google-site-verification: google50d34473960e8a7f.html Cakrawala Budaya: Sedekah Gunung

Wedding

Wedding in Watamu
A dream come true location for your wedding celebration

Selasa, 12 Mei 2009

Sedekah Gunung

RITUAL SEDEKAH PERBUKITAN MENOREH ; Napak Tilas di Sendang Prajurit Diponegoro
WARGA Dusun Miriombo Wetan, Desa Giripurno, Kecamatan Borobudur, Magelang, menggelar Sedekah Gunung Mongkrong Selasa (26/2).
“Tradisi yang sudah turun temurun itu, dilakukan sebagai ungkapan syukur, sekaligus berdoa kepada yang Maha Kuasa memohon kemakmuran warga di lereng Gunung Mongkrong di perbukitan Menoreh,” kata Maryanto Kepala Desa Giripurno yang ditemui KR di sela-sela acara.
Acara didahului dengan ziarah kubur, di makam-makam leluhur pada Senin siang (25/2) kemarin. Malamnya, dilanjutkan tirakatan di rumah salah satu warga yang diteruskan dengan ritual di Watu Adeg dan Gunung Suroloyo hingga Selasa dini hari.
Pagi harinya, dipimpin 9 tokoh masyarakat Dusun Miriombo Wetan, di antaranya Mbah Notodohardyo, Mbah Wiryo Atmo, Kamijan, Hadi Suyitno, Pangat, Wahono dan yang lain, melakukan ritual napak tilas di Sendang Sabrang. Sendang Sabrang sendiri, konon merupakan tempat pemberhentian dan persembunyian prajurit Pangeran Diponegoro sebelum menuju Gua Selarong Bantul.
Di tempat itu, mereka melakukan acara ritual. Dimulai membaca geguritan dan tembang ‘Urip Suci’ oleh Hadi Suyitno. Selanjutnya, Kamijan salah satu tetua dusun mengambil air sendang untuk dimasukkan ke dalam kendi, kemudian diarak keliling dusun.
Dalam arak-arakan itu, ikut juga sebuah kursi kencana yang dipikul empat orang pemuda. Sebuah sesaji yang berisi nasi tumpeng, aneka jajan pasar dan beberapa masakan lain. Di belakang arak-arakan, ikut juga beberapa pengisi acara seperti kuda lumping anak-anak, jatilan, lengger dan yang lain. Arak-arakan berhenti di rumah Wiryo Sunoto Kepala Dusun Miriombo Wetan, tempat dilakukan pentas seni dan kenduri atau ‘walimahan’. Sementara Maryanto Kepala Desa Giripurno ditemui KR di sela-sela acara mengatakan, bahwa acara Sedekah Gunung Mongkrong, sebenarnya sudah menjadi tradisi turun temurun. Namun pada tahun ini, tradisi itu dilakukan sedikit lebih meriah dengan mengadakan arak-arakan dan pentas sejumlah kesenian tradisional. “Pada tahun-tahun lalu, warga hanya melakukan sembahyang dan ritual di sekitar Sendang Sabrang saja. Namun khusus pada tahun ini, dilakukan dengan arak-arakan dan pentas seni,” ujarnya.
Dibenarkan Sucoro, Ketua Warung Info Jagad Cleguk Borobudur, bahwa tradisi Sedekah Gunung Mongkrong itu memang tidak pernah diselenggarakan dengan meriah. Pasalnya, kondisi ekonomi warga pada waktu lalu sedang terpuruk. “Baru pada saat ini, kami bersama warga dusun mulai menggali dan menyelenggarakan tradisi itu dengan disertai prosesi arak-arakan dan pentas sejumlah kesenian tradisional,” kata Sucoro yang juga Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya Kecamatan Borobudur itu. (Bagyo Harsono)-z

Tidak ada komentar: