukan dalam semangat kerja sama dan konsensus, dan bukan dengan konfrontasi ataupun pemaksaan nilai-nilai tertentu,'' tambahnya lagi. Dan kompromi memang akhirnya dicapai. Hak asasi manusia yang disepakati dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB tahun 1948 dinyatakan kembali sebagai hal yang berlaku universal. Juga diakui bahwa deklarasi itu sebagai pasal-pasal yang utuh, yang bersifat kait-mengait dan tak dapat dipisahkan. Pelaksanaan di satu sisinya tak dapat dijadikan alasan untuk melanggar di sisi yang lain. Deklarasi Universal PBB menyangkut tak hanya hak politik dan sipil, melainkan juga hak ekonomi, sosial, dan budaya. Bagi negara Barat seperti AS, ''hak sipil dan politik harus tetap di muka, kata pejabat ketua delegasi AS John Shattuc. Tak heran jika banyak negara berkembang menganggap negara maju meremehkan hak-hak nonsipil dan politik. Anggapan ini tak cuma subur di negara Asia Pasifik yang sering dituding media Barat terlalu memperhatikan pembangunan ekonomi, dan terlalu meremehkan hak politik dan sipil. Negara Amerika Latin, yang dalam dasawarsa ini mengalami kemajuan pesat di bidang politik dan sipil, mempunyai persepsi yang sama. Gert Rosenthal, Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonoml Amerika Latin dan Karibia, mengatakan regionalnya mengalami kemunduran di bidang hak asasi ekonomi kendati hak asasi sipil dan politiknya mengalami kemajuan pesat. Tahun 1980 hanya terdapat 136 juta (41%) penduduk kawasan ini berada di bawah garis kemiskinan absolut. Awal tahun 1990 jumlahnya naik menjadi 195 juta atau 45% penduduknya. Itulah sebabnya negara berkembang yang terpecah belah dalam berbagai persoalan lain ternyata bersatu padu dalam satu hal. Semuanya menentang keterkaitan (kondisionalitas) antara bantuan ekonomi dan kondisi hak asasi manusia negara penerima bantuan itu. Bahkan organisasi kerja sama internasional sepertl UNDP pun mempunyai sikap yang sama. ''Kondisionalitas hanya menyebabkan anggota masyarakat yang hak asasi ekonominya terlanggar menderita pukulan kedua setelah terpukul oleh pemerintahannya sendiri,'' kata Nyonya Ellen Johnson-Sirileaf, pejabat tinggi UNDP. Ia mengusulkan alternatif lain, yaitu meningkatkan peran lembaga swadaya masyarakat dalam pelaksanaan bantuan pembangunan negara berkembang. Lembaga swadaya masyarakat memang baru dalam konferensi kedua hak asasi manusia sedunia ini (yang pertama dilaksanakan di Teheran 25 tahun silam) secara resmi mendapatkan tempat. Namun, perannya belum diakui seratus persen karena statusnya dalam penyusunan dokumen konferensi masih terbatas sebagai pengamat dan pemberi masukan. Negara berkembang tampaknya masih diliputi kecurigaan bahwa lembaga swadaya masyarakat hanya menjadi kaki tangan negara maju, terutama karena pendanaan lembaga ini masih didominasi oleh donor negara maju. Lagipula, negara maju memang merupakan sponsor paling getol yang meminta agar lembaga swadaya masyarakat diakui sebagai peserta penuh konferensi. Bagi negara berkembang, persoalannya adalah lembaga tersebut mewakili siapa dan bagaimana kredibilitasnya. Baru setelah terdapat kompromi dalam menjawab pertanyaan tersebut, 200 lembaga swadaya masyarakat diundang, meski masih sebagai pengamat dan pemberi masukan saja. Masukan dari lembaga swadaya masyarakat yang paling kontroversial adalah usul dari Amnesti Internasional tentang perlunya pembentukan komisioner tinggi untuk hak asasi manusia. Negara berkembang yang sering menjadi sasaran laporan Amnesti Internasional yang menyudutkan umumnya menolak keras usul itu. ''Mengapa harus membentuk organisasi baru? Bukankah lebih baik memperkuat yang sudah ada saja?'' kata Wiryono, ketua delegasi Indonesia. Pasalnya, Pusat Hak Asasi Manusia PBB yang berkantor di Jenewa memang selalu mengeluh kekurangan dana dan personel. Namun, usul ini rupanya didukung kuat AS dan negara maju lainnya. Perdebatan sengit pun terjadi hingga penutupan sidang diundur hampir satu hari dari rencana semula. Negara berkembang, yang khawatir akan menjadi sasaran utama komisi hak asasi manusia ini, akhirnya menerima kompromi bahwa usul ini akan direkomendasikan ke Majelis Umum PBB untuk disetujui tahun ini. Sebagai pemanis, dokumen hak asasi manusia menyatakan bahwa pelaksanaan dan promosi hak asasi dilaksanakan tanpa pilih bulu. ''Jadi, kalau AS melanggar, ya harus diperlakukan sama seperti negara lain,'' kata diplomat Malaysia yang bekerja keras menahan usul ini. ''Tentu saja kami akan menerimanya,'' jawab John Shattuc dengan tangkas. Karena kampanye kuat negara maju dan lembaga swadaya masyarakat, banyak negara berkembang berada dalam posisi defensif. Diplomat Eropa seperti Belanda acap kali memberikan konferensi pers yang menunjuk negara-negara peserta konferensi yang ditudingnya sebagai penghambat kemajuan di bidang hak asasi. Iran, Suriah, Malaysia, RRC, dan negara Asia lainnya acap kali masuk daftar itu. Bahkan Indonesia juga pernah berapa kali terdaftar. Namun, sehari menjelang penutupan sidang, suasana berbalik. OKI, Organisasi Konferensi Islam, organisasi negara Islam yang beranggotakan 52 negara, memaksa sidang melakukan pemungutan suara untuk mendukung deklarasi yang menghujat pelanggaran hak asasi manusia di Bosnia-Herzegovina, yang hanya 300 km dari Wina itu. Juga diusulkan pencabutan embargo senjata terhadap Bosnia. Hampir saja upaya OKI gagal. Dengan alasan prosedural konferensi tak memungkinkan deklarasi terhadap kejadian spesifik di suatu negara dibahas, negara maju menolak. Namun, akhirnya voting dijalankan dan 88 negara mendukung, Rusia satu- satunya yang menentang dan sejumlah negara maju abstain (lihat Senjata untuk Bosnia). ''Jadi, sekarang bisa diekspos siapa sebenarnya yang berstandar ganda dalam hak asasi manusia,'' kata Hadi Wayarabi, anggota delegasi Indonesia di Wina, yang mengusulkan deklarasi ini dalam sidang OKI sebelumnya. ''Biar ketahuan belang mereka,'' tambahnya lagi. Itu barangkali kesimpulan utama konferensi dunia ini. Lain negara, lain pula pelanggaran hak asasi manusianya. Bambang Harymurti (Wina)
Copyright ©20010 TEMPOinteraktif
Wedding
Minggu, 26 Desember 2010
Minggu, 05 Desember 2010
Kasada Ceremony
contact usContact link to usLinks
Bali Indonesia Tourism
Browse » Home » East Java , East Java Culture » Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent
2010/01/06
Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent
Kasada CeremonyThe Kasada ceremony was a traditional ceremony Tenggerese in region of Mount Bromo, Probolinggo, East Java. Tengger society has appeal because of their remarkable is clinging to the customs and culture that guide his life. They are highly respected by people around because they are holding fast to their culture by living honestly. Local language they use daily is an ancient Javanese language. Interest perch are the descendants of Roro anteng (daughter of the King of Majapahit) and Joko Seger (son of Brahmin).
Kasada CeremonyAccording to the legend, Kasada ceremony occurred a few centuries ago during the reign of Brawijaya dynasty and Majapahit kingdom, the empress blessed with a daughter named Roro anteng. After growing up the daughter fell in love and married a young man named Joko Seger, the son of the Brahmin caste. At the time the decline of Majapahit Kingdom and accelerated development of Islam in Java, some confidant of the kingdom and some of his family decided to go to the east. And most of the mountainous region perch, including Roro Anteng and Joko Seger. After they became the ruler of this region, they are very sad because they have not blessed with a child. Variety of ways they are trying, until at last they’re going to the top of Mount Bromo to meditate. Finally their request was granted with the emergence of magical voice, the condition of their youngest child after birth must be sacrificed to the crater of Mount Bromo. After they were blessed with 25 children, it was time they had to sacrifice the youngest. But they did not have the heart to do it, because the conscience of parents who do not have the heart to kill his son. Finally the gods angry and licked her youngest child entered to the crater of the mountains, comes the voice from the youngest to their parents to live quietly with his brothers. And each year to make offerings to the Mount Bromo discarded. Until now this custom is done to the next.
Kasada ceremony held like previous years will usually be preceded by mutual cooperation potent cleaning Pura Luhur Bromo and followed by the temple ceremony or mendhak tirta or taking holy water from Widodaren Cave. After that, they walked from their respective regions to the Pura Luhur carrying offerings with 'ongkek'. The offerings will then be thrown into the crater of Mount Bromo after prayers.
Kasada CeremonyIn addition, Kasada ceremony was also made to appoint a doctor or a shaman in every village. A few days before the ceremony begins Kasada ceremony, they are working on offerings which will be thrown into the crater of Mount Bromo. On the night of the 14-month Kasada, community throng in large perch with ongkek containing offerings of various agricultural products and livestock. Then they took him to the temple and while waiting for a respected elder shaman dating. Held at midnight the inauguration of a new shaman and blessing the people in a sea of sand of Mount Bromo. For the Tengger society, the role of healer is very important. Because they charge event - the rituals, marriage, etc.
Kasada CeremonyAfter the ceremony, ongkek-containing offerings brought from the Mount Bromo foot to the crater and thrown into the crater, as a symbol of sacrifices made by their ancestors. Around the crater there are many beggars and people who live perched hinterland, they were far distant day to come to the Mount Bromo and establish a residence in the mountains near the Bromo crater in the hope of getting thrown offerings. Offerings of crops and livestock that in throwing into the crater is a symbol of God's word on the results of livestock and agricultural abundance. To be able to see the Kasada ceremony, better we arrived before midnight, because we can see the height of the preparation of the shaman and the Tengger community for the implementation of the Kasada ceremony.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
Feed
Other Recommended Posts on East Java, East Java Culture
* Karapan Sapi - Cow Racing From Madura Island
* Wayang (Puppet) - Ancient Performing Arts
* Reog Ponorogo - A Lion Who Crowned A Peacock Feathers
* Nusa Barong - The Island Of Snake
* Papuma Beach (Malikan White Sand) – Hidden Paradise With Unspoiled Nature
* Mount Bromo - Mountain With Sand Beach
* Lake Sarangan - Beautiful Sand Lake On The Slopes Of Mountains And Pine Forests
* Crater Ijen - Crater Lake Which Produces Sulfur
* Mandara Giri Semeru Agung Temple - The Second Biggest Temple In Indonesia
* Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent
Posted by Bali Indonesia Tourism at 1:14 PM
Labels: East Java, East Java Culture
Comments :
0 comments to “Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent”
Post a Comment
[Back] [Next] [Home]
Subscribe to: Post Comments (RSS)
Exotissimo Travel - Tailor-made Tours in Southeast Asia
Followers | JoinRecent Readers
You!
Join My Community
R C H R I S T I . C O M Zaenal Arifin goes Iip Afgan74 vinie ariestart Janette Ronpill Maya Arku
View Reader Community
Join this Community
(provided by MyBlogLog)
Web Directory
All Traveling Sites Destinations Blogs - Blog Catalog Blog Directory My Zimbio
Bali Indonesia Tourism | Travel | Vacation | Hotels | Map
Design by BlogTemplate4U | Support by Blogger
Bali Indonesia Tourism
Browse » Home » East Java , East Java Culture » Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent
2010/01/06
Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent
Kasada CeremonyThe Kasada ceremony was a traditional ceremony Tenggerese in region of Mount Bromo, Probolinggo, East Java. Tengger society has appeal because of their remarkable is clinging to the customs and culture that guide his life. They are highly respected by people around because they are holding fast to their culture by living honestly. Local language they use daily is an ancient Javanese language. Interest perch are the descendants of Roro anteng (daughter of the King of Majapahit) and Joko Seger (son of Brahmin).
Kasada CeremonyAccording to the legend, Kasada ceremony occurred a few centuries ago during the reign of Brawijaya dynasty and Majapahit kingdom, the empress blessed with a daughter named Roro anteng. After growing up the daughter fell in love and married a young man named Joko Seger, the son of the Brahmin caste. At the time the decline of Majapahit Kingdom and accelerated development of Islam in Java, some confidant of the kingdom and some of his family decided to go to the east. And most of the mountainous region perch, including Roro Anteng and Joko Seger. After they became the ruler of this region, they are very sad because they have not blessed with a child. Variety of ways they are trying, until at last they’re going to the top of Mount Bromo to meditate. Finally their request was granted with the emergence of magical voice, the condition of their youngest child after birth must be sacrificed to the crater of Mount Bromo. After they were blessed with 25 children, it was time they had to sacrifice the youngest. But they did not have the heart to do it, because the conscience of parents who do not have the heart to kill his son. Finally the gods angry and licked her youngest child entered to the crater of the mountains, comes the voice from the youngest to their parents to live quietly with his brothers. And each year to make offerings to the Mount Bromo discarded. Until now this custom is done to the next.
Kasada ceremony held like previous years will usually be preceded by mutual cooperation potent cleaning Pura Luhur Bromo and followed by the temple ceremony or mendhak tirta or taking holy water from Widodaren Cave. After that, they walked from their respective regions to the Pura Luhur carrying offerings with 'ongkek'. The offerings will then be thrown into the crater of Mount Bromo after prayers.
Kasada CeremonyIn addition, Kasada ceremony was also made to appoint a doctor or a shaman in every village. A few days before the ceremony begins Kasada ceremony, they are working on offerings which will be thrown into the crater of Mount Bromo. On the night of the 14-month Kasada, community throng in large perch with ongkek containing offerings of various agricultural products and livestock. Then they took him to the temple and while waiting for a respected elder shaman dating. Held at midnight the inauguration of a new shaman and blessing the people in a sea of sand of Mount Bromo. For the Tengger society, the role of healer is very important. Because they charge event - the rituals, marriage, etc.
Kasada CeremonyAfter the ceremony, ongkek-containing offerings brought from the Mount Bromo foot to the crater and thrown into the crater, as a symbol of sacrifices made by their ancestors. Around the crater there are many beggars and people who live perched hinterland, they were far distant day to come to the Mount Bromo and establish a residence in the mountains near the Bromo crater in the hope of getting thrown offerings. Offerings of crops and livestock that in throwing into the crater is a symbol of God's word on the results of livestock and agricultural abundance. To be able to see the Kasada ceremony, better we arrived before midnight, because we can see the height of the preparation of the shaman and the Tengger community for the implementation of the Kasada ceremony.
Stumble
Delicious
Technorati
Digg
Feed
Other Recommended Posts on East Java, East Java Culture
* Karapan Sapi - Cow Racing From Madura Island
* Wayang (Puppet) - Ancient Performing Arts
* Reog Ponorogo - A Lion Who Crowned A Peacock Feathers
* Nusa Barong - The Island Of Snake
* Papuma Beach (Malikan White Sand) – Hidden Paradise With Unspoiled Nature
* Mount Bromo - Mountain With Sand Beach
* Lake Sarangan - Beautiful Sand Lake On The Slopes Of Mountains And Pine Forests
* Crater Ijen - Crater Lake Which Produces Sulfur
* Mandara Giri Semeru Agung Temple - The Second Biggest Temple In Indonesia
* Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent
Posted by Bali Indonesia Tourism at 1:14 PM
Labels: East Java, East Java Culture
Comments :
0 comments to “Kasada Ceremony - Sacrifice Memorial To Plead Descent”
Post a Comment
[Back] [Next] [Home]
Subscribe to: Post Comments (RSS)
Exotissimo Travel - Tailor-made Tours in Southeast Asia
Followers | JoinRecent Readers
You!
Join My Community
R C H R I S T I . C O M Zaenal Arifin goes Iip Afgan74 vinie ariestart Janette Ronpill Maya Arku
View Reader Community
Join this Community
(provided by MyBlogLog)
Web Directory
All Traveling Sites Destinations Blogs - Blog Catalog Blog Directory My Zimbio
Bali Indonesia Tourism | Travel | Vacation | Hotels | Map
Design by BlogTemplate4U | Support by Blogger
Selasa, 30 November 2010
Anthropology of Religion
"In the anthropology of religion, as in many interpretive pursuits of our postmodern age, there is nowhere left to hide."
James Boon
Introduction and State of the Field
According to Stephen Glazier (1997), one could easily arrive at the impression that in the discipline of anthropology as a whole, anthropology of religion is currently on the run. It is difficult to find programs that take anthropology of religion seriously, where one can do graduate work, where one can find professors for whom religion is a primary concern. But in the post-Cold War era, with rising levels of ethnic and religious conflict, the effects of religion, its impact on our social and political lives, have greater visibility than at any time in the past twenty years. As Glazier and others have suggested, we may in fact be in a sort of Golden Age for the anthropology of religion--but not all the action is taking place inside the discipline of anthropology.
In specific terms, the field is receiving rising interest from outside the academy and a rising level of credibility on the inside. Currently one can study the anthropology of religion at the anthropology departments of, among others, Drew University, Princeton University, Rice University, University of California -Berkeley, and University of Michigan, all of which have one or two established anthropologists who take religion seriously as a category of analysis. But it is also possible to study the anthropology of religion in religious studies at many other places, including Indiana University, University of Chicago, Harvard, and University of California-Santa Barbara. Furthermore, after contending with tremendous resistance, Morton Klass, James Peacock and others have finally succeeded in forming the Anthropology of Religion Section of the American Anthropological Association. Publications on the anthropology of religion are growing, and while a great deal of the output consists of reprints of classic texts, people are also beginning to re-think their theoretical standpoint towards the study of religion in some creative ways (Glazier 1997: 3). While there is no journal that specializes in the publication of articles on the anthropology of religion, many such articles can be found in journals of religion as well as in general anthropology journals.
What is Anthropology of Religion?
There was a time, in the nineteenth century, when anthropologists saw in religion an archaic mode of thought and action that would one day recede in the force of the modern institutions of science, law, politics, and education. Although no anthropologist would say that with such certainty today, problems of definition remain a hindrance to the study of religion. Depending upon how we identify it, what we see as the religious reaches into virtually every corner of human activity. Fundamentally then, the anthropology of religion must quite simply be seen as the application of the weight of anthropological theory and method to the analytical and social quandary of religion or religions--What is it? What are they? What do we speak of when we speak of "religion" and how does that relate to particular religions"? What makes religion? What does it do for us? Other disciplines ask the same or similar questions, but in anthropology the focus of the analysis is generally ethnographic. In comparison, within the history of religion, one may seek to answer the same questions of world religions by looking in the literary record, in myth, and the work of religious professionals. Of course, anthropologists of religion have never shied away from dealing with the broadest range of religious experiences and values, historically and in every sort of society, but they have usually focused their attentions on the immediate concerns of practitioners, which lie in tension with the perceived orthodoxy, the canons, and the doctrines of religious professionals.
Brief History of Anthropology of Religion
E.B. Tylor (1832-1917), of the so-called English School of anthropology, is regarded as the founding father of anthropology of religion. His works are still widely read, especially in religious studies, where he is regarded as a founder of sorts. Tylor’s legacy has weakened in recent years and in practical terms, throughout both disciplines, his influence is but a memory. In general this is because his most well-known theory, which applied evolutionary theory to the study of religion, assumed that stages of material "advancement" corresponded with those of a spiritual nature, a concept which has been repeatedly disproved. In his most famous work, he formulated a theory of animism as the earliest, "primitive" stage of religion. Tylor was joined, in both England and France, by a host of fellow travelers, including James Frazer (1854-1941), whose comparative mythologies were so inspiring to later study, and R.R. Marett (1866-1943), who proposed a preanimistic stage of religion.
Despite Tylor’s beneficence, perhaps the foundations of contemporary anthropology of religion are best seen as having been built upon the work of the same nineteenth century social thinkers that support virtually all of the social sciences: Durkheim, Weber, Marx, and Freud. Emile Durkheim (1858-1917), later regarded as the first of the French School, viewed religious experiences as "social facts" which bypass empirical truth. His successors included Marcel Mauss and Lucien Levy-Bruhl, both of whom were enormously influential in the analysis of "primitive" religion. Arnold van Gennep (1873-1957), author of Rites de Passage, was another influential member of the French School. Max Weber (1864-1920) emphasized the common links between the social and the economic spheres of human activity. Karl Marx (1818-1883) was concerned by the spiritual alienation arising from socioeconomic deprivation and drew attention to the masking of economic inequality through religious activity and thought. Sigmund Freud (1856-1839) articulated a full and intellectually inspiring reduction of religious experience to biological and social drives. These men broke down barriers to understanding religion, arousing, in the process, deep hostility and an amazing variety of interpretive creativity.
From the American standpoint, the German diffusionists, who countered the English and French evolutionists, have been a vital influence on the anthropology of religion. They held simply that similarities in cultures can usually be ascribed to diffusion from one site of original invention. The German-American Franz Boas worked in this vein and, in numerous studies, insisted upon the primacy of culture over inherent qualities of race, as well as on the most careful of ethnographic fieldwork. Hallmarks of this legacy may be found today in the work of almost any American anthropologist. Boas saw each element of a culture, physical or mental, as part of a cultural whole and thus is usually seen as a functionalist.
Bronislaw Malinowski (1884-1942), another functionalist who also advocated tight, descriptive ethnography, attempted to record--and establish the character of--the native mentality of an island people. He drew on Frazer for his general categorizations of magic, science, and religion and viewed those in the religious vein as being without application. A.A. Radcliffe-Brown (1881-1955) is also associated with the functionalist school for his work establishing the cosmological functions of myths in maintaining natural order.
In his work on theories of primitive religion, E.E. Evans Pritchard (1902-1973), like Boas, gave voice to a backlash against many of the assumptions about religion and religious categorizations found in Tylor’s and other works. He was not alone in desiring to break up the classic anthropological dichotomies of primitive/modern, monogamy/promiscuity, white/brown, animist/monotheist that seemed to inform so much ethnography. Criticism of these early works continues to be a characteristic of contemporary anthropology of religion. Nevertheless, the works of many of these same men and women are still being read for the intricacies of their observation and interpretation.
Contemporary anthropology of religion rests upon a variety of figures and movements. The mythic structuralism of Claude Levi-Strauss, though out of a fashion as a totalizing theory, remains a vital point of conversation and an evocative foil for many who still write in a structuralist vein. The theories of Mary Douglas, who structured her generalizations upon ritual and emphasized social relations over Levi-Strauss’s mental ones, are similarly less used than discussed. Clifford Geertz, the original practitioner of interpretive anthropology, while much criticized, sees religion as a set of symbols and stresses the meaning of those symbols as referents and creators of meaningful life.
In the sixties, a variety of new ideas about religious anthropology arose, some based upon the work of the three named above, some drawing from other disciplines. Geertz began his work on religion as a cultural system. Melford Spiro lashed out at the legacy of Durkheim for setting religion apart from the main of everyday life. Anthropologists began to see religion as sets of symbols or structured systems. Through the work of Douglas and Victor Turner, as well as performance theory, a new emphasis on ritual was established. The essential debate over ritual has generally involved issues of whether ritual reduces or enhances the ambiguity of life. Studies often hinge on psychoanalytic interpretations, involving Freud and Lacan. Work in the line of Durkheim and Weber has continued as well.
Much of the anthropological work conducted in a psycholanalytic vein was concerned with shamanism and, to a lesser degree, tantrism. Shamanism was a major topic of discussion in the late sixties and seventies, as it was seen by some to hold a variety of elemental social or psychological keys to religion and religious phenomena. In 1982, Sudhir Kakar attempted to compare the two as psychotherapeutic devices. Ake Hultkrantz took shamanism studies in another direction with ecological and phenomenological, cross-cultural research. As perhaps an offshoot of shamanism studies’ emphasis on psychoanalysis and alternate states of consciousness, the anthropology of consciousness has developed and grown in recent years. Alone among other forms of the anthropology of religion, this subfield is concerned with the actual mental states of those undergoing religious experiences, and is found only in anthropology and not in religious studies.
The seventies and eighties saw the beginnings of the literary criticism and post-colonial studies revolution in anthropology, greatly affecting the manner in which we think and speak about religion. This trend dovetailed with the continual and painful self-examination into the predilections and prejudices of anthropologists through the last hundred and fifty years. A new brand of historical anthropology has arisen usually involving colonial and post-colonial studies and a review of the history of previous anthropological study in a particular area, focusing on the errors committed in earlier research and the manner in which the studies themselves have reflected back upon the subjects. As they concern religion, such works are more often written by anthropologists in religious studies departments.
Currently, the "lit-crit" revision of the humanities is in full swing in religious studies and anthropology of religion, though not without conflict and contention, particularly in religious studies departments. In a related mode, there is a continued questioning of categories like belief and religion itself, as theorists from a variety of backgrounds attempt to establish the usefulness of the manner in which we speak of religion and culture. The emphasis here, as elsewhere in the social sciences, is on the dynamic, unstable character of all historical phenomena, not only in the present day, but also in the past.
In terms of subject matter, the current emphasis is not on tribal or rural, but on urban religion. Studies attend less to religious texts and more to lived religion as it is experienced in our daily lives. This means including the experiences of white, middle class America, a normative category which had previously been ignored in studies. Anthropologists today are fascinated more than ever before by the religious strange in the culturally familiar--in particular, the study of what might be characterized as ugly and dark--religious racism, sexism, snake-handling.
Today, religion is seen by many anthropologists (and other scholars) on its own terms, as a discrete area of human activity, with defining, if contestable, characteristics. This does not mean that scholars are not critical of religion or do not resort to the same sophisticated theoretical modeling to understand religious phenomenon that they use in other areas. But neither do they dismiss it or reduce it entirely. Anthropologists of religion are highly self-reflexive and highly self critical. Today, more than ever before, scholars are extraordinarily careful when speaking of religion. They are critical of our everyday terminology: ideas like belief and culture and ritual are constantly being reassessed or called into question--to the point, in fact, where one can hardly speak reasonably about "belief" anymore outside of certain Western historical contexts.
General Characteristics of Contemporary Anthropology of Religion
As demonstrated above, anthropology of religion cannot be defined theoretically or, beyond a general concern with religion, even in terms of subject matter--it spans theory and is very frankly interdisciplinary in its broadest manifestations. But contemporary anthropology of religion may be characterized in more specific ways:
1. Contemporary anthropology of religion sympathizes with the "practicalities" (William James’s word) of religious experience: religion on the ground, in the populace, and the tensions felt there between official, institutional notions and the polytheistic, even inclusive atmosphere of majority religious life. This is partially a result of anthropology’s historical emphasis on "non-literate," "primitive" religious life, i.e., religion that does not resemble Western European Christianity and/or Judaism in any apparent way. Anthropology of religion thus tends to emphasize the local particularities of religious life--spirit worship, saint cults, possession--as opposed to the idealizations of religious specialists, world renunciants, or sophisticated religious ethics and scholasticism
2. Contemporary anthropology of religion is methodologically and theoretically diverse. Because anthropological subdisciplines share common intellectual roots, there are as many ways of doing anthropology of religion as there are of doing any other sort. Followers of Durkheim, Weber, Marxists, Freudians, structuralists, structural-functionalists, and those influenced by more recent theorists, have found--and still find--their own ways of interpreting religion.
3. Contemporary anthropology of religion attempts to overcome the prejudicial, Western-biased understandings of religion found in flawed but still valuable works such as those by Evans-Pritchard, Malinowski, Tylor, and Levi-Strauss. In the sixties, their concrete and totalizing definitions of religion began to be replaced by more fluid, contingent working definitions. Clifford Geertz, for example, understand religion to be a system of symbols that are uniquely realistic to practitioners in various ways. Melford Spiro, on the other hand, as an answer to Durkheim specifically, convincingly reduced religion to those acts and experiences that involve dealings with the superhuman. Both of these have been under fire for some years, though both maintain their utility
4. Finally, and most anthropologically, I believe, contemporary anthropology of religion emphasizes place. Place is what, in fact, sets anthropology of religion apart from "religious studies" and is also, perhaps, the greatest contribution of the anthropology of religion to contemporary religious studies. Anthropologists of religion in anthropology and in religious studies have consistently articulated a deep knowledge of place as an antidote to the sometimes facile, superficial approach of "comparative religion."
A Highly Selective Bibliography
Introductory Texts and Readers
Klass, Morton.
1995 Ordered Universes: Approaches to the Anthropology of Religion. Boulder, COWestview Press.
Lehmann, Arthur C. and James M. Meyers, eds.
1985 Magic, Witchcraft, and Religion: An Anthropological Study of the Supernatural. Palo Alto: Mayfield.
Lessa, William A., and Evon Z. Vogt, eds.
1979 Reader in Comparative Religion: An Anthropological Approach. 4th ed. New York: Harper and Row.
Case Studies
Brown, Karen McCarthy
1991 Mama Lola. Berkeley: University of California Press.
Evans-Pritchard, E. E.
1940. The Nuer. Clarendon: Oxford University Press.
Geertz, Clifford.
1976 The Religion of Java. Chicago : University of Chicago Press.
Grim, John
1983 The Shaman: Patterns of Siberian and Ojibway Healing. Norman: University of Oklahoma Press.
Hultkrantz, Ake
1967 Spirit Lodge: A North American Shamanistic Seance. In Carl-Martin Edsman, ed. Studies in Shamanism. Stockholm: Almqvist and Wiksell.
Spiro, Melford E.
1982 Buddhism and Society. 2nd ed. Berkeley: University of California Press.
Tambiah, Stanley Jeyaraja
1970 Buddhism and the spirit cults in north-east Thailand. Cambridge: CambridgeUniversity Press.
Turner, Victor
1967 Forest of Symbols. Ithaca: Cornell University Press.
Turner, Victor and Edith Turner
1978 Image and Pilgrimage in Christian Culture: Anthropological Perspectives. New York: Columbia University Press.
Theory
Asad, Talal
1983 Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz. Man 18:237-259.
Bateson, Gregory, and Mary Catherine Bateson
1987 Angels Fear: Toward an Epistemology of the Sacred. New York: Macmillan.
Berger, Peter
1967 The Sacred Canopy. New York: Basic Books.
Bloch, Maurice and Jonathan Parry, eds.
1982 Death and the Regeneration of Life. Cambridge: Cambridge University Press.
Boon, James A.
1982 Other Tribes, Other Scribes: Symbolic Anthropology in the ComparativeStudy of Cultures, Histories, Religions, and Texts. New York: Cambridge University Press.
Boyer, Pascal
1994 The Naturalness of Religious Ideas: A Cognitive Theory of Religion. BerkeleyUniversity of California Press.
Evans-Pritchard, E. E.
1965. Theories of Primitive Religion. Oxford: Oxford University Press.
Fabian, Johannes.
1981 Six Theses Regarding the Anthropology of African Religious Movements. Religion 11: 109-126.
Geertz, Clifford.
1973 Religion as a Cultural System. In his The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Glazier, Nathan, ed.
1997 Anthropology of Religion: A Handbook. Westport, CT: Greenwood Press.
Kakar, Sudhir
1982 Shamans, Mystics, and Doctors: A Psychological Inquiry into India and Its Healing Traditions. New York, 1982.
Keys, Charles F. and E. Valentine Daniel, eds.
1983 Karma: An Anthropological Inquiry. Berkeley: University of California Press.
Spiro, Melford E.
1966 "Religion: Problems of Definition and Explanation." In Anthropological Approaches to the Study of Religion. Michael P. Baton, ed. 85-125. London: Tavistock Publications.
Taussig, Michael.
1978. Shamanism, Colonialism, and the Wild Man: A Study in Terror and HealingChicago: University of Chicago Press.
Taylor, Mark Kline.
1986 Beyond Explanation: Religious Dimensions in Cultural Anthropology. Macon, GA: Mercer University Press.
Turner, Victor
1969 The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publishing.
1973a Symbols in African Ritual. Science. 179: 1100-1105.
1973b The Center Out There: the Pilgrim's Goal. In History of Religions 12: 191-230.
Turner, Victor and Edward M. Brunner, eds.
1987 The Anthropology of Experience. Urbana: University of Illinois Press.
Web Pages
Anthropology of religion section of the American Anthropological Association:
http://www.uwgb.edu/sar/index.htm
University of Alabama Department of Anthropology:
http://www.as.ua.edu/ant/Faculty/murphy/436/anthros.htm
James Boon
Introduction and State of the Field
According to Stephen Glazier (1997), one could easily arrive at the impression that in the discipline of anthropology as a whole, anthropology of religion is currently on the run. It is difficult to find programs that take anthropology of religion seriously, where one can do graduate work, where one can find professors for whom religion is a primary concern. But in the post-Cold War era, with rising levels of ethnic and religious conflict, the effects of religion, its impact on our social and political lives, have greater visibility than at any time in the past twenty years. As Glazier and others have suggested, we may in fact be in a sort of Golden Age for the anthropology of religion--but not all the action is taking place inside the discipline of anthropology.
In specific terms, the field is receiving rising interest from outside the academy and a rising level of credibility on the inside. Currently one can study the anthropology of religion at the anthropology departments of, among others, Drew University, Princeton University, Rice University, University of California -Berkeley, and University of Michigan, all of which have one or two established anthropologists who take religion seriously as a category of analysis. But it is also possible to study the anthropology of religion in religious studies at many other places, including Indiana University, University of Chicago, Harvard, and University of California-Santa Barbara. Furthermore, after contending with tremendous resistance, Morton Klass, James Peacock and others have finally succeeded in forming the Anthropology of Religion Section of the American Anthropological Association. Publications on the anthropology of religion are growing, and while a great deal of the output consists of reprints of classic texts, people are also beginning to re-think their theoretical standpoint towards the study of religion in some creative ways (Glazier 1997: 3). While there is no journal that specializes in the publication of articles on the anthropology of religion, many such articles can be found in journals of religion as well as in general anthropology journals.
What is Anthropology of Religion?
There was a time, in the nineteenth century, when anthropologists saw in religion an archaic mode of thought and action that would one day recede in the force of the modern institutions of science, law, politics, and education. Although no anthropologist would say that with such certainty today, problems of definition remain a hindrance to the study of religion. Depending upon how we identify it, what we see as the religious reaches into virtually every corner of human activity. Fundamentally then, the anthropology of religion must quite simply be seen as the application of the weight of anthropological theory and method to the analytical and social quandary of religion or religions--What is it? What are they? What do we speak of when we speak of "religion" and how does that relate to particular religions"? What makes religion? What does it do for us? Other disciplines ask the same or similar questions, but in anthropology the focus of the analysis is generally ethnographic. In comparison, within the history of religion, one may seek to answer the same questions of world religions by looking in the literary record, in myth, and the work of religious professionals. Of course, anthropologists of religion have never shied away from dealing with the broadest range of religious experiences and values, historically and in every sort of society, but they have usually focused their attentions on the immediate concerns of practitioners, which lie in tension with the perceived orthodoxy, the canons, and the doctrines of religious professionals.
Brief History of Anthropology of Religion
E.B. Tylor (1832-1917), of the so-called English School of anthropology, is regarded as the founding father of anthropology of religion. His works are still widely read, especially in religious studies, where he is regarded as a founder of sorts. Tylor’s legacy has weakened in recent years and in practical terms, throughout both disciplines, his influence is but a memory. In general this is because his most well-known theory, which applied evolutionary theory to the study of religion, assumed that stages of material "advancement" corresponded with those of a spiritual nature, a concept which has been repeatedly disproved. In his most famous work, he formulated a theory of animism as the earliest, "primitive" stage of religion. Tylor was joined, in both England and France, by a host of fellow travelers, including James Frazer (1854-1941), whose comparative mythologies were so inspiring to later study, and R.R. Marett (1866-1943), who proposed a preanimistic stage of religion.
Despite Tylor’s beneficence, perhaps the foundations of contemporary anthropology of religion are best seen as having been built upon the work of the same nineteenth century social thinkers that support virtually all of the social sciences: Durkheim, Weber, Marx, and Freud. Emile Durkheim (1858-1917), later regarded as the first of the French School, viewed religious experiences as "social facts" which bypass empirical truth. His successors included Marcel Mauss and Lucien Levy-Bruhl, both of whom were enormously influential in the analysis of "primitive" religion. Arnold van Gennep (1873-1957), author of Rites de Passage, was another influential member of the French School. Max Weber (1864-1920) emphasized the common links between the social and the economic spheres of human activity. Karl Marx (1818-1883) was concerned by the spiritual alienation arising from socioeconomic deprivation and drew attention to the masking of economic inequality through religious activity and thought. Sigmund Freud (1856-1839) articulated a full and intellectually inspiring reduction of religious experience to biological and social drives. These men broke down barriers to understanding religion, arousing, in the process, deep hostility and an amazing variety of interpretive creativity.
From the American standpoint, the German diffusionists, who countered the English and French evolutionists, have been a vital influence on the anthropology of religion. They held simply that similarities in cultures can usually be ascribed to diffusion from one site of original invention. The German-American Franz Boas worked in this vein and, in numerous studies, insisted upon the primacy of culture over inherent qualities of race, as well as on the most careful of ethnographic fieldwork. Hallmarks of this legacy may be found today in the work of almost any American anthropologist. Boas saw each element of a culture, physical or mental, as part of a cultural whole and thus is usually seen as a functionalist.
Bronislaw Malinowski (1884-1942), another functionalist who also advocated tight, descriptive ethnography, attempted to record--and establish the character of--the native mentality of an island people. He drew on Frazer for his general categorizations of magic, science, and religion and viewed those in the religious vein as being without application. A.A. Radcliffe-Brown (1881-1955) is also associated with the functionalist school for his work establishing the cosmological functions of myths in maintaining natural order.
In his work on theories of primitive religion, E.E. Evans Pritchard (1902-1973), like Boas, gave voice to a backlash against many of the assumptions about religion and religious categorizations found in Tylor’s and other works. He was not alone in desiring to break up the classic anthropological dichotomies of primitive/modern, monogamy/promiscuity, white/brown, animist/monotheist that seemed to inform so much ethnography. Criticism of these early works continues to be a characteristic of contemporary anthropology of religion. Nevertheless, the works of many of these same men and women are still being read for the intricacies of their observation and interpretation.
Contemporary anthropology of religion rests upon a variety of figures and movements. The mythic structuralism of Claude Levi-Strauss, though out of a fashion as a totalizing theory, remains a vital point of conversation and an evocative foil for many who still write in a structuralist vein. The theories of Mary Douglas, who structured her generalizations upon ritual and emphasized social relations over Levi-Strauss’s mental ones, are similarly less used than discussed. Clifford Geertz, the original practitioner of interpretive anthropology, while much criticized, sees religion as a set of symbols and stresses the meaning of those symbols as referents and creators of meaningful life.
In the sixties, a variety of new ideas about religious anthropology arose, some based upon the work of the three named above, some drawing from other disciplines. Geertz began his work on religion as a cultural system. Melford Spiro lashed out at the legacy of Durkheim for setting religion apart from the main of everyday life. Anthropologists began to see religion as sets of symbols or structured systems. Through the work of Douglas and Victor Turner, as well as performance theory, a new emphasis on ritual was established. The essential debate over ritual has generally involved issues of whether ritual reduces or enhances the ambiguity of life. Studies often hinge on psychoanalytic interpretations, involving Freud and Lacan. Work in the line of Durkheim and Weber has continued as well.
Much of the anthropological work conducted in a psycholanalytic vein was concerned with shamanism and, to a lesser degree, tantrism. Shamanism was a major topic of discussion in the late sixties and seventies, as it was seen by some to hold a variety of elemental social or psychological keys to religion and religious phenomena. In 1982, Sudhir Kakar attempted to compare the two as psychotherapeutic devices. Ake Hultkrantz took shamanism studies in another direction with ecological and phenomenological, cross-cultural research. As perhaps an offshoot of shamanism studies’ emphasis on psychoanalysis and alternate states of consciousness, the anthropology of consciousness has developed and grown in recent years. Alone among other forms of the anthropology of religion, this subfield is concerned with the actual mental states of those undergoing religious experiences, and is found only in anthropology and not in religious studies.
The seventies and eighties saw the beginnings of the literary criticism and post-colonial studies revolution in anthropology, greatly affecting the manner in which we think and speak about religion. This trend dovetailed with the continual and painful self-examination into the predilections and prejudices of anthropologists through the last hundred and fifty years. A new brand of historical anthropology has arisen usually involving colonial and post-colonial studies and a review of the history of previous anthropological study in a particular area, focusing on the errors committed in earlier research and the manner in which the studies themselves have reflected back upon the subjects. As they concern religion, such works are more often written by anthropologists in religious studies departments.
Currently, the "lit-crit" revision of the humanities is in full swing in religious studies and anthropology of religion, though not without conflict and contention, particularly in religious studies departments. In a related mode, there is a continued questioning of categories like belief and religion itself, as theorists from a variety of backgrounds attempt to establish the usefulness of the manner in which we speak of religion and culture. The emphasis here, as elsewhere in the social sciences, is on the dynamic, unstable character of all historical phenomena, not only in the present day, but also in the past.
In terms of subject matter, the current emphasis is not on tribal or rural, but on urban religion. Studies attend less to religious texts and more to lived religion as it is experienced in our daily lives. This means including the experiences of white, middle class America, a normative category which had previously been ignored in studies. Anthropologists today are fascinated more than ever before by the religious strange in the culturally familiar--in particular, the study of what might be characterized as ugly and dark--religious racism, sexism, snake-handling.
Today, religion is seen by many anthropologists (and other scholars) on its own terms, as a discrete area of human activity, with defining, if contestable, characteristics. This does not mean that scholars are not critical of religion or do not resort to the same sophisticated theoretical modeling to understand religious phenomenon that they use in other areas. But neither do they dismiss it or reduce it entirely. Anthropologists of religion are highly self-reflexive and highly self critical. Today, more than ever before, scholars are extraordinarily careful when speaking of religion. They are critical of our everyday terminology: ideas like belief and culture and ritual are constantly being reassessed or called into question--to the point, in fact, where one can hardly speak reasonably about "belief" anymore outside of certain Western historical contexts.
General Characteristics of Contemporary Anthropology of Religion
As demonstrated above, anthropology of religion cannot be defined theoretically or, beyond a general concern with religion, even in terms of subject matter--it spans theory and is very frankly interdisciplinary in its broadest manifestations. But contemporary anthropology of religion may be characterized in more specific ways:
1. Contemporary anthropology of religion sympathizes with the "practicalities" (William James’s word) of religious experience: religion on the ground, in the populace, and the tensions felt there between official, institutional notions and the polytheistic, even inclusive atmosphere of majority religious life. This is partially a result of anthropology’s historical emphasis on "non-literate," "primitive" religious life, i.e., religion that does not resemble Western European Christianity and/or Judaism in any apparent way. Anthropology of religion thus tends to emphasize the local particularities of religious life--spirit worship, saint cults, possession--as opposed to the idealizations of religious specialists, world renunciants, or sophisticated religious ethics and scholasticism
2. Contemporary anthropology of religion is methodologically and theoretically diverse. Because anthropological subdisciplines share common intellectual roots, there are as many ways of doing anthropology of religion as there are of doing any other sort. Followers of Durkheim, Weber, Marxists, Freudians, structuralists, structural-functionalists, and those influenced by more recent theorists, have found--and still find--their own ways of interpreting religion.
3. Contemporary anthropology of religion attempts to overcome the prejudicial, Western-biased understandings of religion found in flawed but still valuable works such as those by Evans-Pritchard, Malinowski, Tylor, and Levi-Strauss. In the sixties, their concrete and totalizing definitions of religion began to be replaced by more fluid, contingent working definitions. Clifford Geertz, for example, understand religion to be a system of symbols that are uniquely realistic to practitioners in various ways. Melford Spiro, on the other hand, as an answer to Durkheim specifically, convincingly reduced religion to those acts and experiences that involve dealings with the superhuman. Both of these have been under fire for some years, though both maintain their utility
4. Finally, and most anthropologically, I believe, contemporary anthropology of religion emphasizes place. Place is what, in fact, sets anthropology of religion apart from "religious studies" and is also, perhaps, the greatest contribution of the anthropology of religion to contemporary religious studies. Anthropologists of religion in anthropology and in religious studies have consistently articulated a deep knowledge of place as an antidote to the sometimes facile, superficial approach of "comparative religion."
A Highly Selective Bibliography
Introductory Texts and Readers
Klass, Morton.
1995 Ordered Universes: Approaches to the Anthropology of Religion. Boulder, COWestview Press.
Lehmann, Arthur C. and James M. Meyers, eds.
1985 Magic, Witchcraft, and Religion: An Anthropological Study of the Supernatural. Palo Alto: Mayfield.
Lessa, William A., and Evon Z. Vogt, eds.
1979 Reader in Comparative Religion: An Anthropological Approach. 4th ed. New York: Harper and Row.
Case Studies
Brown, Karen McCarthy
1991 Mama Lola. Berkeley: University of California Press.
Evans-Pritchard, E. E.
1940. The Nuer. Clarendon: Oxford University Press.
Geertz, Clifford.
1976 The Religion of Java. Chicago : University of Chicago Press.
Grim, John
1983 The Shaman: Patterns of Siberian and Ojibway Healing. Norman: University of Oklahoma Press.
Hultkrantz, Ake
1967 Spirit Lodge: A North American Shamanistic Seance. In Carl-Martin Edsman, ed. Studies in Shamanism. Stockholm: Almqvist and Wiksell.
Spiro, Melford E.
1982 Buddhism and Society. 2nd ed. Berkeley: University of California Press.
Tambiah, Stanley Jeyaraja
1970 Buddhism and the spirit cults in north-east Thailand. Cambridge: CambridgeUniversity Press.
Turner, Victor
1967 Forest of Symbols. Ithaca: Cornell University Press.
Turner, Victor and Edith Turner
1978 Image and Pilgrimage in Christian Culture: Anthropological Perspectives. New York: Columbia University Press.
Theory
Asad, Talal
1983 Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz. Man 18:237-259.
Bateson, Gregory, and Mary Catherine Bateson
1987 Angels Fear: Toward an Epistemology of the Sacred. New York: Macmillan.
Berger, Peter
1967 The Sacred Canopy. New York: Basic Books.
Bloch, Maurice and Jonathan Parry, eds.
1982 Death and the Regeneration of Life. Cambridge: Cambridge University Press.
Boon, James A.
1982 Other Tribes, Other Scribes: Symbolic Anthropology in the ComparativeStudy of Cultures, Histories, Religions, and Texts. New York: Cambridge University Press.
Boyer, Pascal
1994 The Naturalness of Religious Ideas: A Cognitive Theory of Religion. BerkeleyUniversity of California Press.
Evans-Pritchard, E. E.
1965. Theories of Primitive Religion. Oxford: Oxford University Press.
Fabian, Johannes.
1981 Six Theses Regarding the Anthropology of African Religious Movements. Religion 11: 109-126.
Geertz, Clifford.
1973 Religion as a Cultural System. In his The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Glazier, Nathan, ed.
1997 Anthropology of Religion: A Handbook. Westport, CT: Greenwood Press.
Kakar, Sudhir
1982 Shamans, Mystics, and Doctors: A Psychological Inquiry into India and Its Healing Traditions. New York, 1982.
Keys, Charles F. and E. Valentine Daniel, eds.
1983 Karma: An Anthropological Inquiry. Berkeley: University of California Press.
Spiro, Melford E.
1966 "Religion: Problems of Definition and Explanation." In Anthropological Approaches to the Study of Religion. Michael P. Baton, ed. 85-125. London: Tavistock Publications.
Taussig, Michael.
1978. Shamanism, Colonialism, and the Wild Man: A Study in Terror and HealingChicago: University of Chicago Press.
Taylor, Mark Kline.
1986 Beyond Explanation: Religious Dimensions in Cultural Anthropology. Macon, GA: Mercer University Press.
Turner, Victor
1969 The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publishing.
1973a Symbols in African Ritual. Science. 179: 1100-1105.
1973b The Center Out There: the Pilgrim's Goal. In History of Religions 12: 191-230.
Turner, Victor and Edward M. Brunner, eds.
1987 The Anthropology of Experience. Urbana: University of Illinois Press.
Web Pages
Anthropology of religion section of the American Anthropological Association:
http://www.uwgb.edu/sar/index.htm
University of Alabama Department of Anthropology:
http://www.as.ua.edu/ant/Faculty/murphy/436/anthros.htm
Minggu, 21 November 2010
Batik Designs
Batik Designs: A Cultural Development Influenced by Changes in Time & Environment
Practical Information for foreigners, expats and expatriates moving to Indonesia - find out about housing, schooling, transport, shopping and more to prepare you for your stay in Indonesia
Translate this Page
Powered by Translate
Bookmark and Share
Check out What's New on the Expat Web Site
Links to hundreds of articles giving practical information for expats moving to Indonesia
Post your questions or communicate with other expats in Indonesia on the Expat Forum
Looking for a place to stay in Indonesia - check out the Housing Forum
Looking for a weekend or holiday getaway ... visit some of Indonesia's Great Escapes
Some great restuarants in Jakarta
Advice and resources for conducting business in Indonesia
Info on expatriate community organizations in Indonesia
Shops, Products and Services
Links to other useful Indonesian or expat-related web sites
Expat Humor - spread the joys of Living in Indonesia through e-postcards
Site Map
Return to the Home Page
expatriate information for Indonesia
One of the fascinating characteristics of Indonesian batik is the changes in style, motif and color which have come about through exposure to various foreign cultures. Throughout Indonesian history, each time the rich batik tradition has come into contact with foreigner traders or colonial rulers, they have influenced the development of batik. Some of the more famous results are described below:
Batik Kraton
Batik Kraton is regarded as the basic batik of Java. It is rich in Hindu-influenced motifs that have influenced the courts of Java since the 5th century, and later on influenced by the culture of Islam. The Hindus introduced the sacred bird - Garuda, the sacred flower - lotus, the dragon - Naga and the tree of life. Islam, since it forbids the depiction of humans or animals, brought stylized and modified ornaments as symbols, i.e., flowers and geometric designs.
As a specific attire in the dress code of the courts of Java, Batik Kraton is easily recognized through its sub-divisions, Batik Kasunanan Surakarta, Batik Kasultanan Yogyakarta, Batik Pura Mangkunegaran and Batik Pura Pakualaman. Over time, changes and modifications distinguished Batik Mangkunegaran from Batik Kasunanan, even though both originated from the same source. Batik Pakualaman, from the city of Yogyakarta, originated from both Kasunan and Kasultanan design traditions and is more unique because the whole process was completed in Surakarta.
Batik Belanda
Even though Chinese traders arrived earlier in Java than the Europeans, their influence on batik was evident in a later period. Batik Belanda, literally Dutch Batik, appeared as early as 1840, decades before the appearance of Batik Cina, Chinese Batik. Records show that European settlers on the northern coast of Java started their batik producing activities in the mid-19th century. They pioneered a new era of international enrichment which is still visible in modern day Indonesian batik. Reaching its peak of creativity in 1890-1910, Batik Belanda is clearly recognized through various works of arts named after the great designers. Amongst the most famous of these are Batik Van Zuylen from Elize Charlotte van Zuylen, Batik Van Oosterom from Catharina Carolina van Oosterom, Batik Prankemon from Carolina Josephina von Franquemont, Batik Metz from Lies Metzlar, Batik Yans from A.J.F. Yans, and Batik Coenrad from Coenrad of Pacitan, East Java.
Batik Cina
Highly influenced by the Chinese culture, emerging decades after Batik Belanda, Batik Cina is easily recognized by the vast range of uniquely Chinese motifs including, dragons, phoenix, snakes, lions, traditional Chinese flowers and designs taken from chinaware. It is also easily recognized through its bright as well as pastel colors. In its effort to penetrate the Surakarta and Yogyakarta markets, Batik Cina appeared in two derivatives, Batik Dua Negri and Batik Tiga Negri, processed in the north coastal Pesisiran, Surakarta and Yogyakarta in Central Java. Batik Cina is still in production in the coastal cities of Pekalongan (Oey Soe Tjoen in Kedungwuni), Cirebon, Kudus and Demak. Batik Hokokai
Especially designed for the Japanese during the period that the Japanese occupied Indonesia (1942-1945) the specific designs of Batik Hokokai, which appealed to Japanese tastes, attracted Chinese consumers in Java and Malaya as well. Highly influenced by Japanese design in motifs and coloring, fine intricate backgrounds enhanced the appearance of beautifully designed flowers. Batik Hokokai was mostly styled as Kain Pagi Sore batik with the colors and patterns different on each half of the fabric length. Favorite motifs included Parang and Lereng.
Batik Indonesia
Freedom from Dutch colonial rule introduced new designs to Indonesian batik. In the early 50s, President Soekarno encouraged the creation of a new style of batik, popularly called Batik Indonesia. A symbiosis between various styles of batik, especially of the principalities of Yogyakarta and Surakarta and the north coast of Java, which still utilized soga brown as the basic color, Batik Indonesia was developed utilizing bright colors. Some appeared in a totally new design, i.e., Cendrawasih, Sruni, Sandang Pangan, Udang, while still using the traditional processing system. Batik Indonesia is also called Batik Modern.
Batik Sudagaran
An important genre in the development of batik, Batik Sudagaran emerged as early as the end of the 19th century in the principalities of Surakarta and Yogyakarta. Produced by sudagar or batik merchants, it is easily recognized through the modified classic ornaments styled to the taste of the merchants. Some of the popular creations are the patchwork style Tambal, Parang with the insertion of snail-like motifs, Lereng filled with extra fine spirals called Ukel and Semen that shows high quality workmanship.
Batik Pesisir
The distinctive designs of batik pesisir are those from the northern coastal cities of Java, including Pekalongan and Cirebon. The designs show Chinese influence through their use of brighter colors, flowers and cloud motifs.
This article was developed from information provided by Batik Danar Hadi.
Return to the Batik in Indonesia article
Housing and schooling information for expats in Indonesia expatriate website for Indonesia Indonesian language translation of article
Practical Information for foreigners, expats and expatriates moving to Indonesia - find out about housing, schooling, transport, shopping and more to prepare you for your stay in Indonesia
Practical Information | Expat Forum | Site Map | Search | Home Page | Contact
Return to top
Copyright © 1997-2010, Expat Web Site Association Jakarta, Indonesia http://www.expat.or.id All rights reserved. The information on Living in Indonesia, A Site for Expatriates may not be retransmitted or reproduced in any form without permission. This information has been compiled from sources which we, the Expat Web Site Association and volunteers related to this site, believe to be reliable. While reasonable care has been taken to ensure that the facts are accurate and up-to-date, opinions and commentary are fair and reasonable, we accept no responsibility for them. The information contained does not make any recommendation upon which you can rely without further personal consideration and is not an offer or a solicitation to buy any products or services from us. Opinions and statements constitute the judgment of the contributors to this web site at the time the information was written and may change without notice.
Practical Information for foreigners, expats and expatriates moving to Indonesia - find out about housing, schooling, transport, shopping and more to prepare you for your stay in Indonesia
Translate this Page
Powered by Translate
Bookmark and Share
Check out What's New on the Expat Web Site
Links to hundreds of articles giving practical information for expats moving to Indonesia
Post your questions or communicate with other expats in Indonesia on the Expat Forum
Looking for a place to stay in Indonesia - check out the Housing Forum
Looking for a weekend or holiday getaway ... visit some of Indonesia's Great Escapes
Some great restuarants in Jakarta
Advice and resources for conducting business in Indonesia
Info on expatriate community organizations in Indonesia
Shops, Products and Services
Links to other useful Indonesian or expat-related web sites
Expat Humor - spread the joys of Living in Indonesia through e-postcards
Site Map
Return to the Home Page
expatriate information for Indonesia
One of the fascinating characteristics of Indonesian batik is the changes in style, motif and color which have come about through exposure to various foreign cultures. Throughout Indonesian history, each time the rich batik tradition has come into contact with foreigner traders or colonial rulers, they have influenced the development of batik. Some of the more famous results are described below:
Batik Kraton
Batik Kraton is regarded as the basic batik of Java. It is rich in Hindu-influenced motifs that have influenced the courts of Java since the 5th century, and later on influenced by the culture of Islam. The Hindus introduced the sacred bird - Garuda, the sacred flower - lotus, the dragon - Naga and the tree of life. Islam, since it forbids the depiction of humans or animals, brought stylized and modified ornaments as symbols, i.e., flowers and geometric designs.
As a specific attire in the dress code of the courts of Java, Batik Kraton is easily recognized through its sub-divisions, Batik Kasunanan Surakarta, Batik Kasultanan Yogyakarta, Batik Pura Mangkunegaran and Batik Pura Pakualaman. Over time, changes and modifications distinguished Batik Mangkunegaran from Batik Kasunanan, even though both originated from the same source. Batik Pakualaman, from the city of Yogyakarta, originated from both Kasunan and Kasultanan design traditions and is more unique because the whole process was completed in Surakarta.
Batik Belanda
Even though Chinese traders arrived earlier in Java than the Europeans, their influence on batik was evident in a later period. Batik Belanda, literally Dutch Batik, appeared as early as 1840, decades before the appearance of Batik Cina, Chinese Batik. Records show that European settlers on the northern coast of Java started their batik producing activities in the mid-19th century. They pioneered a new era of international enrichment which is still visible in modern day Indonesian batik. Reaching its peak of creativity in 1890-1910, Batik Belanda is clearly recognized through various works of arts named after the great designers. Amongst the most famous of these are Batik Van Zuylen from Elize Charlotte van Zuylen, Batik Van Oosterom from Catharina Carolina van Oosterom, Batik Prankemon from Carolina Josephina von Franquemont, Batik Metz from Lies Metzlar, Batik Yans from A.J.F. Yans, and Batik Coenrad from Coenrad of Pacitan, East Java.
Batik Cina
Highly influenced by the Chinese culture, emerging decades after Batik Belanda, Batik Cina is easily recognized by the vast range of uniquely Chinese motifs including, dragons, phoenix, snakes, lions, traditional Chinese flowers and designs taken from chinaware. It is also easily recognized through its bright as well as pastel colors. In its effort to penetrate the Surakarta and Yogyakarta markets, Batik Cina appeared in two derivatives, Batik Dua Negri and Batik Tiga Negri, processed in the north coastal Pesisiran, Surakarta and Yogyakarta in Central Java. Batik Cina is still in production in the coastal cities of Pekalongan (Oey Soe Tjoen in Kedungwuni), Cirebon, Kudus and Demak. Batik Hokokai
Especially designed for the Japanese during the period that the Japanese occupied Indonesia (1942-1945) the specific designs of Batik Hokokai, which appealed to Japanese tastes, attracted Chinese consumers in Java and Malaya as well. Highly influenced by Japanese design in motifs and coloring, fine intricate backgrounds enhanced the appearance of beautifully designed flowers. Batik Hokokai was mostly styled as Kain Pagi Sore batik with the colors and patterns different on each half of the fabric length. Favorite motifs included Parang and Lereng.
Batik Indonesia
Freedom from Dutch colonial rule introduced new designs to Indonesian batik. In the early 50s, President Soekarno encouraged the creation of a new style of batik, popularly called Batik Indonesia. A symbiosis between various styles of batik, especially of the principalities of Yogyakarta and Surakarta and the north coast of Java, which still utilized soga brown as the basic color, Batik Indonesia was developed utilizing bright colors. Some appeared in a totally new design, i.e., Cendrawasih, Sruni, Sandang Pangan, Udang, while still using the traditional processing system. Batik Indonesia is also called Batik Modern.
Batik Sudagaran
An important genre in the development of batik, Batik Sudagaran emerged as early as the end of the 19th century in the principalities of Surakarta and Yogyakarta. Produced by sudagar or batik merchants, it is easily recognized through the modified classic ornaments styled to the taste of the merchants. Some of the popular creations are the patchwork style Tambal, Parang with the insertion of snail-like motifs, Lereng filled with extra fine spirals called Ukel and Semen that shows high quality workmanship.
Batik Pesisir
The distinctive designs of batik pesisir are those from the northern coastal cities of Java, including Pekalongan and Cirebon. The designs show Chinese influence through their use of brighter colors, flowers and cloud motifs.
This article was developed from information provided by Batik Danar Hadi.
Return to the Batik in Indonesia article
Housing and schooling information for expats in Indonesia expatriate website for Indonesia Indonesian language translation of article
Practical Information for foreigners, expats and expatriates moving to Indonesia - find out about housing, schooling, transport, shopping and more to prepare you for your stay in Indonesia
Practical Information | Expat Forum | Site Map | Search | Home Page | Contact
Return to top
Copyright © 1997-2010, Expat Web Site Association Jakarta, Indonesia http://www.expat.or.id All rights reserved. The information on Living in Indonesia, A Site for Expatriates may not be retransmitted or reproduced in any form without permission. This information has been compiled from sources which we, the Expat Web Site Association and volunteers related to this site, believe to be reliable. While reasonable care has been taken to ensure that the facts are accurate and up-to-date, opinions and commentary are fair and reasonable, we accept no responsibility for them. The information contained does not make any recommendation upon which you can rely without further personal consideration and is not an offer or a solicitation to buy any products or services from us. Opinions and statements constitute the judgment of the contributors to this web site at the time the information was written and may change without notice.
Senin, 07 Juni 2010
festival musik terbesar di Tanah Air
Geliat Artis-artis Soundrenaline 2005 (1)
Pentas Terbesar yang Pernah Dilakoni
KEMEGAHAN festival musik terbesar di Tanah Air, Soundrenaline 2005 Reborn Republic yang digelar di Grand Marina Semarang, Minggu (14/8), bukan hanya dirasakan music maniacs Semarang dan para musikus nasional yang tampil. Dua band internasional yaitu Crowned King (Kanada) dan The International Noise Conspiracy (Swedia), juga mengakui hal tersebut.
"Pentas ini merupakan konser terbesar yang pernah kami jalani. Antusias penonton di sini (Semarang-Red) juga luar biasa," ujar Shaun Frank, voka-lis Crowned King, usai tampil.
Mengenai penampilan band-band nasional, dia mengakui Utopia sebagai salah satu band yang tampil bagus.
"Kami juga senang dapat berjumpa dengan Slank untuk kali pertama," tambah dia.
Dengan mengusung aliran musik garage, band yang diawaki oleh Shaun Frank (vokal), Ryan Darnell (gitar), Adam Brown (bas), Chris Lambert (drum), dan Jonny Biggs (trombone) itu tampil cukup garang untuk menggoyang penonton.
Enam lagu mereka suguhkan adalah "Dead to the World", "Don't Wanna Go", "Turn It Up", "All That She Wanted", "Impatience", dan "One in the a Million".
Grup musik ini memang khusus didatangkan ke Indonesia untuk menghibur music maniacs di festival musik A Mild Live Soundrenaline 2005, di tiga kota yaitu Semarang (14 Agustus), Surabaya (21 Agustus) dan Denpasar, Bali (28 Agustus). Selain itu, grup ini juga akan menggelar serangkaian tur di kota lain seperti Cirebon, Samarinda, Balikpapan, dan Manado.
Tema Sosial
Pengakuan kebesaran Soundrenaline 2005 juga diakui oleh The International Noise Conspiracy yang digawangi oleh Lars Stromberg (gitar/vokal) dan Dennis Lyxzen (vokal).
"Jumlah penontonnya luar biasa dan arena festivalnya juga sangat luas. Indonesia merupakan negara kedua di Asia yang kami kunjungi setelah China," ujar Lars.
Mengusung aliran musik Swedia yang merupakan kombinasi dari musik-musik MC5, The4 Kinks, The Smiths, James Brown, Primal Scream, dan modern R&B, band ini membawakan tujuh lagu yang kental dengan tema-tema sosial, termasuk perlindungan binatang.
Tujuh lagu tersebut adalah "Black Mask", "Let's Make History", "Smash It Up", "Like a Landslide", "A Body Treatise", "Capitalism Stole My Virginity", dan "The Way I Feel about You".
"Lagu-lagu itu bertutur tentang penentangan kami akan kebijakan Presiden AS George Bush dan PM Israel Ariel Sharon serta perusahaan-perusahaan besar karena tidak memperdulikan ma-salah lingkungan," ujarnya.
Sedangkan kepedulian terhadap binatang, mereka wujudkan dengan tidak makan daging (vegetarian). "Kami memilih jalur musik sebagai alat menyampaikan aspirasi kami," tegasnya.
Grup musik ini juga akan tampil di dua kota festival musik A Mild Live Soundrenaline 2005 lainnya yaitu Surabaya (21 Agustus) dan Denpasar (28 Agustus). (Hernandhono, Saptono JS-45)
Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA
Pentas Terbesar yang Pernah Dilakoni
KEMEGAHAN festival musik terbesar di Tanah Air, Soundrenaline 2005 Reborn Republic yang digelar di Grand Marina Semarang, Minggu (14/8), bukan hanya dirasakan music maniacs Semarang dan para musikus nasional yang tampil. Dua band internasional yaitu Crowned King (Kanada) dan The International Noise Conspiracy (Swedia), juga mengakui hal tersebut.
"Pentas ini merupakan konser terbesar yang pernah kami jalani. Antusias penonton di sini (Semarang-Red) juga luar biasa," ujar Shaun Frank, voka-lis Crowned King, usai tampil.
Mengenai penampilan band-band nasional, dia mengakui Utopia sebagai salah satu band yang tampil bagus.
"Kami juga senang dapat berjumpa dengan Slank untuk kali pertama," tambah dia.
Dengan mengusung aliran musik garage, band yang diawaki oleh Shaun Frank (vokal), Ryan Darnell (gitar), Adam Brown (bas), Chris Lambert (drum), dan Jonny Biggs (trombone) itu tampil cukup garang untuk menggoyang penonton.
Enam lagu mereka suguhkan adalah "Dead to the World", "Don't Wanna Go", "Turn It Up", "All That She Wanted", "Impatience", dan "One in the a Million".
Grup musik ini memang khusus didatangkan ke Indonesia untuk menghibur music maniacs di festival musik A Mild Live Soundrenaline 2005, di tiga kota yaitu Semarang (14 Agustus), Surabaya (21 Agustus) dan Denpasar, Bali (28 Agustus). Selain itu, grup ini juga akan menggelar serangkaian tur di kota lain seperti Cirebon, Samarinda, Balikpapan, dan Manado.
Tema Sosial
Pengakuan kebesaran Soundrenaline 2005 juga diakui oleh The International Noise Conspiracy yang digawangi oleh Lars Stromberg (gitar/vokal) dan Dennis Lyxzen (vokal).
"Jumlah penontonnya luar biasa dan arena festivalnya juga sangat luas. Indonesia merupakan negara kedua di Asia yang kami kunjungi setelah China," ujar Lars.
Mengusung aliran musik Swedia yang merupakan kombinasi dari musik-musik MC5, The4 Kinks, The Smiths, James Brown, Primal Scream, dan modern R&B, band ini membawakan tujuh lagu yang kental dengan tema-tema sosial, termasuk perlindungan binatang.
Tujuh lagu tersebut adalah "Black Mask", "Let's Make History", "Smash It Up", "Like a Landslide", "A Body Treatise", "Capitalism Stole My Virginity", dan "The Way I Feel about You".
"Lagu-lagu itu bertutur tentang penentangan kami akan kebijakan Presiden AS George Bush dan PM Israel Ariel Sharon serta perusahaan-perusahaan besar karena tidak memperdulikan ma-salah lingkungan," ujarnya.
Sedangkan kepedulian terhadap binatang, mereka wujudkan dengan tidak makan daging (vegetarian). "Kami memilih jalur musik sebagai alat menyampaikan aspirasi kami," tegasnya.
Grup musik ini juga akan tampil di dua kota festival musik A Mild Live Soundrenaline 2005 lainnya yaitu Surabaya (21 Agustus) dan Denpasar (28 Agustus). (Hernandhono, Saptono JS-45)
Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA
Minggu, 25 April 2010
Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
KEANEKA RAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DI INDONESIA 5.1 SITI S
Dari Crayonpedia
(Dialihkan dari Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia 5.1 Siti S)
Langsung ke: navigasi, cari
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
* 2 A. Persebaran Suku Bangsa di Indonesia
* 3 B. Keragaman Suku Bangsa Di Indonesia
* 4 C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia
* 5 D. Sikap Menghormati Budaya Bangsa Indonesia
Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
Image:Indonesia quw.jpg
Perbedaan adalah sesuatu yang alami dan wajar. Pernahkah kalian mengamati tentang sekeliling kalian? Adakah perbedaan atau persamaan di antara kalian dan teman yang lain? Dalam satu kelas, mungkin ada anak yang berambut keriting, berkulit putih, cokelat atau hitam. Perbedaan warna kulit atau bentuk fisik jangan dijadikan sumber perpecahan. Indonesia adalah negara yang kaya akan ragam budaya dan suku bangsa. Ada suku Bali, Jawa, Banjar, Madura, Toraja, dan sebagainya. Setiap suku bangsa memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Semua itu merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Kita akan mempelajari bagaimana keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. Kita dapat mengetahui suku bangsa apa saja yang hidup di Indonesia. Kekayaan suku bangsa dan budaya di Indonesia sangat beragam. Marilah kita mengenal satu persatu kekayaan budaya bangsa, agar kita dapat lebih mencintai bangsa Indonesia.
A. Persebaran Suku Bangsa di Indonesia
Tahukah kalian dari mana asal nenek moyang kita? Mari kita simak berikut ini. Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, yang salah satunya adalah bangsa Melayu. Berdasarkan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bangsa Melayu dibedakan menjadi dua, yaitu Melayu Tua dan Melayu Muda. Melayu Tua di antaranya, suku Batak (sekitar Danau Toba), suku Dayak (di pedalaman Kalimantan), dan suku Toraja (Sulawesi Tengah). Melayu Muda di antaranya, Minangkabau (Sumatra Barat), Jawa, Sunda, Bali, Makassar, Buton (Sulawesi Selatan), dan suku Bugis. Selain suku-suku tersebut, ada juga suku bangsa keturunan, seperti Arab, Tionghoa, India, dan Eropa. Di Indonesia, terdapat beraneka ragam suku bangsa yang tersebar ke seluruh penjuru tanah air.
Di antara suku-suku tersebut, ada yang masih hidup secara bersahaja dan ada yang sudah mengalami kemajuan dengan peradaban yang maju. Tetapi ada juga yang masih primitif dan hidup secara berkelompok di pedalaman. Mereka cenderung tertutup dan masih sulit menerima budaya dari luar. Hal tersebut terjadi karena tempat tinggal mereka jauh di perkampungan yang terpencil sehingga sulit terjangkau kemajuan teknologi. Berbeda dengan suku-suku bangsa yang kehidupannya sudah maju, mereka cenderung lebih terbuka dengan kemajuan teknologi, dan lebih mudah menerima budaya dari luar suku mereka.
B. Keragaman Suku Bangsa Di Indonesia
Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Tentunya banyak sekali perbedaan yang ada. Ada yang berbeda warna kulit, bentuk fisik, dan budayanya. Perbedaan jangan dipermasalahkan. Justru dengan adanya perbedaan tersebut, kita jadikan suatu kekayaan sehingga tercipta suasana yang aman, tenteram, dan harmonis. Sikap menghormati adalah sikap menghargai dan mengakui keberadaan harkat dan martabat manusia meski berbeda-beda suku bangsa. “Bhinneka Tunggal Ika” yang terdapat pada pita Burung Garuda Pancasila lambang Negara Indonesia mengandung arti “Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.” Ada juga semboyan yang menyatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Makna dari semboyan tersebut adalah supaya kita bersatu padu menghalau semua ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita. Dalam sejarah, bangsa kita telah berhasil mengusir penjajah dari bumi Nusantara karena adanya persatuan dan kesatuan para pemuda dari seluruh Nusantara.
Image:pakaian adat indonesia.jpg
Contoh sikap menghormati, di antaranya tidak merendahkan suku bangsa lain, menghargai suku bangsa lain, dan mengakui keberadaan suku bangsa lain, serta tidak mengusik perbedaan antarsuku bangsa. Manfaat sikap menghormati antarsuku bangsa adalah sebagai berikut. 1. Tercipta kehidupan yang rukun dan damai. 2. Merasa aman tinggal di negara Indonesia. 3. Rasa persatuan dan kesatuan meningkat. 4. Tidak mudah terpecah belah oleh pihak lain. Akibat tidak menghormati antarsuku bangsa adalah sebagai berikut. 1. Tidak ada keamanan dan kedamaian. 2. Timbul perpecahan dan permusuhan. 3. Tidak ada persatuan dan kesatuan. 4. Mudah terpecah belah. Dengan kita saling menghormati suku bangsa lain, maka kita dapat hidup damai, tenteram secara berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan dari mana kita berasal.
C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia
Kalian sudah mengetahui ada bermacam-macam suku bangsa yang ada di negara kita, bukan? Keanekaragaman suku bangsa tentu juga menjadikan beranekaragamnya budaya yang ada. Setiap suku bangsa memiliki budaya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Keragaman suku bangsa yang kita miliki merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya dan dapat memperkokoh persatuan bangsa. Hal ini merupakan kekuatan untuk membangun bangsa menjadi bangsa yang besar. Kita tidak boleh membeda-bedakan suku bangsa yang dapat mengakibatkan perselisihan dan kekacauan bangsa kita.
Image:keanekaragaman budaya indonesia.jpg
Bentuk keragaman budaya di Indonesia, di antaranya sebagai berikut. 1. Bahasa Daerah Setiap suku bangsa, memiliki bahasa sendiri. Contoh: bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa Sunda, bahasa Minangkabau, bahasa Bali, dan bahasa Banjar. 2. Adat Istiadat Adat istiadat meliputi tata cara dalam upacara perkawinan, upacara keagamaan, kematian, kebiasaan, dan pakaian adat. 3. Kesenian Daerah Kesenian daerah, meliputi seni tari, rumah adat, lagu daerah, seni musik dan alat musik daerah, cerita rakyat, serta seni pertunjukan daerah.
Image:tari serindi.jpg
4. Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan meliputi sebagai berikut. a. Sistem keturunan menurut garis ayah (patrilineal), di antaranya Batak, Bali, dan Papua. b. Sistem keturunan menurut garis ibu (matrilineal), di antaranya suku Minangkabau. c. Sistem keturunan menurut garis ayah dan ibu (bilateral). Berikut ini adalah tabel kekayaan budaya bangsa kita di beberapa provinsi yang ada di Indonesia.
Image:tabel kekayaan indonesia.jpg
D. Sikap Menghormati Budaya Bangsa Indonesia
Keanekaragaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Sebagai contoh, salah satu suku di Indonesia, yaitu suku Jawa mempunyai nilai budaya, seperti adat istiadat, bahasa Jawa, tarian daerah, nyanyian daerah, rumah adat, dan pakaian adat. Demikian pula dengan daerah lain dan suku-suku bangsa yang lainnya. Keanekaragaman kebudayaan daerah yang satu dengan yang lain menjadikan Indonesia penuh warna dan keindahan yang dapat dinikmati. Dengan keindahan tersebut, banyak wisatawan dari mancanegara yang datang untuk menikmatinya. Keanekaragaman budaya daerah akan memperkaya kebudayaan nasional. Hal inilah yang harus dibanggakan. Untuk menunjukkan rasa bangga tersebut kita harus melestarikannya.
Image:tari daerah.jpg
Sikap menghormati budaya bangsa dapat dilakukan dengan cara-cara berikut. 1. Bangga dengan kebudayaan daerah ataupun kebudayaan nasional. 2. Melestarikan nilai-nilai budaya yang telah ada. 3. Menghormati kebudayaan daerah bangsa Indonesia. 4. Tidak menjelek-jelekkan kebudayaan suku bangsa lain. 5. Lebih senang dengan kebudayaan nasional daripada budaya luar negeri.
Beri Penilaian
* Currently 3.33/5
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
Rating : 3.3/5 (6 votes cast)
Diperoleh dari "http://www.crayonpedia.org/mw/KEANEKA_RAGAMAN_SUKU_BANGSA_DAN_BUDAYA_DI_INDONESIA_5.1_SITI_S"
Kategori: IPS 5.1
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
* Print sebagai PDF
* chat
Peralatan pribadi
* Masuk log / buat akun
Navigasi
* Halaman Utama
* Portal komunitas
* Peristiwa terkini
* Perubahan terbaru
* Halaman sembarang
* Bantuan
* Org. Pendukung
* Donasi
Pencarian
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Pemuatan
* Halaman istimewa
* Versi cetak
* Pranala permanen
* Print sebagai PDF
Share This!
* Add to BlogMarksBlogMarks
* Add to del.icio.usdel.icio.us
* Add to diggdigg
* Add to FacebookFacebook
* Add to smarkingsmarking
* Add to SpurlSpurl
* Add to TwitterTwitter
* Add to WistsWists
Powered by MediaWiki
* Halaman ini terakhir diubah pada 14:39, 26 Agustus 2009.
* Halaman ini telah diakses sebanyak 369 kali.
* Kebijakan privasi
* Perihal Crayonpedia
* Penyangkalan
Dari Crayonpedia
(Dialihkan dari Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia 5.1 Siti S)
Langsung ke: navigasi, cari
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
* 2 A. Persebaran Suku Bangsa di Indonesia
* 3 B. Keragaman Suku Bangsa Di Indonesia
* 4 C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia
* 5 D. Sikap Menghormati Budaya Bangsa Indonesia
Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia
Image:Indonesia quw.jpg
Perbedaan adalah sesuatu yang alami dan wajar. Pernahkah kalian mengamati tentang sekeliling kalian? Adakah perbedaan atau persamaan di antara kalian dan teman yang lain? Dalam satu kelas, mungkin ada anak yang berambut keriting, berkulit putih, cokelat atau hitam. Perbedaan warna kulit atau bentuk fisik jangan dijadikan sumber perpecahan. Indonesia adalah negara yang kaya akan ragam budaya dan suku bangsa. Ada suku Bali, Jawa, Banjar, Madura, Toraja, dan sebagainya. Setiap suku bangsa memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Semua itu merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Kita akan mempelajari bagaimana keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. Kita dapat mengetahui suku bangsa apa saja yang hidup di Indonesia. Kekayaan suku bangsa dan budaya di Indonesia sangat beragam. Marilah kita mengenal satu persatu kekayaan budaya bangsa, agar kita dapat lebih mencintai bangsa Indonesia.
A. Persebaran Suku Bangsa di Indonesia
Tahukah kalian dari mana asal nenek moyang kita? Mari kita simak berikut ini. Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, yang salah satunya adalah bangsa Melayu. Berdasarkan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bangsa Melayu dibedakan menjadi dua, yaitu Melayu Tua dan Melayu Muda. Melayu Tua di antaranya, suku Batak (sekitar Danau Toba), suku Dayak (di pedalaman Kalimantan), dan suku Toraja (Sulawesi Tengah). Melayu Muda di antaranya, Minangkabau (Sumatra Barat), Jawa, Sunda, Bali, Makassar, Buton (Sulawesi Selatan), dan suku Bugis. Selain suku-suku tersebut, ada juga suku bangsa keturunan, seperti Arab, Tionghoa, India, dan Eropa. Di Indonesia, terdapat beraneka ragam suku bangsa yang tersebar ke seluruh penjuru tanah air.
Di antara suku-suku tersebut, ada yang masih hidup secara bersahaja dan ada yang sudah mengalami kemajuan dengan peradaban yang maju. Tetapi ada juga yang masih primitif dan hidup secara berkelompok di pedalaman. Mereka cenderung tertutup dan masih sulit menerima budaya dari luar. Hal tersebut terjadi karena tempat tinggal mereka jauh di perkampungan yang terpencil sehingga sulit terjangkau kemajuan teknologi. Berbeda dengan suku-suku bangsa yang kehidupannya sudah maju, mereka cenderung lebih terbuka dengan kemajuan teknologi, dan lebih mudah menerima budaya dari luar suku mereka.
B. Keragaman Suku Bangsa Di Indonesia
Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Tentunya banyak sekali perbedaan yang ada. Ada yang berbeda warna kulit, bentuk fisik, dan budayanya. Perbedaan jangan dipermasalahkan. Justru dengan adanya perbedaan tersebut, kita jadikan suatu kekayaan sehingga tercipta suasana yang aman, tenteram, dan harmonis. Sikap menghormati adalah sikap menghargai dan mengakui keberadaan harkat dan martabat manusia meski berbeda-beda suku bangsa. “Bhinneka Tunggal Ika” yang terdapat pada pita Burung Garuda Pancasila lambang Negara Indonesia mengandung arti “Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.” Ada juga semboyan yang menyatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Makna dari semboyan tersebut adalah supaya kita bersatu padu menghalau semua ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita. Dalam sejarah, bangsa kita telah berhasil mengusir penjajah dari bumi Nusantara karena adanya persatuan dan kesatuan para pemuda dari seluruh Nusantara.
Image:pakaian adat indonesia.jpg
Contoh sikap menghormati, di antaranya tidak merendahkan suku bangsa lain, menghargai suku bangsa lain, dan mengakui keberadaan suku bangsa lain, serta tidak mengusik perbedaan antarsuku bangsa. Manfaat sikap menghormati antarsuku bangsa adalah sebagai berikut. 1. Tercipta kehidupan yang rukun dan damai. 2. Merasa aman tinggal di negara Indonesia. 3. Rasa persatuan dan kesatuan meningkat. 4. Tidak mudah terpecah belah oleh pihak lain. Akibat tidak menghormati antarsuku bangsa adalah sebagai berikut. 1. Tidak ada keamanan dan kedamaian. 2. Timbul perpecahan dan permusuhan. 3. Tidak ada persatuan dan kesatuan. 4. Mudah terpecah belah. Dengan kita saling menghormati suku bangsa lain, maka kita dapat hidup damai, tenteram secara berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan dari mana kita berasal.
C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia
Kalian sudah mengetahui ada bermacam-macam suku bangsa yang ada di negara kita, bukan? Keanekaragaman suku bangsa tentu juga menjadikan beranekaragamnya budaya yang ada. Setiap suku bangsa memiliki budaya yang berbeda satu dengan yang lainnya. Keragaman suku bangsa yang kita miliki merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya dan dapat memperkokoh persatuan bangsa. Hal ini merupakan kekuatan untuk membangun bangsa menjadi bangsa yang besar. Kita tidak boleh membeda-bedakan suku bangsa yang dapat mengakibatkan perselisihan dan kekacauan bangsa kita.
Image:keanekaragaman budaya indonesia.jpg
Bentuk keragaman budaya di Indonesia, di antaranya sebagai berikut. 1. Bahasa Daerah Setiap suku bangsa, memiliki bahasa sendiri. Contoh: bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa Sunda, bahasa Minangkabau, bahasa Bali, dan bahasa Banjar. 2. Adat Istiadat Adat istiadat meliputi tata cara dalam upacara perkawinan, upacara keagamaan, kematian, kebiasaan, dan pakaian adat. 3. Kesenian Daerah Kesenian daerah, meliputi seni tari, rumah adat, lagu daerah, seni musik dan alat musik daerah, cerita rakyat, serta seni pertunjukan daerah.
Image:tari serindi.jpg
4. Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan meliputi sebagai berikut. a. Sistem keturunan menurut garis ayah (patrilineal), di antaranya Batak, Bali, dan Papua. b. Sistem keturunan menurut garis ibu (matrilineal), di antaranya suku Minangkabau. c. Sistem keturunan menurut garis ayah dan ibu (bilateral). Berikut ini adalah tabel kekayaan budaya bangsa kita di beberapa provinsi yang ada di Indonesia.
Image:tabel kekayaan indonesia.jpg
D. Sikap Menghormati Budaya Bangsa Indonesia
Keanekaragaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Sebagai contoh, salah satu suku di Indonesia, yaitu suku Jawa mempunyai nilai budaya, seperti adat istiadat, bahasa Jawa, tarian daerah, nyanyian daerah, rumah adat, dan pakaian adat. Demikian pula dengan daerah lain dan suku-suku bangsa yang lainnya. Keanekaragaman kebudayaan daerah yang satu dengan yang lain menjadikan Indonesia penuh warna dan keindahan yang dapat dinikmati. Dengan keindahan tersebut, banyak wisatawan dari mancanegara yang datang untuk menikmatinya. Keanekaragaman budaya daerah akan memperkaya kebudayaan nasional. Hal inilah yang harus dibanggakan. Untuk menunjukkan rasa bangga tersebut kita harus melestarikannya.
Image:tari daerah.jpg
Sikap menghormati budaya bangsa dapat dilakukan dengan cara-cara berikut. 1. Bangga dengan kebudayaan daerah ataupun kebudayaan nasional. 2. Melestarikan nilai-nilai budaya yang telah ada. 3. Menghormati kebudayaan daerah bangsa Indonesia. 4. Tidak menjelek-jelekkan kebudayaan suku bangsa lain. 5. Lebih senang dengan kebudayaan nasional daripada budaya luar negeri.
Beri Penilaian
* Currently 3.33/5
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
Rating : 3.3/5 (6 votes cast)
Diperoleh dari "http://www.crayonpedia.org/mw/KEANEKA_RAGAMAN_SUKU_BANGSA_DAN_BUDAYA_DI_INDONESIA_5.1_SITI_S"
Kategori: IPS 5.1
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
* Print sebagai PDF
* chat
Peralatan pribadi
* Masuk log / buat akun
Navigasi
* Halaman Utama
* Portal komunitas
* Peristiwa terkini
* Perubahan terbaru
* Halaman sembarang
* Bantuan
* Org. Pendukung
* Donasi
Pencarian
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Pemuatan
* Halaman istimewa
* Versi cetak
* Pranala permanen
* Print sebagai PDF
Share This!
* Add to BlogMarksBlogMarks
* Add to del.icio.usdel.icio.us
* Add to diggdigg
* Add to FacebookFacebook
* Add to smarkingsmarking
* Add to SpurlSpurl
* Add to TwitterTwitter
* Add to WistsWists
Powered by MediaWiki
* Halaman ini terakhir diubah pada 14:39, 26 Agustus 2009.
* Halaman ini telah diakses sebanyak 369 kali.
* Kebijakan privasi
* Perihal Crayonpedia
* Penyangkalan
Minggu, 18 April 2010
komunitas Online Ponorogo
Choose Language
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Choose Language
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Copyrights © 2010 by ponorogo-tourism.com
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Choose Language
* EnglishEnglish
* IndonesiaIndonesia
Main Menu
Home
Tour Guide
Profile
Gallery
News
Things to do and see
Art & Culture Nature Religi Shoping
Download
Contact Us
Calender of Event 2009
Polling
Menurut Anda obyek wisata manakah yang menjadi andalan pariwisata Ponorogo?
Telaga Ngebel
Air Terjun Plethuk
Air Terjun Tirtomoyo
Taman Wisata Ngembag
Kucur
Support to
jadwal acara grebeg suro Portal Informasi Pemerintah Ponorogo POnorogo kota Reyog Forum komunitas Online Ponorogo Blog Paguyuban Warga Ponorogo Informasi Pariwisata Indonesia Budaya dan Pariwisata Indonesia Visit Indonesia 2010
Digital Counter
Senam Tari Reyog Kolosal Tercatat di Muri
Peserta Tari sejumlah 19.000 peserta
Ponorogo (05/12) - Suasana panas matahari cukup membakar kulit pagi ini. Ribuan siswa Taman Kanak-kanak dan wali murid telah memenuhi lokasi Alon-alon Ponorogo. Mereka akan mengikuti Acara Senam Tari Reyog Kolosal (anak, Guru TK, RA, BA, TA) serta senam Tera Indonesia.
Copyrights © 2010 by ponorogo-tourism.com
Kamis, 08 April 2010
Pawai Budaya
Pawai Budaya: Keanekaragaman Budaya, Pilar Kekuatan Bangsa
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Selasa, 18 Agustus 2009 | 21:13 WIB
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
Salah satu peserta pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI, Selasa (18/8).
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
PAWAI Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke -64, Selasa (18/8) di Jakarta, memukau ribuan penonton yang memadati pinggir jalan, mulai dari depan Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jalan Merdeka Barat, hingga ke Taman Silang Monas. Peserta pawai dari Provinsi Bali, Sulawesi Barat, dan Jawa Timur dinyatakan sebagai tim terbaik, pemenang tanpa peringkat.
"Dengan menyaksikan Pawai Budaya Nusantara itu, saya menjadi tahu kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yang sebagian besar belum pernah saya kunjungi daerahnya. Hal ini membuat saya makin cinta budaya Indonesia," kata Sintya, wisatawan dari Medan, Sumatera Utara.
Tidak hanya warga DKI Jakarta dan wisatawan nusantara yang tertarik dan terpukau dengan penampilan ragam budaya dari berbagai daerah, tetapi juga turis mancanegara. "Dengan saksikan pawai budaya, saya menjadi tahu keunikan budaya Indonesia, yang tidak ditemui di negara lain di dunia," kata Stevan Edward, wisatawan dari Amerika Serikat.
Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Tjetjep Suparman mengatakan, segala potensi, kekayaan, dan keanekaragaman budaya Indonesia merupakan salah satu pilar kekuatan bangsa. "Dengan potensi budaya yang sangat beraneka ragam itulah peluang Indonesia untuk mengembangkan kekuatan ekonomi baru melalui industri kreatif yang berbasis pada budaya akan berjalan dengan baik," katanya.
Menurut Tjetjep Suparman yang juga Ketua III Bidang Seni dan Budaya Panitia Nasional Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-64, Pawai Budaya Nusantara melibatkan seluruh provinsi, dengan tiga tema, yakni kebebasan, kreativitas, dan kemandirian. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebinekaan menjadi kekuatan yang harmonis serta memberikan rasa damai, tentram, dan nyaman bagi seluruh masyarakat, sekaligus sebagai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Bangsa ini memerlukan banyak kekuatan untuk mempertahankan keberadaan dan masa depan yang penuh tantangan dan hambatan yang memerlukan kearifan untuk menanggulanginya. Potensi dan ragam budaya yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia memerlukan kekayaan sekaligus kekuatan yang tidak ternilai. Melalui pemahaman dan penanaman nilai-nilai budaya, sesama warga masyarakat saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain, yang berujung pada terpeliharanya integritas nasional.
"Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan bidang seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan dan ragam potensi budaya yang tersebar luas di seluruh Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling mengenal, memahami, dan menghargai nilai-nilai budaya serta kearifan lokalnya masing-masing sehingga keberadaan dan peran kebudayaan semakin penting dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," paparnya.
Pawai mengambil tema "Indonesia Kreatif Menunju Bangsa Mandiri". Tema tersebut menggambarkan bahwa kemerdekaan yang telah diraih memberi peluang kreativitas menuju bangsa mandiri, mampu bertahan dan merespons perkembangan peradaban, serta unggul dalam pergaulan antarbangsa. Prosesi pawai yang ditampilkan bersumber dari puncak-puncak kreativitas daerah yang merefleksikan orisinalitas, kemandirian, dan kearifan lokal.
Pada pawai yang diikuti sebanyak 3.315 wakil dari 33 provinsi itu, panitia menetapkan tiga peserta terbaik, yaitu Bali, menampilkan Parade Barong Witning Puja Menuju Indonesia Jaya. Sementara itu, Sulawesi Barat menampilkan Sibaliparrig, dan Jawa Timur menampilkan Pesona Banyuwangi.
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
Dibaca : 2403
Sent from Indosat BlackBerry powered by
Font: A A A
*
*
*
*
*
*
*
*
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
*
bagus
Selasa, 18 Agustus 2009 | 22:44 WIB
Walau saya sudah wna, tapi etap bangga jadi orang indonesia dan tetap mencintai budayanya dan kami bersama teman punya grup tari. Ayo kita galakkan lagi kesenian Indonesia, jangan sampe i curi oleh negara tetangga.
Balas tanggapan
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Kirim Batal
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Rubrik: Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Kesehatan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi
Situs: KOMPAS.comBolaEntertainmentGamesTeknoOtomotifFemalePropertiForumKompasianaImagesMobileKompas CetakePaperKompasKarierPasangIklanGramediaShop
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8
© 2008 - 2009 KOMPAS.com — All rights reserved
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Selasa, 18 Agustus 2009 | 21:13 WIB
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
KOMPAS/YURNALDI
Salah satu peserta pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI, Selasa (18/8).
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
Salah satu peserta Pawai Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-64 Kemerdekaan RI, Selasa (18/8) di Jakarta.
PAWAI Budaya Nusantara yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke -64, Selasa (18/8) di Jakarta, memukau ribuan penonton yang memadati pinggir jalan, mulai dari depan Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jalan Merdeka Barat, hingga ke Taman Silang Monas. Peserta pawai dari Provinsi Bali, Sulawesi Barat, dan Jawa Timur dinyatakan sebagai tim terbaik, pemenang tanpa peringkat.
"Dengan menyaksikan Pawai Budaya Nusantara itu, saya menjadi tahu kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yang sebagian besar belum pernah saya kunjungi daerahnya. Hal ini membuat saya makin cinta budaya Indonesia," kata Sintya, wisatawan dari Medan, Sumatera Utara.
Tidak hanya warga DKI Jakarta dan wisatawan nusantara yang tertarik dan terpukau dengan penampilan ragam budaya dari berbagai daerah, tetapi juga turis mancanegara. "Dengan saksikan pawai budaya, saya menjadi tahu keunikan budaya Indonesia, yang tidak ditemui di negara lain di dunia," kata Stevan Edward, wisatawan dari Amerika Serikat.
Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Tjetjep Suparman mengatakan, segala potensi, kekayaan, dan keanekaragaman budaya Indonesia merupakan salah satu pilar kekuatan bangsa. "Dengan potensi budaya yang sangat beraneka ragam itulah peluang Indonesia untuk mengembangkan kekuatan ekonomi baru melalui industri kreatif yang berbasis pada budaya akan berjalan dengan baik," katanya.
Menurut Tjetjep Suparman yang juga Ketua III Bidang Seni dan Budaya Panitia Nasional Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-64, Pawai Budaya Nusantara melibatkan seluruh provinsi, dengan tiga tema, yakni kebebasan, kreativitas, dan kemandirian. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas kebudayaan mampu mempertautkan simpul-simpul kebinekaan menjadi kekuatan yang harmonis serta memberikan rasa damai, tentram, dan nyaman bagi seluruh masyarakat, sekaligus sebagai media yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Bangsa ini memerlukan banyak kekuatan untuk mempertahankan keberadaan dan masa depan yang penuh tantangan dan hambatan yang memerlukan kearifan untuk menanggulanginya. Potensi dan ragam budaya yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia memerlukan kekayaan sekaligus kekuatan yang tidak ternilai. Melalui pemahaman dan penanaman nilai-nilai budaya, sesama warga masyarakat saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain, yang berujung pada terpeliharanya integritas nasional.
"Melalui penyelenggaraan rangkaian kegiatan bidang seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan dan ragam potensi budaya yang tersebar luas di seluruh Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan sikap saling mengenal, memahami, dan menghargai nilai-nilai budaya serta kearifan lokalnya masing-masing sehingga keberadaan dan peran kebudayaan semakin penting dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," paparnya.
Pawai mengambil tema "Indonesia Kreatif Menunju Bangsa Mandiri". Tema tersebut menggambarkan bahwa kemerdekaan yang telah diraih memberi peluang kreativitas menuju bangsa mandiri, mampu bertahan dan merespons perkembangan peradaban, serta unggul dalam pergaulan antarbangsa. Prosesi pawai yang ditampilkan bersumber dari puncak-puncak kreativitas daerah yang merefleksikan orisinalitas, kemandirian, dan kearifan lokal.
Pada pawai yang diikuti sebanyak 3.315 wakil dari 33 provinsi itu, panitia menetapkan tiga peserta terbaik, yaitu Bali, menampilkan Parade Barong Witning Puja Menuju Indonesia Jaya. Sementara itu, Sulawesi Barat menampilkan Sibaliparrig, dan Jawa Timur menampilkan Pesona Banyuwangi.
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
Dibaca : 2403
Sent from Indosat BlackBerry powered by
Font: A A A
*
*
*
*
*
*
*
*
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda
*
bagus
Selasa, 18 Agustus 2009 | 22:44 WIB
Walau saya sudah wna, tapi etap bangga jadi orang indonesia dan tetap mencintai budayanya dan kami bersama teman punya grup tari. Ayo kita galakkan lagi kesenian Indonesia, jangan sampe i curi oleh negara tetangga.
Balas tanggapan
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Kirim Batal
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Terpopuler
*
Kisah Roman Si Gadis Pramusaji
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Ada Alien Sembunyi di Gletser...
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Tak Gampang Jadi Fotografer Model...
» Selengkapnya
Terkomentari
*
Cemooh Bayern, Ferguson Dilepas...
*
Ibra Ungkap Alasan Pindah ke Barca
*
Inter Bikin Pep Gentar
*
Inter Takkan Bisa Hentikan Monster...
*
Ronaldo Doakan Messi Tumpul
*
Moratti: "Calciopoli" Urusan...
» Selengkapnya
Terekomendasi
* Abhisit Tolak Tututan Pembubaran Parlemen
* Putra Bin Laden Minta Iran Bebaskan Anggota...
* Hanya Dua Jam
* Prabayar Saja! Jauh Lebih Murah
* Rencana Israel Rusak Proses Perdamaian
* Perancis Konfirmasikan Pembebasan Dua Warga...
» Selengkapnya
Kabar Palmerah
* Liputan Grammy Awards 2010
* Kini Kompas ePaper Tersedia dalam Dua Platform
* KOMPAS.com Raih The Best Performance Company 2009...
* Reload Something New: KOMPAS.com Tampil Baru
* Piala Dunia 2010 di Hadapan Anda
* KompasFemale Resmi Diluncurkan
» Selengkapnya
Rubrik: Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis & Keuangan Kesehatan Olahraga Sains Travel Oase Edukasi
Situs: KOMPAS.comBolaEntertainmentGamesTeknoOtomotifFemalePropertiForumKompasianaImagesMobileKompas CetakePaperKompasKarierPasangIklanGramediaShop
About Kompas.com | Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8
© 2008 - 2009 KOMPAS.com — All rights reserved
indonsia
Indonesia
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Perlindungan dari pemindahan
Untuk kegunaan lain dari Indonesia, lihat Indonesia (disambiguasi).
"RI" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari RI, lihat RI (disambiguasi).
Republik Indonesia
Bendera Lambang
Motto: Bhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: "Berbeda-beda tetapi tetap Satu")
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaan: Indonesia Raya
Ibu kota
(dan kota terbesar) Jakarta
6°10.5′S 106°49.7′E / 6.175°LS 106.8283°BT / -6.175; 106.8283
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik presidensial
- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
- Wakil Presiden Boediono
- Ketua MPR Taufik Kiemas
- Ketua DPR Marzuki Alie
- Ketua DPD Irman Gusman
Kemerdekaan dari Belanda
- Diproklamasikan 17 Agustus 1945
- Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
- Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
- Total 1,904,569 km2 (15)
- Air (%) 4,85%
Penduduk
- Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833[1] (4)
- Sensus 2000 206.264.595
- Kepadatan 134/km2 (84)
PDB (KKB) Perkiraan 2009
- Total Rp. 8,576 triliun
(AS$ 909 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 37,538 juta
(AS$ 3,979)[2]
PDB (nominal) Perkiraan 2009
- Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 511 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 21.113 juta
(AS$ 2,238)[2]
IPM (2006) Green Arrow Up Darker.svg 0.734[3] (menengah) (111)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Domain internet .id
Kode telepon +62
lihat • bicara • sunting
Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[4] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Etimologi
Lihat pula: Sejarah nama Indonesia
Kata "Indonesia" berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau".[5] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.[6] Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu".[7] Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India.[8] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).[9]
Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.[9] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau di tahun 1913.[6]
Sejarah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Indonesia
Lihat pula: Sejarah Nusantara
Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki "Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.[10] Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan.[11] Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM,[12] menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad.[13] Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.[14]
Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.
Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan.[15] Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.[16]
Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[17] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[18] Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.
Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel
Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[19] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.
Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.
Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.
Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai 'aksi kepolisian' (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.[20] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia ("Konfrontasi"),[21] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.
Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia
Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.
Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil "Mafia Berkeley".[22] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.
Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[23] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.
Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.
Politik dan pemerintahan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Indonesia
Gedung MPR-DPR.
Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.
Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen.[24] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufik Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.
Pembagian administratif
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Provinsi Indonesia
Indonesia provinces blank map.svg
Aceh
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Kep.
Riau
Kep. Bangka
Belitung
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Banten
DKI Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur
Bali
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan
Barat
Kalimantan
Tengah
Kalimantan
Timur
Kalimantan
Selatan
Sulawesi
Utara
Maluku
Utara
Sulawesi
Tengah
Gorontalo
Sulawesi
Barat
Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Tenggara
Maluku
Papua
Barat
Papua
Indonesia saat ini terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi kabupaten dan kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan walikota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.
Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[25] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[26] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[27] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[28]
Provinsi di Indonesia dan ibukotanya
Sumatera
* Aceh - Banda Aceh
* Sumatera Utara - Medan
* Sumatera Barat - Padang
* Riau - Pekanbaru
* Kepulauan Riau - Tanjung Pinang
* Jambi - Jambi
* Sumatera Selatan - Palembang
* Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang
* Bengkulu - Bengkulu
* Lampung - Bandar Lampung
Jawa
* Daerah Khusus Ibukota Jakarta - Jakarta
* Banten - Serang
* Jawa Barat - Bandung
* Jawa Tengah - Semarang
* Daerah Istimewa Yogyakarta - Yogyakarta
* Jawa Timur - Surabaya
Kepulauan Sunda Kecil
* Bali - Denpasar
* Nusa Tenggara Barat - Mataram
* Nusa Tenggara Timur - Kupang
Kalimantan
* Kalimantan Barat - Pontianak
* Kalimantan Tengah - Palangkaraya
* Kalimantan Selatan - Banjarmasin
* Kalimantan Timur - Samarinda
Sulawesi
* Sulawesi Utara - Manado
* Gorontalo - Gorontalo
* Sulawesi Tengah - Palu
* Sulawesi Barat - Mamuju
* Sulawesi Selatan - Makassar
* Sulawesi Tenggara - Kendari
Maluku
* Maluku - Ambon
* Maluku Utara - Ternate
Papua
* Papua Barat - Manokwari
* Papua - Jayapura
Geografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Indonesia
Lihat pula: Peta Asia dan Jumlah pulau di Indonesia
Sebuah air terjun, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur
Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara[29] yang memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[30], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut,[31] searah penjuru mata angin, yaitu:
Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km[30], Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km[30], Timor Leste, dan Samudra Pasifik
Sumber daya alam
Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km[32]
Ekonomi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Indonesia
Uang rupiah
Protes melawan IMF, organisasi yang terlibat dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, di Jakarta.
Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.[33]
Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.[33] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.[33] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,[33] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997[34] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[35] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.
Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut.[36] Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam mempengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.[37][38] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.[39]
Gedung pusat Bank Indonesia.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.[40] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%.[41] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.[42]
Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.
Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.[43]
Peringkat internasional
Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157[44]
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111[45]
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168[46]
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179[47]
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177[48]
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122[49]
Demografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Indonesia
Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta,[50] dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta.[4] 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada.[51] Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.
Masjid Islamic Center Samarinda di Samarinda, Kalimantan Timur.
Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa.[52] Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.
Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.[40] Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.[53]
Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
l • b • s
Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 8.839.247 Indonesia
Indonesia 7 Semarang Jawa Tengah 1.352.869
2 Surabaya Jawa Timur 2.611.506 8 Depok Jawa Barat 1.339.263
3 Bandung Jawa Barat 2.288.570 9 Palembang Sumatra Selatan 1.323.169
4 Medan Sumatra Utara 2.029.797 10 Tangerang Selatan Banten 1.241.441
5 Bekasi Jawa Barat 1.940.308 11 Makassar Sulawesi Selatan 1.168.258
6 Tangerang Banten 1.451.595 12 Bogor Jawa Barat 891.467
Sumber: [3]
Kebudayaan dan warisan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Indonesia
Pertunjukan
Wayang kulit warisan budaya Jawa.
Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.
Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.
Busana
Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.
Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[54] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatra Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.
Arsitektur
Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.
Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.
Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.
Olahraga
Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008
Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.[55]
Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas[56], dan Chris John[57].
Seni musik
Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,[58] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Seperangkat gamelan
Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia 'dicuri' oleh negara lain[59] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:
* Angklung
* Bende
* Calung
* Dermenan
* Gamelan
* Gandang Tabuik
* Gendang Bali
* Gondang Batak
* Gong Kemada
* Gong Lambus
* Jidor
* Kecapi Suling
* Kulcapi Batak
* Kendang Jawa
* Kenong
* Kulintang
* Rebab
* Rebana
* Saluang
* Saron
* Sasando
* Serunai
* Seurune Kale
* Suling Lembang
* Sulim Batak
* Suling Sunda
* Talempong
* Tanggetong
* Tifa, dan sebagainya
Boga
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar masakan Indonesia
Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.
Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya.[60] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.[61]
Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.
Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu. Nasi rames yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran sangat minimalis dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima.
Terdapat pula aneka makanan yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau tanggungan. Pedagang keliling ini menyajikan mie ayam, mi bakso, soto, siomay, roti burger, nasi goreng, nasi uduk, dan lain-lain.
Perfilman
Poster film Tjoet Nja' Dhien, pahlawan nasional Indonesia asal Aceh
Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Di masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Diantara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949). Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya.
Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia,[62] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an. Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat.[62] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film paling laris sepanjang sejarah.
Kesusastraan
Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[63] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[64] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[65] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[66] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.
Ekologi
Kasuari, salah satu burung khas dari Pulau Papua.
Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah "Mega biodiversity" atau "keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi"[67][68] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [69]
Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara
Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[70] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.[71]
Rujukan
1. ^ Jam penduduk Indonesia
2. ^ a b c d International Monetary Fund (October 2009). World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada 30 November.
3. ^ HDR Stats
4. ^ a b Badan Pusat Statistik Indonesia (1 September 2006). Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005–2006 (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[26 September 2006]].
5. ^ Tomascik, T; Mah, J.A., Nontji, A., Moosa, M.K. (1996). The Ecology of the Indonesian Seas - Part One. Hong Kong: Periplus Editions Ltd.. ISBN 962-593-078-7.
6. ^ a b Anshory, Irfan, "Asal Usul Nama Indonesia", Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
7. ^ Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 119.
8. ^ Logan, James Richardson (1850). "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 4, 252–347.; Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 254, 277–278.
9. ^ a b Justus M. van der Kroef (1951). "The Term Indonesia: Its Origin and Usage". Journal of the American Oriental Society 71 (3): 166–171. DOI:10.2307/595186.
10. ^ Pope (1988). "Recent advances in far eastern paleoanthropology". Annual Review of Anthropology 17: 43–77. DOI:10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309–312. ; Pope, G (15 Agustus, 1983). "Evidence on the Age of the Asian Hominidae". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 80 (16): 4,988–4992. DOI:10.1073/pnas.80.16.4988. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309. ; de Vos, J.P., P.Y. Sondaar, (9 Desember 1994). "Dating hominid sites in Indonesia" (PDF). Science Magazine 266 (16): 4, 988–4992. DOI:10.1126/science.7992059. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309.
11. ^ Taylor (2003), hal. 5–7
12. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 8–9. ISBN 0-300-10518-5.
13. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 15–18. ISBN 0-300-10518-5.
14. ^ Taylor (2003), hal. 3, 9, 10–11, 13, 14–15, 18–20, 22–23; Vickers (2005), hal. 18–20, 60, 133–134
15. ^ Taylor (2003), hal. 22–26; Ricklefs (1991), hal. 3
16. ^ Peter Lewis (1982). "The next great empire". Futures 14 (1): 47–61. DOI:10.1016/0016-3287(82)90071-4.
17. ^ *Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Oktober 2000, xliv + 299 halaman
18. ^ Wright, Louis B. (7 April 1970). Gold, Glory, and the Gospel: The Adventurous Lives and Times of the Renaissance Explorers. New York: Atheneum.
19. ^ Ricklefs, M.C. (7 April 1991). A History of Modern Indonesia since c.1300. London: MacMillan. hal. 151. ISBN 0-33-579690-X.
20. ^ ZWEERS, L. (7 April 1995). Agressi II: Operatie Kraai. De vergeten beelden van de tweede politionele actie. Den Haag: SDU uitgevers.
21. ^ van der Bijl, Nick. Confrontation, The War with Indonesia 1962—1966, (London, 2007) ISBN 978-1-84415-595-8
22. ^ Wibowo, Sigit, Sjarifuddin. Ekonomi Indonesia Gagal karena Mafia Berkeley, Harian Umum Sore Sinar Harapan. Copyright © Sinar Harapan 2003. Diakses: Selasa, 6 Agustus 2008.
23. ^ Laporan dari Carter Center. The Carter Center 2004 Indonesia Election Report (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[29 Juli 2008]].
24. ^ (PDF) Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. 13 Desember 2006. http://www.gtzsfdm.or.id/documents/laws_n_regs/con_decree/3_AmdUUD45_eng.pdf.
25. ^ Michelle Ann Miller (2004). "The Nanggroe Aceh Darussalam law: a serious response to Acehnese separatism?". Asian Ethnicity 5 (3): 333–351. DOI:10.1080/1463136042000259789.
26. ^ Dewan Perwakilan Rakyat (1999). Bab XIV Other Provisions, Pasal 122; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di DaerahPDF (146 ). Presiden Indonesia (1974). Bab VII Aturan Peralihan, Pasal 91
27. ^ Dursin, Richel; Kafil Yamin, "Another Fine Mess in Papua", Editorial, The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.; "Papua Chronology Confusing Signals from Jakarta", The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
28. ^ Burr, W.; Evans, M.L. Ford and Kissinger Gave Green Light to Indonesia's Invasion of East Timor, 1975: New Documents Detail Conversations with Suharto. National Security Archive Electronic Briefing Book No. 62. National Security Archieve, Universitas George Washington, Washington, D.C.. Diakses pada 17 September 2006
29. ^ Dotinga, Harm; Netherlands Institute for the Law of the Sea (2000). International organizations and the law of the sea: documentary yearbook, Vol 14. Martinus Nijhoff Publishers. hal. 960. ISBN 9041113452, 9789041113450.
30. ^ a b c International Monetary Fund. Estimate World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].; Indonesia Regions. Indonesia Business Directory. Diakses pada 24 April 2007
31. ^ Article 55, 1982 UN Convention on the Law of The Sea.
32. ^ World Bank (1994). A World Bank country study Country Studies: Indonesia: environment and development. World Bank Publications. ISBN 0821329502, 9780821329504.
33. ^ a b c d Schwarz, A. (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Westview Press. ISBN 1-86373-635-2, halaman 52–57.
34. ^ (2006). Indonesia: Country Brief. Indonesia:Key Development Data & Statistics. Bank Dunia.
35. ^ (14 September 2006)"Poverty in Indonesia: Always with them". The Economist Diakses pada 26 Desember 2006.
36. ^ Indonesia: Forecast. Country Briefings. The Economist.
37. ^ Badan Pusat Statistik Indonesia (2 Desember 2008). Beberapa Indikator Penting Mengenai Indonesia (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[18 Maret 2008]].
38. ^ Ridwan Max Sijabat. "Unemployment still blighting the Indonesian landscape", The Jakarta Post, 23 Maret 2007.
39. ^ Bank Dunia. Making the New Indonesia Work for the Poor - Overview (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[26 Desember 2006]].
40. ^ a b Indonesia - The World Factbook.
41. ^ Official Statistics and its Development in Indonesia. (PDF) Sub Committee on Statistics: First Session 18–20 February, 2004. Economic and Social Commission for Asia & the Pacific.
42. ^ Indonesia at a Glance. (PDF) Indonesia Development Indicators and Data. Bank Dunia.
43. ^ (2007). Indeks Persepsi Korupsi. Transparency International. Diakses pada 28 September 2007
44. ^ Index of Economic Freedom. The Heritage Foundation & The Wall Street Journal. Diakses pada 1 Juli 2008
45. ^ The Economist Intelligence Unit’s Quality-of-Life Index. (PDF) The Economist. Diakses pada 12 September 2007
46. ^ Worldwide Press Freedom Index 2006. (PDF) Reporters Without Borders. Diakses pada 1 Juli 2008
47. ^ cpi 2007 table. Transparency International. Diakses pada 1 Juli 2008
48. ^ Human Development Reports: Indonesia. United Nations Development Programme. Diakses pada 1 Juli 2008
49. ^ Global Competitiveness Index rankings and 2006–2007 comparisons. (PDF) World Economic Forum. Diakses pada 1 Juli 2008
50. ^ Indonesian Central Statistics Bureau (30 Juni 2000). 2000 Population Statistics. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].
51. ^ Calder, Joshua Most Populous Islands. World Island Information. Diakses pada 26 September 2006
52. ^ (16 Mei 2008). "Country Profile 2008: Indonesia" (pdf). Economist Intelligence Unit. Diakses pada 31 Juli 2008.
53. ^ Yang, Heriyanto (August 2005). "The History and Legal Position of Confucianism in Post Independence Indonesia" (PDF). Religion 10 (1): 8 Diakses pada 2 Oktober 2006.
54. ^ "PENGERAJIN BATIK TAK PERLU RESAH", Majalah Hukum & HAM Online, 30 September 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
55. ^ Witton, Patrick (2003). Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. hal. hal.103. ISBN1-74059-154-2.
56. ^ [1]
57. ^ [2]
58. ^ "Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah", Kompas, Rabu, 28 April 2004. Diakses pada 14 Agustus 2008.
59. ^ Radhar Panca Dahana. "Perspektif: Mencuri Klaim, Itu Biasa", Gatra.Com, Kamis, 6 Desember 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
60. ^ Witton, Patrick (2002). World Food: Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. ISBN 1-74059-009-0.
61. ^ Brissendon, Rosemary (2003). South East Asian Food. Melbourne: Hardie Grant Books. ISBN 1-74066-013-7.
62. ^ a b Kristianto, JB, "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia", Kompas, 2 Juli 2005. Diakses pada 5 Oktober 2006.
63. ^ Taylor (2003), halaman 299–301
64. ^ Vickers (2005) halaman 3 to 7; Friend (2003), halaman 74, 180
65. ^ Czermak, Karen; Philippe DeLanghe, Wei Weng "Preserving Intangible Cultural Heritage in Indonesia". (PDF) SIL International. Diakses pada 4 Juli 2007
66. ^ (2006). Internet World Stats. Asia Internet Usage, Population Statistics and Information. Miniwatts Marketing Group. Diakses pada 13 Agustus 2007
67. ^ http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker
68. ^ http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/03/08/4070.html Dunia Sebut Indonesia Mega Biodiversity
69. ^ http://www.cites.org/eng/prog/economics/report_mega_2001.pdf Report on the CITES workshop on mega-biodiversity exporters (with the assistance of the European Commission)
70. ^ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/29/kesra01.html Sulung Prasetyo. Ekologi Indonesia Masuki Masa Genting, Paragraf 1. Sinar Harapan Online. Diakses pada 13 November 2009
71. ^ http://www.satudunia.net/?q=content/utang-ekologis-adb-di-indonesia Firdaus Cahyadi Utang Ekologis ADB di Indonesia, Tulisan pernah dimuat di Koran Tempo, 2 Mei 2009
Pranala luar
Portal.svg Portal Indonesia
Commons-logo.svg
Wikimedia Commons memiliki galeri mengenai:
Indonesia
Wikitravel Lihat panduan wisata Indonesia di Wikitravel
* (id) Situs Resmi Pemerintah Republik Indonesia
* (id) Kantor Berita Antara
* (en) Pariwisata Indonesia
* (id) Pemilu Indonesia
* (id) Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia
* (id) Data Kependudukan Resmi Indonesia
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Topik Indonesia Garuda Pancasila, Coat Arms of Indonesia.svg
Sejarah Nusantara
Prasejarah · Kerajaan Hindu-Buddha · Kerajaan Islam · Era Portugis · Era VOC · Era Belanda · Era Jepang
Sejarah Indonesia
Sejarah nama Indonesia · Proklamasi · Masa transisi · Era Orde Lama (Demokrasi Terpimpin · Gerakan 30 September · Dekrit Presiden) · Era Orde Baru (Supersemar · Integrasi Timor Timur · Gerakan 1998) · Era reformasi
Geografi
Danau & Waduk · Fauna · Flora · Gunung · Gunung berapi · Pegunungan · Pulau · Sungai · Taman nasional · Terumbu karang · Selat
Politik dan pemerintahan
Pemerintah · Presiden · Kementerian · MPR · DPR · DPD · MA · MK · BPK · Perwakilan di luar negeri · Kepolisian · Militer · Lembaga pemerintahan · Administratif · Provinsi · Kabupaten/Kota · Hubungan luar negeri · Hukum · Pemilu · Partai politik
Ekonomi
Perusahaan · Pariwisata · Transportasi · Pasar modal · Bank · BUMN · BEI
Demografi
Suku · Bahasa · Agama · Nama Indonesia
Budaya
Arsitektur · Seni · Film · Makanan · Tari · Mitologi · Pendidikan · Sastra · Media · Musik · Hari penting · Olahraga · Busana daerah
Topik lainnya
Bandar udara · Tokoh · A–Z · Telekomunikasi · Bunga · Tanda kehormatan · Kode telepon · Pembangkit listrik · Televisi nasional · Televisi regional
Portal Indonesia
[tampilkan]
Nuvola filesystems www.png Lokal geografis
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Hubungan luar negeri Indonesia
Afganistan · Amerika Serikat · Arab Saudi · Austria · Australia · Belanda · Brasil · Britania Raya · Brunei · Republik Rakyat Cina · India · Iran · Irak · Italia · Jepang · Kanada · Kazakhstan · Kamboja · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Libya · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mauritania · Meksiko · Mesir · Mozambik · Myanmar · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Portugal · Rusia · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Suriname · Swiss · Republik Cina · Thailand · Timor Leste · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vatikan · Vietnam · Yaman
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia
Negara berdaulat
Afganistan · Arab Saudi · Armenia1 · Azerbaijan1 · Bahrain · Bangladesh · Bhutan · Brunei · Republik Rakyat Cina · Filipina · Georgia1 · India · Indonesia · Irak · Iran · Israel · Jepang · Kamboja · Kazakhstan3 · Kirgizstan · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mesir3 · Mongolia · Myanmar · Nepal · Oman · Pakistan · Qatar · Rusia3 · Singapura · Siprus1 · Sri Lanka · Suriah · Tajikistan · Republik Cina (Taiwan) · Thailand · Timor Leste2 · Turki3 · Turkmenistan · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vietnam · Yaman · Yordania
Dependensi,
otonom,
wilayah lain
Abkhazia1 · Aceh · Ajaria1 · Akrotiri dan Dhekelia · Altai · Teritorial Britania di Samudra Hindia · Buryatia · Kepulauan Cocos (Keeling) · Guangxi · Hong Kong · Jakarta · Khakassia · Kurdistan Irak · Makau · Mongolia Dalam · Nagorno-Karabakh · Nakhichevan · Pulau Natal · Ningxia · Ossetia Selatan1 · Palestina (Jalur Gaza · Tepi Barat) · Papua bagian barat (Papua · Papua Barat) · Siprus Utara · Sakha · Tibet · Tuva · Xinjiang · Yogyakarta
Cetak miring menandakan negara yang tidak diakui. 1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan Eurasia. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara trans-benua.
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia Tenggara
Negara berdaulat
Brunei · Filipina · Indonesia · Kamboja · Laos · Malaysia · Myanmar · Singapura · Thailand · Timor Leste · Vietnam
Dependensi
Pulau Natal (Australia) · Kepulauan Cocos (Keeling) (Australia)
Daerah yang dipertentangkan
Sungai Naf (Bangladesh, Myanmar) · Tepi Macclesfield (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Paracel (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Pratas (RRC, RC) · Sabah (Malaysia, Filipina) · Beting Scarborough (Filipina, RRC, RC) · Kepulauan Spratly (Brunei, Malaysia, Filipina, RRC, ROC, Vietnam)
Gerakan separatis
Maluku · Papua · Chinland · Nagaland · Wa · Zogam · Bangsamoro · Patani · Sabah
[tampilkan]
Organisasi internasional
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
WTOmap currentmemberYN.png
Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Albania · Amerika Serikat · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Argentina · Armenia · Australia · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belize · Benin · Bolivia · Botswana · Brazil · Brunei · Burkina Faso · Burma · Burundi · Tanjung Verde · Chad · Chili · Republik Rakyat Cina · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · El Salvador · Fiji · Filipina · Gabon · Gambia · Georgia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Haiti · Honduras · Hong Kong¹ · India · Indonesia · Islandia · Israel · Jamaika · Jepang · Kamboja · Kamerun · Kanada · Kenya · Kolombia · Republik Demokratik Kongo · Republik Kongo · Korea Selatan · Kosta Rika · Kroasia · Kuba · Kirgizstan · Kuwait · Lesotho · Liechtenstein · Madagaskar · Makau¹ · Republik Makedonia · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mauritius · Meksiko · Mesir · Moldova · Mongolia · Mozambik · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Norwegia · Oman · Pakistan · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Paraguay · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Kitts dan Nevis · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Selandia Baru · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Kepulauan Solomon · Sri Lanka · Suriname · Swaziland · Swiss · Wilayah Bea Cukai Terpisah Taiwan, Penghu, Kinmen dan Matsu² · Tanzania · Thailand · Togo · Tonga · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turki · Uganda · Ukraina · Uni Emirat Arab · Uni Eropa³ · Uruguay · Venezuela · Vietnam · Yordania · Zambia · Zimbabwe
1. Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat Cina.
2. Nama rancangan untuk Republik Cina (Taiwan)
3. Ke-27 negara anggota Uni Eropa juga merupakan anggota WTO dengan hak masing-masing: Austria • Belanda dan Antillen Belanda • Belgia • Bulgaria • Britania Raya • Republik Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Jerman • Hongaria • Irlandia • Italia • Latvia • Lituania • Luksemburg • Malta • Perancis • Polandia • Portugal • Rumania • Siprus • Slovenia • Slowakia • Spanyol • Swedia • Yunani.
[tampilkan]
l • b • s
Gerakan Non-Blok (GNB)
Negara anggota
Afganistan · Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Aljazair · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Bahama · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belarus · Belize · Benin · Bhutan · Bolivia · Botswana · Brunei · Burkina Faso · Burundi · Chad · Chili · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · Mesir · Guinea Khatulistiwa · Eritrea · Ethiopia · Filipina · Gabon · Gambia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Honduras · India · Indonesia · Iran · Jamaika · Kamboja · Kamerun · Kenya · Kolombia · Komoro · Republik Kongo · Republik Demokratik Kongo · Korea Utara · Kuba · Kuwait · Laos · Lebanon · Lesotho · Liberia · Libya · Madagaskar · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Mauritania · Mauritius · Mongolia · Maroko · Mozambik · Myanmar · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Sao Tome dan Principe · Senegal · Seychelles · Sierra Leone · Singapura · Somalia · Sri Lanka · Sudan · Suriname · Swaziland · Suriah · Tanjung Verde · Tanzania · Thailand · Timor Leste · Togo · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vanuatu · Venezuela · Vietnam · Yaman · Yordania · Zambia · Zimbabwe
Negara pemantau
Armenia · Azerbaijan · Brasil · Republik Rakyat Cina · El Salvador · Kazakhstan · Kosta Rika · Kroasia · Kirgizstan · Meksiko · Montenegro · Serbia · Ukraina · Uruguay
Organisasi pemantau
Uni Afrika · Liga Arab · Perserikatan Bangsa-Bangsa
[tampilkan]
l • b • s
Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Negara anggota
Afganistan · Albania · Aljazair · Arab Saudi · Azerbaijan · Bahrain · Bangladesh · Benin · Brunei · Burkina Faso · Chad · Djibouti · Gabon · Gambia · Guinea · Guinea Bissau · Guyana · Indonesia · Irak · Iran · Kamerun · Kazakhstan · Komoro · Kirgizstan · Kuwait · Lebanon · Libya · Maladewa · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mesir · Mozambik · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Pantai Gading · Qatar · Senegal · Sierra Leone · Suriah · Suriname · Tajikistan · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Yaman · Yordania
Bendera OKI
Negara pemantau
Bosnia dan Herzegovina · Republik Afrika Tengah · Rusia · Thailand · Siprus Utara (sebagai Siprus Turki)
Organisasi pemantau
Organisasi Kerja Sama Ekonomi · Uni Afrika · Liga Arab · Gerakan Non-Blok · Perserikatan Bangsa-Bangsa · Front Pembebasan Nasional Moro
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)
Amerika Serikat · Australia · Brunei Darussalam · Chili · Republik Rakyat Cina · Hong Kong · Indonesia · Jepang · Kanada · Korea Selatan · Malaysia · Meksiko · Papua Nugini · Peru · Filipina · Rusia · Selandia Baru · Singapura · Cina Taipei * · Thailand · Vietnam
* Rancangan nama untuk Republik Cina (Taiwan)
Logo APEC
[tampilkan]
l • b • s
Negara anggota Kelompok 15 (G15)
Bendera Aljazair Aljazair
Bendera Argentina Argentina
Bendera Brasil Brasil
Bendera Chili Chili
Bendera India India
Bendera Indonesia Indonesia
Bendera Iran Iran
Bendera Jamaika Jamaika
Bendera Kenya Kenya
Bendera Malaysia Malaysia
Bendera Meksiko Meksiko
Bendera Mesir Mesir
Bendera Nigeria Nigeria
Bendera Peru Peru
Bendera Senegal Senegal
Bendera Sri Lanka Sri Lanka
Bendera Venezuela Venezuela
Bendera Zimbabwe Zimbabwe
[tampilkan]
l • b • s
Kelompok 20 Negara Ekonomi Dunia Utama (G-20)
Negara anggota
Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · Flag of the United States.svg Amerika Serikat · Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi · Flag of Argentina.svg Argentina · Flag of Australia.svg Australia · Flag of Brazil.svg Brasil · Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya · Flag of the People's Republic of China.svg RRC · Flag of India.svg India · Flag of Indonesia.svg Indonesia · Flag of Italy.svg Italia · Flag of Japan.svg Jepang · Flag of Germany.svg Jerman · Flag of Canada.svg Kanada · Flag of South Korea.svg Korea Selatan · Flag of Mexico.svg Meksiko · Flag of France.svg Perancis · Flag of Russia.svg Rusia · Flag of Turkey.svg Turki · Flag of Europe.svg Uni Eropa
Tuan rumah
1999: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2000: Montreal, Flag of Canada.svg Kanada · 2001: Ottawa, Flag of Canada.svg Kanada · 2002: Delhi, Flag of India.svg India ·
2003: Morelia, Flag of Mexico.svg Meksiko · 2004: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2005: Beijing, Flag of the People's Republic of China.svg RRC · 2006: Melbourne, Flag of Australia.svg Australia ·
2007: Cape Town, Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · 2008: São Paulo, Flag of Brazil.svg Brasil · 2009: London, Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya
[tampilkan]
l • b • s
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN)
Sekretaris Jenderal: Bendera Thailand Surin Pitsuwan
Flag of Brunei.svg Brunei
Flag of Malaysia.svg Malaysia
Flag of the Philippines.svg Filipina
Flag of Myanmar.svg Myanmar
Flag of Indonesia.svg Indonesia
Flag of Singapore.svg Singapura
Flag of Cambodia.svg Kamboja
Flag of Thailand.svg Thailand
Flag of Laos.svg Laos
Flag of Vietnam.svg Vietnam
Piagam - Kawasan Perdagangan Bebas
Pemantau: Flag of Papua New Guinea.svg Papua Nugini • Flag of East Timor.svg Timor Leste
LinkFA-star.png
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"
Kategori: ASEAN | Indonesia | Negara di Asia Tenggara
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
Peralatan pribadi
* Coba Beta
* Masuk log / buat akun
Cari
Navigasi
* Halaman Utama
* Perubahan terbaru
* Peristiwa terkini
* Halaman sembarang
Komunitas
* Warung Kopi
* Portal komunitas
* Bantuan
wikipedia
* Tentang Wikipedia
* Pancapilar
* Kebijakan
* Menyumbang
Cetak/ekspor
* Buat buku
* Unduh sebagai PDF
* Versi cetak
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Halaman istimewa
* Pranala permanen
* Kutip halaman ini
Bahasa lain
* Acèh
* Afrikaans
* Alemannisch
* Aragonés
* العربية
* مصرى
* অসমীয়া
* Asturianu
* Azərbaycan
* Башҡорт
* Žemaitėška
* Bikol Central
* Беларуская
* Беларуская (тарашкевіца)
* Български
* বাংলা
* བོད་ཡིག
* ইমার ঠার/বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী
* Brezhoneg
* Bosanski
* ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
* Català
* Cebuano
* Qırımtatarca
* Česky
* Kaszëbsczi
* Словѣ́ньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ
* Чӑвашла
* Cymraeg
* Dansk
* Deutsch
* Zazaki
* ދިވެހިބަސް
* Ελληνικά
* English
* Esperanto
* Español
* Eesti
* Euskara
* Estremeñu
* فارسی
* Suomi
* Na Vosa Vakaviti
* Français
* Arpetan
* Frysk
* Gaeilge
* 贛語
* Gàidhlig
* Galego
* ગુજરાતી
* Gaelg
* Hak-kâ-fa
* Hawai`i
* עברית
* हिन्दी
* Fiji Hindi
* Hrvatski
* Hornjoserbsce
* Kreyòl ayisyen
* Magyar
* Հայերեն
* Interlingua
* Interlingue
* Ilokano
* Ido
* Íslenska
* Italiano
* 日本語
* Lojban
* Basa Jawa
* ქართული
* Қазақша
* ភាសាខ្មែរ
* ಕನ್ನಡ
* 한국어
* Kurdî / كوردی
* Коми
* Kernowek
* Кыргызча
* Latina
* Lëtzebuergesch
* Limburgs
* Líguru
* Lumbaart
* Lingála
* Lietuvių
* Latviešu
* Basa Banyumasan
* Malagasy
* Māori
* Македонски
* മലയാളം
* Монгол
* मराठी
* Bahasa Melayu
* မြန်မာဘာသာ
* مَزِروني
* Dorerin Naoero
* Nāhuatl
* Nnapulitano
* Plattdüütsch
* Nedersaksisch
* नेपाल भाषा
* Nederlands
* Norsk (nynorsk)
* Norsk (bokmål)
* Novial
* Diné bizaad
* Occitan
* Иронау
* Kapampangan
* Papiamentu
* Norfuk / Pitkern
* Polski
* Piemontèis
* پنجابی
* Português
* Runa Simi
* Rumantsch
* Română
* Armãneashce
* Русский
* संस्कृत
* Саха тыла
* Sicilianu
* Sámegiella
* Sängö
* Srpskohrvatski / Српскохрватски
* Simple English
* Slovenčina
* Slovenščina
* Soomaaliga
* Shqip
* Српски / Srpski
* Seeltersk
* Basa Sunda
* Svenska
* Kiswahili
* Ślůnski
* தமிழ்
* తెలుగు
* Tetun
* Тоҷикӣ
* ไทย
* Türkmençe
* Tagalog
* Tok Pisin
* Türkçe
* Татарча/Tatarça
* Удмурт
* Uyghurche / ئۇيغۇرچە
* Українська
* اردو
* Vèneto
* Tiếng Việt
* Volapük
* Winaray
* Wolof
* 吴语
* ייִדיש
* Yorùbá
* 中文
* 文言
* Bân-lâm-gú
* 粵語
Powered by MediaWiki
Wikimedia Foundation
* Halaman ini terakhir diubah pada 06:41, 7 April 2010.
* Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
* Kebijakan privasi
* Tentang Wikipedia
* Penyangkalan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Perlindungan dari pemindahan
Untuk kegunaan lain dari Indonesia, lihat Indonesia (disambiguasi).
"RI" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari RI, lihat RI (disambiguasi).
Republik Indonesia
Bendera Lambang
Motto: Bhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: "Berbeda-beda tetapi tetap Satu")
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaan: Indonesia Raya
Ibu kota
(dan kota terbesar) Jakarta
6°10.5′S 106°49.7′E / 6.175°LS 106.8283°BT / -6.175; 106.8283
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik presidensial
- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
- Wakil Presiden Boediono
- Ketua MPR Taufik Kiemas
- Ketua DPR Marzuki Alie
- Ketua DPD Irman Gusman
Kemerdekaan dari Belanda
- Diproklamasikan 17 Agustus 1945
- Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
- Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
- Total 1,904,569 km2 (15)
- Air (%) 4,85%
Penduduk
- Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833[1] (4)
- Sensus 2000 206.264.595
- Kepadatan 134/km2 (84)
PDB (KKB) Perkiraan 2009
- Total Rp. 8,576 triliun
(AS$ 909 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 37,538 juta
(AS$ 3,979)[2]
PDB (nominal) Perkiraan 2009
- Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 511 miliar)[2]
- Per kapita Rp. 21.113 juta
(AS$ 2,238)[2]
IPM (2006) Green Arrow Up Darker.svg 0.734[3] (menengah) (111)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Domain internet .id
Kode telepon +62
lihat • bicara • sunting
Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[4] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Etimologi
Lihat pula: Sejarah nama Indonesia
Kata "Indonesia" berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau".[5] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.[6] Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu".[7] Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India.[8] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).[9]
Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.[9] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau di tahun 1913.[6]
Sejarah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Indonesia
Lihat pula: Sejarah Nusantara
Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki "Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.[10] Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan.[11] Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM,[12] menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad.[13] Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.[14]
Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.
Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan.[15] Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.[16]
Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[17] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[18] Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.
Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel
Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[19] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.
Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.
Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.
Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai 'aksi kepolisian' (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.[20] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia ("Konfrontasi"),[21] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.
Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia
Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.
Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil "Mafia Berkeley".[22] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.
Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[23] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.
Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.
Politik dan pemerintahan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Indonesia
Gedung MPR-DPR.
Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.
Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen.[24] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufik Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.
Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).
Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.
Pembagian administratif
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Provinsi Indonesia
Indonesia provinces blank map.svg
Aceh
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Kep.
Riau
Kep. Bangka
Belitung
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Banten
DKI Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur
Bali
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan
Barat
Kalimantan
Tengah
Kalimantan
Timur
Kalimantan
Selatan
Sulawesi
Utara
Maluku
Utara
Sulawesi
Tengah
Gorontalo
Sulawesi
Barat
Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Tenggara
Maluku
Papua
Barat
Papua
Indonesia saat ini terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi kabupaten dan kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan walikota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.
Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[25] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[26] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[27] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[28]
Provinsi di Indonesia dan ibukotanya
Sumatera
* Aceh - Banda Aceh
* Sumatera Utara - Medan
* Sumatera Barat - Padang
* Riau - Pekanbaru
* Kepulauan Riau - Tanjung Pinang
* Jambi - Jambi
* Sumatera Selatan - Palembang
* Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang
* Bengkulu - Bengkulu
* Lampung - Bandar Lampung
Jawa
* Daerah Khusus Ibukota Jakarta - Jakarta
* Banten - Serang
* Jawa Barat - Bandung
* Jawa Tengah - Semarang
* Daerah Istimewa Yogyakarta - Yogyakarta
* Jawa Timur - Surabaya
Kepulauan Sunda Kecil
* Bali - Denpasar
* Nusa Tenggara Barat - Mataram
* Nusa Tenggara Timur - Kupang
Kalimantan
* Kalimantan Barat - Pontianak
* Kalimantan Tengah - Palangkaraya
* Kalimantan Selatan - Banjarmasin
* Kalimantan Timur - Samarinda
Sulawesi
* Sulawesi Utara - Manado
* Gorontalo - Gorontalo
* Sulawesi Tengah - Palu
* Sulawesi Barat - Mamuju
* Sulawesi Selatan - Makassar
* Sulawesi Tenggara - Kendari
Maluku
* Maluku - Ambon
* Maluku Utara - Ternate
Papua
* Papua Barat - Manokwari
* Papua - Jayapura
Geografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Indonesia
Lihat pula: Peta Asia dan Jumlah pulau di Indonesia
Sebuah air terjun, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur
Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara[29] yang memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[30], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut,[31] searah penjuru mata angin, yaitu:
Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km[30], Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km[30], Timor Leste, dan Samudra Pasifik
Sumber daya alam
Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km[32]
Ekonomi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Indonesia
Uang rupiah
Protes melawan IMF, organisasi yang terlibat dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, di Jakarta.
Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.[33]
Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.[33] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.[33] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,[33] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997[34] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[35] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.
Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut.[36] Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam mempengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.[37][38] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.[39]
Gedung pusat Bank Indonesia.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.[40] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%.[41] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.[42]
Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.
Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.[43]
Peringkat internasional
Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157[44]
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111[45]
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168[46]
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179[47]
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177[48]
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122[49]
Demografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Indonesia
Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta,[50] dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta.[4] 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada.[51] Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.
Masjid Islamic Center Samarinda di Samarinda, Kalimantan Timur.
Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas diantaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa.[52] Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.
Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.[40] Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.[53]
Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
l • b • s
Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 8.839.247 Indonesia
Indonesia 7 Semarang Jawa Tengah 1.352.869
2 Surabaya Jawa Timur 2.611.506 8 Depok Jawa Barat 1.339.263
3 Bandung Jawa Barat 2.288.570 9 Palembang Sumatra Selatan 1.323.169
4 Medan Sumatra Utara 2.029.797 10 Tangerang Selatan Banten 1.241.441
5 Bekasi Jawa Barat 1.940.308 11 Makassar Sulawesi Selatan 1.168.258
6 Tangerang Banten 1.451.595 12 Bogor Jawa Barat 891.467
Sumber: [3]
Kebudayaan dan warisan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Indonesia
Pertunjukan
Wayang kulit warisan budaya Jawa.
Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.
Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.
Busana
Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.
Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[54] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatra Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.
Arsitektur
Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.
Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.
Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.
Olahraga
Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008
Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.[55]
Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas[56], dan Chris John[57].
Seni musik
Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,[58] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Seperangkat gamelan
Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia 'dicuri' oleh negara lain[59] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:
* Angklung
* Bende
* Calung
* Dermenan
* Gamelan
* Gandang Tabuik
* Gendang Bali
* Gondang Batak
* Gong Kemada
* Gong Lambus
* Jidor
* Kecapi Suling
* Kulcapi Batak
* Kendang Jawa
* Kenong
* Kulintang
* Rebab
* Rebana
* Saluang
* Saron
* Sasando
* Serunai
* Seurune Kale
* Suling Lembang
* Sulim Batak
* Suling Sunda
* Talempong
* Tanggetong
* Tifa, dan sebagainya
Boga
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar masakan Indonesia
Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.
Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya.[60] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.[61]
Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.
Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu. Nasi rames yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran sangat minimalis dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima.
Terdapat pula aneka makanan yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau tanggungan. Pedagang keliling ini menyajikan mie ayam, mi bakso, soto, siomay, roti burger, nasi goreng, nasi uduk, dan lain-lain.
Perfilman
Poster film Tjoet Nja' Dhien, pahlawan nasional Indonesia asal Aceh
Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Di masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Diantara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949). Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya.
Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia,[62] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an. Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat.[62] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film paling laris sepanjang sejarah.
Kesusastraan
Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[63] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[64] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[65] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[66] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.
Ekologi
Kasuari, salah satu burung khas dari Pulau Papua.
Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah "Mega biodiversity" atau "keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi"[67][68] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [69]
Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara
Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[70] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.[71]
Rujukan
1. ^ Jam penduduk Indonesia
2. ^ a b c d International Monetary Fund (October 2009). World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada 30 November.
3. ^ HDR Stats
4. ^ a b Badan Pusat Statistik Indonesia (1 September 2006). Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2005–2006 (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[26 September 2006]].
5. ^ Tomascik, T; Mah, J.A., Nontji, A., Moosa, M.K. (1996). The Ecology of the Indonesian Seas - Part One. Hong Kong: Periplus Editions Ltd.. ISBN 962-593-078-7.
6. ^ a b Anshory, Irfan, "Asal Usul Nama Indonesia", Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
7. ^ Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 119.
8. ^ Logan, James Richardson (1850). "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 4, 252–347.; Earl, George S. W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 254, 277–278.
9. ^ a b Justus M. van der Kroef (1951). "The Term Indonesia: Its Origin and Usage". Journal of the American Oriental Society 71 (3): 166–171. DOI:10.2307/595186.
10. ^ Pope (1988). "Recent advances in far eastern paleoanthropology". Annual Review of Anthropology 17: 43–77. DOI:10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309–312. ; Pope, G (15 Agustus, 1983). "Evidence on the Age of the Asian Hominidae". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 80 (16): 4,988–4992. DOI:10.1073/pnas.80.16.4988. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309. ; de Vos, J.P., P.Y. Sondaar, (9 Desember 1994). "Dating hominid sites in Indonesia" (PDF). Science Magazine 266 (16): 4, 988–4992. DOI:10.1126/science.7992059. cited in Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E., Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hal. 309.
11. ^ Taylor (2003), hal. 5–7
12. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 8–9. ISBN 0-300-10518-5.
13. ^ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hal. 15–18. ISBN 0-300-10518-5.
14. ^ Taylor (2003), hal. 3, 9, 10–11, 13, 14–15, 18–20, 22–23; Vickers (2005), hal. 18–20, 60, 133–134
15. ^ Taylor (2003), hal. 22–26; Ricklefs (1991), hal. 3
16. ^ Peter Lewis (1982). "The next great empire". Futures 14 (1): 47–61. DOI:10.1016/0016-3287(82)90071-4.
17. ^ *Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Oktober 2000, xliv + 299 halaman
18. ^ Wright, Louis B. (7 April 1970). Gold, Glory, and the Gospel: The Adventurous Lives and Times of the Renaissance Explorers. New York: Atheneum.
19. ^ Ricklefs, M.C. (7 April 1991). A History of Modern Indonesia since c.1300. London: MacMillan. hal. 151. ISBN 0-33-579690-X.
20. ^ ZWEERS, L. (7 April 1995). Agressi II: Operatie Kraai. De vergeten beelden van de tweede politionele actie. Den Haag: SDU uitgevers.
21. ^ van der Bijl, Nick. Confrontation, The War with Indonesia 1962—1966, (London, 2007) ISBN 978-1-84415-595-8
22. ^ Wibowo, Sigit, Sjarifuddin. Ekonomi Indonesia Gagal karena Mafia Berkeley, Harian Umum Sore Sinar Harapan. Copyright © Sinar Harapan 2003. Diakses: Selasa, 6 Agustus 2008.
23. ^ Laporan dari Carter Center. The Carter Center 2004 Indonesia Election Report (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[29 Juli 2008]].
24. ^ (PDF) Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. 13 Desember 2006. http://www.gtzsfdm.or.id/documents/laws_n_regs/con_decree/3_AmdUUD45_eng.pdf.
25. ^ Michelle Ann Miller (2004). "The Nanggroe Aceh Darussalam law: a serious response to Acehnese separatism?". Asian Ethnicity 5 (3): 333–351. DOI:10.1080/1463136042000259789.
26. ^ Dewan Perwakilan Rakyat (1999). Bab XIV Other Provisions, Pasal 122; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di DaerahPDF (146 ). Presiden Indonesia (1974). Bab VII Aturan Peralihan, Pasal 91
27. ^ Dursin, Richel; Kafil Yamin, "Another Fine Mess in Papua", Editorial, The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.; "Papua Chronology Confusing Signals from Jakarta", The Jakarta Post, 18 November 2004. Diakses pada 5 Oktober 2006.
28. ^ Burr, W.; Evans, M.L. Ford and Kissinger Gave Green Light to Indonesia's Invasion of East Timor, 1975: New Documents Detail Conversations with Suharto. National Security Archive Electronic Briefing Book No. 62. National Security Archieve, Universitas George Washington, Washington, D.C.. Diakses pada 17 September 2006
29. ^ Dotinga, Harm; Netherlands Institute for the Law of the Sea (2000). International organizations and the law of the sea: documentary yearbook, Vol 14. Martinus Nijhoff Publishers. hal. 960. ISBN 9041113452, 9789041113450.
30. ^ a b c International Monetary Fund. Estimate World Economic Outlook Database. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].; Indonesia Regions. Indonesia Business Directory. Diakses pada 24 April 2007
31. ^ Article 55, 1982 UN Convention on the Law of The Sea.
32. ^ World Bank (1994). A World Bank country study Country Studies: Indonesia: environment and development. World Bank Publications. ISBN 0821329502, 9780821329504.
33. ^ a b c d Schwarz, A. (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Westview Press. ISBN 1-86373-635-2, halaman 52–57.
34. ^ (2006). Indonesia: Country Brief. Indonesia:Key Development Data & Statistics. Bank Dunia.
35. ^ (14 September 2006)"Poverty in Indonesia: Always with them". The Economist Diakses pada 26 Desember 2006.
36. ^ Indonesia: Forecast. Country Briefings. The Economist.
37. ^ Badan Pusat Statistik Indonesia (2 Desember 2008). Beberapa Indikator Penting Mengenai Indonesia (PDF) (in Bahasa Indonesia). Rilis pers. URL diakses pada [[18 Maret 2008]].
38. ^ Ridwan Max Sijabat. "Unemployment still blighting the Indonesian landscape", The Jakarta Post, 23 Maret 2007.
39. ^ Bank Dunia. Making the New Indonesia Work for the Poor - Overview (PDF). Rilis pers. URL diakses pada [[26 Desember 2006]].
40. ^ a b Indonesia - The World Factbook.
41. ^ Official Statistics and its Development in Indonesia. (PDF) Sub Committee on Statistics: First Session 18–20 February, 2004. Economic and Social Commission for Asia & the Pacific.
42. ^ Indonesia at a Glance. (PDF) Indonesia Development Indicators and Data. Bank Dunia.
43. ^ (2007). Indeks Persepsi Korupsi. Transparency International. Diakses pada 28 September 2007
44. ^ Index of Economic Freedom. The Heritage Foundation & The Wall Street Journal. Diakses pada 1 Juli 2008
45. ^ The Economist Intelligence Unit’s Quality-of-Life Index. (PDF) The Economist. Diakses pada 12 September 2007
46. ^ Worldwide Press Freedom Index 2006. (PDF) Reporters Without Borders. Diakses pada 1 Juli 2008
47. ^ cpi 2007 table. Transparency International. Diakses pada 1 Juli 2008
48. ^ Human Development Reports: Indonesia. United Nations Development Programme. Diakses pada 1 Juli 2008
49. ^ Global Competitiveness Index rankings and 2006–2007 comparisons. (PDF) World Economic Forum. Diakses pada 1 Juli 2008
50. ^ Indonesian Central Statistics Bureau (30 Juni 2000). 2000 Population Statistics. Rilis pers. URL diakses pada [[5 Oktober 2006]].
51. ^ Calder, Joshua Most Populous Islands. World Island Information. Diakses pada 26 September 2006
52. ^ (16 Mei 2008). "Country Profile 2008: Indonesia" (pdf). Economist Intelligence Unit. Diakses pada 31 Juli 2008.
53. ^ Yang, Heriyanto (August 2005). "The History and Legal Position of Confucianism in Post Independence Indonesia" (PDF). Religion 10 (1): 8 Diakses pada 2 Oktober 2006.
54. ^ "PENGERAJIN BATIK TAK PERLU RESAH", Majalah Hukum & HAM Online, 30 September 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
55. ^ Witton, Patrick (2003). Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. hal. hal.103. ISBN1-74059-154-2.
56. ^ [1]
57. ^ [2]
58. ^ "Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah", Kompas, Rabu, 28 April 2004. Diakses pada 14 Agustus 2008.
59. ^ Radhar Panca Dahana. "Perspektif: Mencuri Klaim, Itu Biasa", Gatra.Com, Kamis, 6 Desember 2007. Diakses pada 14 Agustus 2008.
60. ^ Witton, Patrick (2002). World Food: Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. ISBN 1-74059-009-0.
61. ^ Brissendon, Rosemary (2003). South East Asian Food. Melbourne: Hardie Grant Books. ISBN 1-74066-013-7.
62. ^ a b Kristianto, JB, "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia", Kompas, 2 Juli 2005. Diakses pada 5 Oktober 2006.
63. ^ Taylor (2003), halaman 299–301
64. ^ Vickers (2005) halaman 3 to 7; Friend (2003), halaman 74, 180
65. ^ Czermak, Karen; Philippe DeLanghe, Wei Weng "Preserving Intangible Cultural Heritage in Indonesia". (PDF) SIL International. Diakses pada 4 Juli 2007
66. ^ (2006). Internet World Stats. Asia Internet Usage, Population Statistics and Information. Miniwatts Marketing Group. Diakses pada 13 Agustus 2007
67. ^ http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker http://www.detiknews.com/read/2009/03/08/144934/1096302/10/pemerintah-siap-dukung-dana-pengembangan-obat-herbal-aids-kanker
68. ^ http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/03/08/4070.html Dunia Sebut Indonesia Mega Biodiversity
69. ^ http://www.cites.org/eng/prog/economics/report_mega_2001.pdf Report on the CITES workshop on mega-biodiversity exporters (with the assistance of the European Commission)
70. ^ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/29/kesra01.html Sulung Prasetyo. Ekologi Indonesia Masuki Masa Genting, Paragraf 1. Sinar Harapan Online. Diakses pada 13 November 2009
71. ^ http://www.satudunia.net/?q=content/utang-ekologis-adb-di-indonesia Firdaus Cahyadi Utang Ekologis ADB di Indonesia, Tulisan pernah dimuat di Koran Tempo, 2 Mei 2009
Pranala luar
Portal.svg Portal Indonesia
Commons-logo.svg
Wikimedia Commons memiliki galeri mengenai:
Indonesia
Wikitravel Lihat panduan wisata Indonesia di Wikitravel
* (id) Situs Resmi Pemerintah Republik Indonesia
* (id) Kantor Berita Antara
* (en) Pariwisata Indonesia
* (id) Pemilu Indonesia
* (id) Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia
* (id) Data Kependudukan Resmi Indonesia
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Topik Indonesia Garuda Pancasila, Coat Arms of Indonesia.svg
Sejarah Nusantara
Prasejarah · Kerajaan Hindu-Buddha · Kerajaan Islam · Era Portugis · Era VOC · Era Belanda · Era Jepang
Sejarah Indonesia
Sejarah nama Indonesia · Proklamasi · Masa transisi · Era Orde Lama (Demokrasi Terpimpin · Gerakan 30 September · Dekrit Presiden) · Era Orde Baru (Supersemar · Integrasi Timor Timur · Gerakan 1998) · Era reformasi
Geografi
Danau & Waduk · Fauna · Flora · Gunung · Gunung berapi · Pegunungan · Pulau · Sungai · Taman nasional · Terumbu karang · Selat
Politik dan pemerintahan
Pemerintah · Presiden · Kementerian · MPR · DPR · DPD · MA · MK · BPK · Perwakilan di luar negeri · Kepolisian · Militer · Lembaga pemerintahan · Administratif · Provinsi · Kabupaten/Kota · Hubungan luar negeri · Hukum · Pemilu · Partai politik
Ekonomi
Perusahaan · Pariwisata · Transportasi · Pasar modal · Bank · BUMN · BEI
Demografi
Suku · Bahasa · Agama · Nama Indonesia
Budaya
Arsitektur · Seni · Film · Makanan · Tari · Mitologi · Pendidikan · Sastra · Media · Musik · Hari penting · Olahraga · Busana daerah
Topik lainnya
Bandar udara · Tokoh · A–Z · Telekomunikasi · Bunga · Tanda kehormatan · Kode telepon · Pembangkit listrik · Televisi nasional · Televisi regional
Portal Indonesia
[tampilkan]
Nuvola filesystems www.png Lokal geografis
[tampilkan]
l • b • s
Bendera Indonesia Hubungan luar negeri Indonesia
Afganistan · Amerika Serikat · Arab Saudi · Austria · Australia · Belanda · Brasil · Britania Raya · Brunei · Republik Rakyat Cina · India · Iran · Irak · Italia · Jepang · Kanada · Kazakhstan · Kamboja · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Libya · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mauritania · Meksiko · Mesir · Mozambik · Myanmar · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Portugal · Rusia · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Suriname · Swiss · Republik Cina · Thailand · Timor Leste · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vatikan · Vietnam · Yaman
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia
Negara berdaulat
Afganistan · Arab Saudi · Armenia1 · Azerbaijan1 · Bahrain · Bangladesh · Bhutan · Brunei · Republik Rakyat Cina · Filipina · Georgia1 · India · Indonesia · Irak · Iran · Israel · Jepang · Kamboja · Kazakhstan3 · Kirgizstan · Korea Selatan · Korea Utara · Kuwait · Laos · Lebanon · Maladewa · Malaysia · Mesir3 · Mongolia · Myanmar · Nepal · Oman · Pakistan · Qatar · Rusia3 · Singapura · Siprus1 · Sri Lanka · Suriah · Tajikistan · Republik Cina (Taiwan) · Thailand · Timor Leste2 · Turki3 · Turkmenistan · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vietnam · Yaman · Yordania
Dependensi,
otonom,
wilayah lain
Abkhazia1 · Aceh · Ajaria1 · Akrotiri dan Dhekelia · Altai · Teritorial Britania di Samudra Hindia · Buryatia · Kepulauan Cocos (Keeling) · Guangxi · Hong Kong · Jakarta · Khakassia · Kurdistan Irak · Makau · Mongolia Dalam · Nagorno-Karabakh · Nakhichevan · Pulau Natal · Ningxia · Ossetia Selatan1 · Palestina (Jalur Gaza · Tepi Barat) · Papua bagian barat (Papua · Papua Barat) · Siprus Utara · Sakha · Tibet · Tuva · Xinjiang · Yogyakarta
Cetak miring menandakan negara yang tidak diakui. 1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan Eurasia. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara trans-benua.
[tampilkan]
l • b • s
Negara di Asia Tenggara
Negara berdaulat
Brunei · Filipina · Indonesia · Kamboja · Laos · Malaysia · Myanmar · Singapura · Thailand · Timor Leste · Vietnam
Dependensi
Pulau Natal (Australia) · Kepulauan Cocos (Keeling) (Australia)
Daerah yang dipertentangkan
Sungai Naf (Bangladesh, Myanmar) · Tepi Macclesfield (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Paracel (RRC, RC, Vietnam) · Kepulauan Pratas (RRC, RC) · Sabah (Malaysia, Filipina) · Beting Scarborough (Filipina, RRC, RC) · Kepulauan Spratly (Brunei, Malaysia, Filipina, RRC, ROC, Vietnam)
Gerakan separatis
Maluku · Papua · Chinland · Nagaland · Wa · Zogam · Bangsamoro · Patani · Sabah
[tampilkan]
Organisasi internasional
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
WTOmap currentmemberYN.png
Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Albania · Amerika Serikat · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Argentina · Armenia · Australia · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belize · Benin · Bolivia · Botswana · Brazil · Brunei · Burkina Faso · Burma · Burundi · Tanjung Verde · Chad · Chili · Republik Rakyat Cina · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · El Salvador · Fiji · Filipina · Gabon · Gambia · Georgia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Haiti · Honduras · Hong Kong¹ · India · Indonesia · Islandia · Israel · Jamaika · Jepang · Kamboja · Kamerun · Kanada · Kenya · Kolombia · Republik Demokratik Kongo · Republik Kongo · Korea Selatan · Kosta Rika · Kroasia · Kuba · Kirgizstan · Kuwait · Lesotho · Liechtenstein · Madagaskar · Makau¹ · Republik Makedonia · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mauritius · Meksiko · Mesir · Moldova · Mongolia · Mozambik · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Norwegia · Oman · Pakistan · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Paraguay · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Kitts dan Nevis · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Selandia Baru · Senegal · Sierra Leone · Singapura · Kepulauan Solomon · Sri Lanka · Suriname · Swaziland · Swiss · Wilayah Bea Cukai Terpisah Taiwan, Penghu, Kinmen dan Matsu² · Tanzania · Thailand · Togo · Tonga · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turki · Uganda · Ukraina · Uni Emirat Arab · Uni Eropa³ · Uruguay · Venezuela · Vietnam · Yordania · Zambia · Zimbabwe
1. Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat Cina.
2. Nama rancangan untuk Republik Cina (Taiwan)
3. Ke-27 negara anggota Uni Eropa juga merupakan anggota WTO dengan hak masing-masing: Austria • Belanda dan Antillen Belanda • Belgia • Bulgaria • Britania Raya • Republik Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Jerman • Hongaria • Irlandia • Italia • Latvia • Lituania • Luksemburg • Malta • Perancis • Polandia • Portugal • Rumania • Siprus • Slovenia • Slowakia • Spanyol • Swedia • Yunani.
[tampilkan]
l • b • s
Gerakan Non-Blok (GNB)
Negara anggota
Afganistan · Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Aljazair · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Bahama · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belarus · Belize · Benin · Bhutan · Bolivia · Botswana · Brunei · Burkina Faso · Burundi · Chad · Chili · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · Mesir · Guinea Khatulistiwa · Eritrea · Ethiopia · Filipina · Gabon · Gambia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Honduras · India · Indonesia · Iran · Jamaika · Kamboja · Kamerun · Kenya · Kolombia · Komoro · Republik Kongo · Republik Demokratik Kongo · Korea Utara · Kuba · Kuwait · Laos · Lebanon · Lesotho · Liberia · Libya · Madagaskar · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Mauritania · Mauritius · Mongolia · Maroko · Mozambik · Myanmar · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Sao Tome dan Principe · Senegal · Seychelles · Sierra Leone · Singapura · Somalia · Sri Lanka · Sudan · Suriname · Swaziland · Suriah · Tanjung Verde · Tanzania · Thailand · Timor Leste · Togo · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vanuatu · Venezuela · Vietnam · Yaman · Yordania · Zambia · Zimbabwe
Negara pemantau
Armenia · Azerbaijan · Brasil · Republik Rakyat Cina · El Salvador · Kazakhstan · Kosta Rika · Kroasia · Kirgizstan · Meksiko · Montenegro · Serbia · Ukraina · Uruguay
Organisasi pemantau
Uni Afrika · Liga Arab · Perserikatan Bangsa-Bangsa
[tampilkan]
l • b • s
Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Negara anggota
Afganistan · Albania · Aljazair · Arab Saudi · Azerbaijan · Bahrain · Bangladesh · Benin · Brunei · Burkina Faso · Chad · Djibouti · Gabon · Gambia · Guinea · Guinea Bissau · Guyana · Indonesia · Irak · Iran · Kamerun · Kazakhstan · Komoro · Kirgizstan · Kuwait · Lebanon · Libya · Maladewa · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mesir · Mozambik · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Pantai Gading · Qatar · Senegal · Sierra Leone · Suriah · Suriname · Tajikistan · Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Yaman · Yordania
Bendera OKI
Negara pemantau
Bosnia dan Herzegovina · Republik Afrika Tengah · Rusia · Thailand · Siprus Utara (sebagai Siprus Turki)
Organisasi pemantau
Organisasi Kerja Sama Ekonomi · Uni Afrika · Liga Arab · Gerakan Non-Blok · Perserikatan Bangsa-Bangsa · Front Pembebasan Nasional Moro
[tampilkan]
l • b • s
Anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)
Amerika Serikat · Australia · Brunei Darussalam · Chili · Republik Rakyat Cina · Hong Kong · Indonesia · Jepang · Kanada · Korea Selatan · Malaysia · Meksiko · Papua Nugini · Peru · Filipina · Rusia · Selandia Baru · Singapura · Cina Taipei * · Thailand · Vietnam
* Rancangan nama untuk Republik Cina (Taiwan)
Logo APEC
[tampilkan]
l • b • s
Negara anggota Kelompok 15 (G15)
Bendera Aljazair Aljazair
Bendera Argentina Argentina
Bendera Brasil Brasil
Bendera Chili Chili
Bendera India India
Bendera Indonesia Indonesia
Bendera Iran Iran
Bendera Jamaika Jamaika
Bendera Kenya Kenya
Bendera Malaysia Malaysia
Bendera Meksiko Meksiko
Bendera Mesir Mesir
Bendera Nigeria Nigeria
Bendera Peru Peru
Bendera Senegal Senegal
Bendera Sri Lanka Sri Lanka
Bendera Venezuela Venezuela
Bendera Zimbabwe Zimbabwe
[tampilkan]
l • b • s
Kelompok 20 Negara Ekonomi Dunia Utama (G-20)
Negara anggota
Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · Flag of the United States.svg Amerika Serikat · Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi · Flag of Argentina.svg Argentina · Flag of Australia.svg Australia · Flag of Brazil.svg Brasil · Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya · Flag of the People's Republic of China.svg RRC · Flag of India.svg India · Flag of Indonesia.svg Indonesia · Flag of Italy.svg Italia · Flag of Japan.svg Jepang · Flag of Germany.svg Jerman · Flag of Canada.svg Kanada · Flag of South Korea.svg Korea Selatan · Flag of Mexico.svg Meksiko · Flag of France.svg Perancis · Flag of Russia.svg Rusia · Flag of Turkey.svg Turki · Flag of Europe.svg Uni Eropa
Tuan rumah
1999: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2000: Montreal, Flag of Canada.svg Kanada · 2001: Ottawa, Flag of Canada.svg Kanada · 2002: Delhi, Flag of India.svg India ·
2003: Morelia, Flag of Mexico.svg Meksiko · 2004: Berlin, Flag of Germany.svg Jerman · 2005: Beijing, Flag of the People's Republic of China.svg RRC · 2006: Melbourne, Flag of Australia.svg Australia ·
2007: Cape Town, Flag of South Africa.svg Afrika Selatan · 2008: São Paulo, Flag of Brazil.svg Brasil · 2009: London, Flag of the United Kingdom.svg Britania Raya
[tampilkan]
l • b • s
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN)
Sekretaris Jenderal: Bendera Thailand Surin Pitsuwan
Flag of Brunei.svg Brunei
Flag of Malaysia.svg Malaysia
Flag of the Philippines.svg Filipina
Flag of Myanmar.svg Myanmar
Flag of Indonesia.svg Indonesia
Flag of Singapore.svg Singapura
Flag of Cambodia.svg Kamboja
Flag of Thailand.svg Thailand
Flag of Laos.svg Laos
Flag of Vietnam.svg Vietnam
Piagam - Kawasan Perdagangan Bebas
Pemantau: Flag of Papua New Guinea.svg Papua Nugini • Flag of East Timor.svg Timor Leste
LinkFA-star.png
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"
Kategori: ASEAN | Indonesia | Negara di Asia Tenggara
Tampilan
* Artikel
* Pembicaraan
* Lihat sumber
* Versi terdahulu
Peralatan pribadi
* Coba Beta
* Masuk log / buat akun
Cari
Navigasi
* Halaman Utama
* Perubahan terbaru
* Peristiwa terkini
* Halaman sembarang
Komunitas
* Warung Kopi
* Portal komunitas
* Bantuan
wikipedia
* Tentang Wikipedia
* Pancapilar
* Kebijakan
* Menyumbang
Cetak/ekspor
* Buat buku
* Unduh sebagai PDF
* Versi cetak
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Halaman istimewa
* Pranala permanen
* Kutip halaman ini
Bahasa lain
* Acèh
* Afrikaans
* Alemannisch
* Aragonés
* العربية
* مصرى
* অসমীয়া
* Asturianu
* Azərbaycan
* Башҡорт
* Žemaitėška
* Bikol Central
* Беларуская
* Беларуская (тарашкевіца)
* Български
* বাংলা
* བོད་ཡིག
* ইমার ঠার/বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী
* Brezhoneg
* Bosanski
* ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
* Català
* Cebuano
* Qırımtatarca
* Česky
* Kaszëbsczi
* Словѣ́ньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ
* Чӑвашла
* Cymraeg
* Dansk
* Deutsch
* Zazaki
* ދިވެހިބަސް
* Ελληνικά
* English
* Esperanto
* Español
* Eesti
* Euskara
* Estremeñu
* فارسی
* Suomi
* Na Vosa Vakaviti
* Français
* Arpetan
* Frysk
* Gaeilge
* 贛語
* Gàidhlig
* Galego
* ગુજરાતી
* Gaelg
* Hak-kâ-fa
* Hawai`i
* עברית
* हिन्दी
* Fiji Hindi
* Hrvatski
* Hornjoserbsce
* Kreyòl ayisyen
* Magyar
* Հայերեն
* Interlingua
* Interlingue
* Ilokano
* Ido
* Íslenska
* Italiano
* 日本語
* Lojban
* Basa Jawa
* ქართული
* Қазақша
* ភាសាខ្មែរ
* ಕನ್ನಡ
* 한국어
* Kurdî / كوردی
* Коми
* Kernowek
* Кыргызча
* Latina
* Lëtzebuergesch
* Limburgs
* Líguru
* Lumbaart
* Lingála
* Lietuvių
* Latviešu
* Basa Banyumasan
* Malagasy
* Māori
* Македонски
* മലയാളം
* Монгол
* मराठी
* Bahasa Melayu
* မြန်မာဘာသာ
* مَزِروني
* Dorerin Naoero
* Nāhuatl
* Nnapulitano
* Plattdüütsch
* Nedersaksisch
* नेपाल भाषा
* Nederlands
* Norsk (nynorsk)
* Norsk (bokmål)
* Novial
* Diné bizaad
* Occitan
* Иронау
* Kapampangan
* Papiamentu
* Norfuk / Pitkern
* Polski
* Piemontèis
* پنجابی
* Português
* Runa Simi
* Rumantsch
* Română
* Armãneashce
* Русский
* संस्कृत
* Саха тыла
* Sicilianu
* Sámegiella
* Sängö
* Srpskohrvatski / Српскохрватски
* Simple English
* Slovenčina
* Slovenščina
* Soomaaliga
* Shqip
* Српски / Srpski
* Seeltersk
* Basa Sunda
* Svenska
* Kiswahili
* Ślůnski
* தமிழ்
* తెలుగు
* Tetun
* Тоҷикӣ
* ไทย
* Türkmençe
* Tagalog
* Tok Pisin
* Türkçe
* Татарча/Tatarça
* Удмурт
* Uyghurche / ئۇيغۇرچە
* Українська
* اردو
* Vèneto
* Tiếng Việt
* Volapük
* Winaray
* Wolof
* 吴语
* ייִדיש
* Yorùbá
* 中文
* 文言
* Bân-lâm-gú
* 粵語
Powered by MediaWiki
Wikimedia Foundation
* Halaman ini terakhir diubah pada 06:41, 7 April 2010.
* Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
* Kebijakan privasi
* Tentang Wikipedia
* Penyangkalan
Langganan:
Komentar (Atom)